Artikel

loading...

Tuesday, May 29, 2018

Memaknai Hari Raya Galungan


Hari Raya Galungan

Ladang Informasi – Hari raya Galungan dirayakan 210 hari sekali atau selama 6 bulan sekali, karena hari raya ini menggunakan perhitungan Pawukon (Wuku), yaitu jatuh pada Hari Rabu (Buda) Wage Kliwon Wuku Dungulan.

Banyak dari kita menganggap bahwa hari raya Galungan adalah hari lebarannya umat Hindu, namun tidak semata-mata demikian. Kenapa, karena setiap hari raya dalam konsep agama hindu memiiki makna dan filosofis sendiri. Yang nantinya membuat umat semakin meningkat sradha dan bhaktinya kepada Ida ang Hyang Widhi Wasa.

Bagaimana sebetulnya makna dari hari raya Galungan tersebut?? Apa sesungguhnya tujuan dari pelaksaananya??? Tentu ini sering sekali menjadi pertanyaan dalam hati.
Untuk itu, disini akan dibahas dari rentetan pelaksanaan Hari Raya Galungan.
Galungan dan Kuningan
Hubungan Harmonis dengan alam, akan menjaga keseimbangan manusia dengan alam.

Tumpek Wariga atau Tumpek Uduh

Tumpek wariga diperingati 25 hari sebelum hari raya Galungan, yang memiliki makna ebagai wujud syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kesuburan alam dan perlindungan bagi tanaman yang dimiliki umat Hindu dalam rangka untuk mensejahterakan hidup. Maka pada hari ini umat menghaturkan bhakti di perladangan atau sawah yang biasanya pada tumpek wariga ini, sudah mulai siap dipanen untuk kepentingan hari raya Galungan.

Sugihan Jawa

Sugihan Jawa merupakan peringatan yang dilaksanakan 7 hari sebelum hari raya galungan. Makna dari sugihan Jawa adalah menghaturkan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas terjalinnya hubungan yang harmonis dengan alam semesta (Palemahan), sehingga kita masih dapat hidup dengan normal dan terpenuhi segala unsur hidup dari alam.

Sugihan Bali

Selanjutnya sehari setelah Sugihan Jawa adalah Sugihan Bali, yaitu menyampaikan rasa syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kesehatan dan kesejahteraan untuk insan individual. Disini kita diharapkan mampu mulai mengekang dan melakukan pengendalian diri guna persiapan menghadapai hari raya Galungan. Dikatakan bahwa pada esok harinya sang Tiga Kala Wisesa mulai muncul disekitar kita untuk menggoda manusia. Untuk itu kita harus mengendalikan diri agar tidak dipengaruhi oleh ketiga bhuta kala tersebut.

Penyekeban

Dari arti kata nyekeb, yang artinya menyimpan agar matang, pada hari ini kita diharapkan benar-benar mengendalikan segala hal yang bersifat negatif agar menjadi matang dan siap menghadapi hari raya Galungan.

Penyajaan

Penyajaan berasal dari bahasa Bali, jaja yang artinya kue. Disini sudah mulai berproses, dari adonan, pencetakan dan pemasakan sehingga menjadi kue. Ini adalah simbol bahwa kita harus bisa menyatukan berbagai elemen dari diri kita untuk tujuan yang satu, yaitu hal yang baik. Proses ini tidak mudah, harus digiling, ditumbuk, diayak diadon dan seterusnya sehingga menjadi pulen dan siap untuk dibentuk dan menjadi sesuatu yang berguna.

Penampahan

Demikian juga halnya penampahan, berasal dari kata Tampah yang artinya memotong/menggorok/membunuh. Ini merupakan simbol pembunuhan terhadap segala bentuk sifat-sifat buruk yang terdapat dalam diri kita. Sad ripu, sad atatayi, sapta timiria dan sebagainya. Semua itu dibunuh agar tidak menguasai diri kita dan menjerumuskan kita dalam jurang neraka kita. Orang Bali sendiri, menyimbolkan dengan memotong hewan seperti Babi yang merupakan penggambaran sifat malas dan kotor, kemudian ayam yang merupakan lambang sifat rajas, agresif dan suka bersifat kasar.

Galungan

Ini adalah puncak dari perayaan Galungan, setelah kita mampu melewati rentetan di awal, maka kita mulai menghadap atau menyatukan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa bahwa kita telah suci lahir dan bhatin.

Pemaridan atau Umanis Galungan

Dilanjutkan dengan Umanis Galungan, kita disimbolkan telah memperoleh anugerah dan kita sebarkan anugerah itu untuk khalayak ramai yang hidup berdampingan dengan kita, baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Dan ini biasanya digunakan oleh umat Hindu untuk melakukan anjangsana ke sanak family dan tetangga.

