viral

loading...

Thursday, May 3, 2018

Sejarah Pasek Bendesa

Sejarah Pasek Bendesa Mas di Bali

Ladang Informasi - Panca Pandita, Mpu Geni Jaya beserta adik-adiknya Mpu Semeru, Mpu Kuturan, Mpu Pradah dan Mpu Gana merupakan panca pandita dari Jawa Dwipa yang pada suatu ketika menghadap Raja Airlangga di Kerajaan Kediri. Kedatangan mereka adalah terutama untuk membina pulau Bali atas perintah Bhatara Paçupati. Yang meneruskan perjalanan ke pulau Bali tersebut adalah:
  1. Mpu Semeru menetap di Besakih.
  2. Mpu Gana di Dasar Bhuwana, Gelgel.
  3. Mpu Kuturan di Çilayukti, Padang.

Yang tinggal di Jawa adalah: Mpu Pradah di Pajarakan, Kediri dan Mpu Genijaya.
Mpu Geni Jaya (1157) mempunyai 7 putera (Sapta Pandita) yang tinggal di Kuntuliku, Jawa Timur. 

Dalam tahun 1157 Mpu Geni Jaya pergi ke Bali untuk mengunjungi adik-adiknya lalu menetap di Gunung Lempuyang. Pada saat kedatangan Mpu Gnijaya, Bali diperintah oleh Gajah Waktra (raja Bali Kuno terakhir) beserta pepatihnya Kebo Iwa dan Pasung Gerigis memerintah Bali pada tahun 1337-1343. Kemudian Bali di serang dan di taklukan oleh patih Gajah Mada dari Majapahit. Setelah perang, Mpu Jiwaksara yaitu generasi ke-6 dari Mpu Geni Jaya diangkat menjadi puncuk pimpinan pemerintahan Majapahit di Bali dengan gelar Patih Wulung. Ayahnya, Mpu Wijaksara juga ikut ke Bali dan merupakan pendeta pertama dari Majapahit yang mengatur tata keagamaan di Bali setelah Bali jatuh ke tangan Majapahit (babad Bendesa Manik Mas,1996:102).
 
Logo Pasek Bendesa
Logo Pasek Bendesa Mas di Bali
Pada tahun 1350 Patih Wulung (Mpu Jiwaksara) berangkat ke Majapahit untuk memberi laporan kepada Ratu Majapahit yakni Tri Buana Tungga Dewi tentang keadaan di Bali dan sekaligus mohon supaya cepat diangkat seorang raja di Bali sebagai wakil pemerintahan Majapahit. Akhirnya diangkatlah salah satu putra dari Danghyang Kepakisan, yaitu Dalem Ketut Kresna Kepakisan menjadi raja di Bali, berkedudukan di Samplangan yang dalam perkembangannya pindah ke Gelgel (Kabupaten Kelungkung sekarang).

Berselang beberapa tahun, Sri Kresna Kepakisan ingin mempersatukan Blambangan dan Pasuruan yang dikuasai kakaknya, yaitu Dalem Wayan dan Dalem Made dengan kerajaan Bali. Penyerangan dilakukan ke Pasuruan dibawah pimpinan Patih Wulung. Sri Kresna Kepakisan berpesan agar sang kakak jangan sampai dibunuh. Namun, dalam perang tanding antara Patih Wulung dan Dalem Pasuruan, yang terakhir ini terkena senjata yakni Dalem Pasuruan yang pada akhirnya menyebabkan ia gugur.

Setelah patih Wulung dengan pasukannya kembali ke Bali dan melaporkan jalannya peperangan yang berakhir dengan gugurnya Dalem Pasuruan, Sri Kresna Kepakisan menjadi sangat marah lantaran Patih Wulung telah melanggar pesannya sebagai tersebut di atas. Patih Wulung diusir dari Gelgel setelah dibekali beberapa sikut tanah dan beberapa ratus prajurit. Di samping itu juga diberi gelar Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas. Patih Wulung pindah ke Bali Tengah yang kemudian disebut Bumi Mas kira-kira dalam tahun 1358.
Ki Patih Wulung atau Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas mempunyai 2 putra, yaitu:
Putra pertama adalah Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas II (nantinya akan menurunkan warga pasek Bendesa yang tersebar di seluruh Bali) yang menetap di Desa Mas dan menurunkan:

  1. Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas (III),
  2. Gusti Luh Made Manik Mas,
  3. Gusti Luh Nyoman Manik Mas Genitri, yang kemudian diperistri oleh Danghyang Nirartha.
Nama Bendesa Mas tetap tercantum sebagai pengenal garis keturunan. Dari sinilah menurun para Bendesa Mas yang tersebar di seluruh Bali antara lain di Gading Wani. Putra kedua dari Patih Wulung adalah Kiyai Gusti Pangeran Semaranata, menetap di Gelgel dan menurunkan Gusti Rare Angon, leluhur dari Kiyai Agung Pasek Gelgel.

Perlu diketahui istilah Pasek berasal dari istilah kata pacek yang berarti pejabat dan semua pegawai kerajaan dari Perdana Menteri, Panglima Perang, Prajurit dan pegawai lainnya adalah pejabat. Namun, dalam perkembangan selanjutnya istilah pasek sering dipakai untuk menunjukan asal-usul seseorang/kawitan dari keluarga atau leluhur mana ia berasal dan pemaknaan seperti inilah yang sekarang sering digunakan di Bali walaupun ditinjau lebih lanjut dari segi historis dan etimologisnya pemakain istilah tersebut tentunya sudah melenceng jauh.
Telah ditemukan prasasti di Pura Bendesa Manik Mas di Desa Tulikup, Kec. Gianyar Timur yang salah satu isinya bahwa Istri Ki Pati Wulung/Rsi Jiwaksara adalah adiknya Ratu Majapahit Tri Buwana Tungga Dewi yang bernama Ratu Wulan Sari yang juga ditaksir oleh Dalem Ketut Kresna Kepakisan (yang diusulkan oleh Ki Pati Wulung utk menjadi Raja di Gelgel, Kelungkung). Waktu itu sepertinya ada "Cinta Segi Tiga" tetapi Ratu Wulan Sari memilih Ki Pati Wulung menjadi suaminya. Astungkara Prasasti yang asli masih tersimpan di Tulikup, sudah diterjemahkan oleh Petugas Mesium Bali di Denpasar.
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa leluhur utama dari Pasek Bendesa Mas yang sekarang berkembang di Bali adalah berasal dari Mpu Jiwaksara yang merupakan generasi ke-6 dari Mpu Genijaya. Pada saat awal pemerintahan Majapahit di Bali, Mpu Jiwaksara diangkat sebagai seorang patih dengan gelar Patih Wulung. Namun, karena kesalahannya ia kemudian diusir dari Keraton (Gelgel) dan diberikan sebuah daerah di daerah Bali Tengah yaitu sebuah daerah yang dikenal dengan nama Mas (kemudian menjadi desa Mas). Patih Wulung sendiri memilki 2 orang putra yang pertama bernama Ki Pangeran Bendesa Manik Mas II (ikut tinggal di desa Mas) dan yang kedua adalah Ki Gusti Pangeran Semaranata (menetap di Gelgel). Dari putra pertama inilah nantinya yang akan menurunkan warga Pasek Bendesa yang kemudian menyebar ke seluruh Bali.

No comments:

Post a Comment