viral

loading...

Wednesday, May 16, 2018

Samãdhi Pãda


Hakekat Penyatuan Diri

Ladang InformasiSamãdhi Pãda tersusun dalam 51 sutra, yang memaparkan tentang landasan spiritual-filosofis Yoga, hakekat dari penyatuan dan hakekat ketuhanan dalam Yoga. Dalam bagian ini akan banyak kita temukan paparan yang menyangkut intisari keimanan Hindu, yang juga berhampiran dengan Buddha, serta penerangan yang amat bersesuaian dengan Upanishad-upanishad dan Veda Sruti. Dari bagian ini pula, bila kita cermati, kesinambungan antara Sanhkya Darsana dan Vedanta terjembatani dengan Shastrãgama-shastrãgama lain. Pãda ini merupakan pembuka yang berisikan pembekalan dalam tahap persiapan, sebagai landasan pijak dan kerangka dasar seorang sadhaka, seorang penekun di jalan spiritual.
Hakekat Penyatuan Diri
Salah satu bentuk usaha penyatuan diri
Samãdhi Pãda menjelaskan beberapa jenis Samãdhi sesuai dengan tersisa atau tidaknya objek di dalam Samãdhi, yang dicapai bersama dengan terhentinya pusaran-pusaran pikiran. Kaivalya, yang merupakan isu sentral dari Yoga Sutra ini, hanya dicapai melalui Nirvikalpa atau Nirbija Samãdhi. Walaupun demikian, jenis pencapaian lain tetap merupakan pencapaian tinggi yang merupakan penghampiran pra yang tertinggi. Pembekalan mendasar, seperti ketidak-melekatan (vairagya) dan pembiasaan laku-spiritual (Abhyasa) juga diberikan, sebelum seorang sadhaka benar-benar terjun dalam praktek kehidupan spiritual secara intens.Yoga adalah upaya penghentian pusaran-pusaran batin yang menghalangi pancaran citta (Citta Vritti Nirodha). Dengan demikian citta yang terfungsikan sebagai si pengamat, hanya bersandar pada kondisinya sendiri (svarupa) yang jernih; sedangkan, pada waktu-waktu lainnya umumnya si pengamat mempersamakan dirinya dengan pusaran-pusaran batinnya tersebut (Vritti Sarupya). (Yoga Sutra I.1 - I.4)


Yoga Sutra dibuka oleh Rsi Patanjali dengan empat aphorisma pendek nan padat makna ini. Dari sutra I.1 hingga I.4 ini, kita diperkenalkan pada Yoga, kondisi umum batin manusia dan apa yang dapat diperbuat untuk itu. Sangat mendasar penjelasan dalam empat sutra ini.

Manusia, makhluk berakal-budi, teranugerahi manas (pikiran) dalam kelahirannya. Dari manas inilah lahir kata manussa atau manusya yang kemudian diadopsi menjadi manusia dalam bahasa Indonesia, man dan mind dalam bahasa Inggris. Jadi, bagi keberadaan manusia, manas menduduki posisi sentral yang merupakan esensi dari keberadaanya. Ia merupakan perabot ampuh manusia untuk bertahan hidup, yang membedakannya dengan makhluk bumi lainnya.
Rsi Chanakya menegaskan:
“Mana eva manushyãnam kãranam bandha Moksayoh”yang artinya:”bagi manusia, manas-lah yang menyebabkan perbudakan pun pencapaian Moksa.”

Dalam hirarki Sankhya, manas menduduki posisi kunci di bawah keakuan atau asmita. Vedanta menyebutnya ahamkara. Intelek, nalar, kecerdasan atau buddhi berada pada tataran yang lebih tinggi dari pikiran, dan dapat dipandang sejajar dengan keakuan. Sedangkan citta yang sering juga dimaksudkan sebagai kesadaran atau pikiran jernih, berada di atas buddhi dan asmita. Citta masih terbilang sejajar dengan Triguna (sattvam, rajas dan tamas), tiga kekuatan Prakriti, namun belum terpengaruhi olehnya. Citta turunan langsung dari Purusha, yang merupakan hakekat yang berlawanan dan berpasangan dengan Pradhana atau Prakriti. Dari Pradhana inilah triguna berasal.

Segera setelah citta dipengaruhi triguna dan didominasi oleh sattvam, maka ia tidak lagi sebagai citta yang jernih, melainkan sebagai buddhi. Dan bila citta dipengaruhi dan didominasi oleh rajas dan tamas, maka terlahirlah asmita atau ahamkara. Ahamkara inilah yang membawahi dan menggerakkan pikiran manusia, dimana relatif amat jarang buddhi ikut campur didalam ‘pemerintahan’ ini. Dalam melayani ahamkara, pikiran dan perasaan menjadi sibuk, bergolak, menggelora, berpusar, berubah-ubah, terombang-ambing, memunculkan berbagai bentuk-bentuk pemikiran dan emosi; ia ada dalam kondisi Vritti.

Konyolnya adalah, dalam ketidak-tahuan (Avidya) manusia mengidentifikasikan-dirinya sebagai Vritti-Vritti tersebut; sebagai ‘Vritti sarupya’. Manakala dominasi asmita terhadap pikiran dapat direbut oleh buddhi, kondisi atau sifat sattvik yang luhur mulai menyinarinya. Buddhi telah mendekati citta, sehingga jauh lebih mudah menerima pancaran citta yang murni, lewat mana Purusha memancarkan cahaya di dalam batin manusia.

Demikianlah idealisasi ‘pemurnian cittaRsi Patanjali yang juga tersirat pada bagian awal karya agung ini.


Lima Jenis Modifikasi Batin dan Tiga Proses Penalaran

Modifikasi-modifikasi batin (Vritti) ada lima jenis, baik yang menyedihkan maupun yang tidak menyedihkan: penalaran yang baik (pramana), kekeliruan (viparyaya), imajinasi (Vikalpa), tidur (nidra) dan ingatan (Smrti).

Pengamatan melalui pengalaman langsung (pratyaksa), penyimpulan terhadap gejala-gejala yang teramati (anumana) dan penegasan para bijak dan kitab-kitab ajaran (agama), membentuk suatu rangkaian atau metode penalaran yang baik dan handal.

Pengetahuan yang diperoleh tanpa mengabaikan terlebih dahulu kekeliruan (viparyaya), imajinasi (Vikalpa) serta ingatan-ingatan (Smrti) yang samar dan terbatas, tidak layak dipercaya sebagai suatu pengetahuan yang sahih (Vidya), dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan objektivitas dan kebenarannya. Ia tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan samasekali (Avidya). Sutra-sutra ini menekankan hal ini.

Sementara pengetahuan diperoleh lewat tiga rangkaian proses, yang masing-masing daripadanya disebut pramana. Ketiganya merupakan suatu rangkaian proses yang saling isi-mengisi dan melengkapi dalam bekerjanya, dimana yang satu dilanjutkan, dikuatkan dan dilengkapi oleh yang lainnya. Dalam mengamati, mencermati guna memperoleh pengetahuan, Tri Pramana adalah jalannya.

Mengamati langsung dengan cermat fenomena-fenomena di luar ataupun di dalam, melahirkan pengalaman. Melalui pengamatan terhadap objek yang sama secara berulang-ulang, banyak pengalaman yang diperoleh. Pengalaman disini bisa berupa pengalaman fisik, non-fisik maupun meta-fisik. Endapan pengalaman-pengalaman inilah yang tersimpan berupa kesan-kesan mental yang membentuk ingatan (Smrti); mereka serupa dengan kesan-kesan mental (samskara). Smrti akan semakin kuat bila pengalaman yang sama dialami secara berulang-ulang. Dari fenomena batiniah ini terlahir metode Japa, pelafalan sebait mantra pendek secara berulang-ulang. Semua proses empiris ini disebut pratyaksa pramana. Mungkin sekali kata ‘praktek’ maupun ‘praktis’, berasal dari kata pratyaksa ini.

Pengetahuan juga bisa diperoleh dari mendengar penjelasan sumber-sumber yang otentik dan layak dipercaya, maupun kitab-kitab yang terpercaya. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara inilah yang disebut agama atau sabda pramana, pengetahuan dari sabda-sabda suci para Guru-guru suci penerima wahyu yang tertuangkan ke dalam kitab-kitab suci.

Namun, walaupun tak ada Guru suci atau kitab suci yang didengar atau dibaca, melalui pengalaman empiris (pratyaksa), analogi, perumpamaan ataupun pemodelan (upamana) serta membandingkannya dengan pengalaman-pengalaman sejenis lainnya serta analisa secukupnya, dapat pula dilahirkan sebentuk pengetahuan. Proses penyimpulan ini disebut anumana. Masuknya upamana (pengumpamaan atau analogi) dalam pramana sehingga menjadikannya empat pramana, Catur Pramana diajukan oleh Rsi Gautama dalam Nyaya Darsana-nya. Menurut beliau, masih ada 4 aspek substantif yang mengkondisikan atau yang terkandung dalam proses penalaran, yakni: (i) subjek (pramata), (ii) objek (prameya), (iii) keadaan hasil amatan (pramiti) dan cara mengetahuinya (pramana).

No comments:

Post a Comment