Kuningan

Sepuluh hari setelah hari raya Galungan adalah hari raya kuningan, yang dapat dimaknai untuk mengingatkan kita kembali bahwa kita telah suci lahir dan bhatin agar jangan kembali terlena dan terjun ke dalam hal yang tidak baik.

Pegatwakan

Ini adalah penggambaran ita telah menyelesaikan segala bentuk prosesi untuk menjadikan kita insan yang suci dan siap untuk menhadapi kehidupan di dunia maya ini yang penuh dengan tantangan dan godaan.

Demikian sedikit uraina mengenai makna dari pelaksanaan Hari Raya Galungan yang dipersepsikan dari berbagai sumber.

Wednesday, May 23, 2018

Penampahan Galungan


Makna dan Fiosofis Hari Penampahan Galungan

Ladang Informasi - Penampahan adalah salah satu rentetan pelaksanaan hari raya Galungan yang memiliki makna yang sangat penting bagi kita. Hari Penampahan Galungan jatuh pada hari Selasa (Anggara), Wage Wuku Dungulan. Menurut Lontar “Sastra Sunarigama” pada hari penampahan ini, umat Hindu melaksanakan Penyomyaan atau menetralisir kekuatan Sang Kala Tiga supaya kembali ke sumbernya menjadi Kala Hita, dari Bhuta Hita ke Dewa Hita yaitu unsur-unsur negatif ke unsur-unsur positif melalui pelaksanaan upacara tebasan penampahan.
 
makna dan filosofis Penampahan Galungan
Krame sedang melaksanakan pemotongan babi
Kata penampahan berasal dari kata “nampah atau nampeh” kemudian menjadi “nampa” yang berarti mempersembahan. Dari kata nampa menjadi namya yang artinya sembah. Dengan demikian penampahan ini dimaksudkan adalah mengembalikan ke sumbernya atau di somya (kamus Kawi-Bali). Tetapi ada pula yang mengartikan kata “nampah” itu sembelih karena pada hari ini umat Hindu Bali banyak menyembelih babi atau symbol dari kemalasan untuk dipakai sesaji lawar dan sate untuk dipersembahkan kepada sang kala tiga amangkurat.

Pada hari penampahan inilah merupakan hari turunnya dari Sang Kala Tiga yang paling sangat keras dan sangat ganas yang berupa Sang Kala Tiga Amangkurat, yang dapat menggoda manusia apabila kita kurang mauawaspada, sehingga dapat menimbulkan pertengkaran, kesedihan dan kekacauan yang bertentangan dengan dharma.

Oleh karena itulah upacara tebasan penampahan merupakan hal yang sangat penting sehubungan rangkaian Galungan, karena memiliki tujuan untuk menetralisir kekuatan-kekuatan yang bersifat Asuri sampad, baik untuk Bhuwana Agung maupun itu Bhuwana Alit, agar menjadi kekuatan Daiwi Sampad (sifat kedewataan), sehingga dapat menjaga keseimbangan keselarasan dan keserasian antara Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, sekala niskala dan secara fisik dan mental, sehingga Dharma dapat ditegakkan.

Disamping itu, filosofis Nampah dalam kata Penampahan adalah “membunuh”, apa yang kita bunuh? Yang kita bunuh itu adalah sifat-sifat negatif yang ada dalam diri kita, seperti sifat malas, suka berkelahi, iri dan dengki dan sebagainya. Hal ini yang kemudian disimbolkan dengan membunuh hewan, seperti babi dan ayam.

Waktu Pelaksanaan Hari Raya Penampahan Galungan:
Pelaksanaan upacara dilakukan biasanya pada Dauh Tiga atau sekitar Pk.12.00 siang hari, atau disebut juga dengan Dauh Sandi Kala, dan juga pada Dauh empat yaitu sekitar Pk.17.30 sore, disebut dengan Dauh Sandi Kawon.

Tempat Pelaksanaan Upacara

Pelaksanaan upacara ini dilakukandi halaman rumah (ditengah-tengah natah), yang merupakan simbul dari madyaning mandala sebagai titik episentrum dari kekuatan Sang Kala Bhucari.

Upakara-upakaranya

  1. Untuk upakara untuk di pekarangan rumah, halaman rumah dan pintu masuk/lebuh, berupa segehan agung dan nasi sasah berwarna putih 5 tanding, hitam 4 tanding dan merah 9 tanding dengan berisi lengkap dengan olahan daging babi berupa urab-uraban putih-merah, dilengkapi dengan canang genten, canang biasa, tirta/toya anyar, dupa dan tetabuhan, dan tebasan penampahan.
  2. Untuk pebersihannya dari anggota keluarga berupa : Byakala, Prayascita dan Sesayut Pemiyak kala.
  3. Penjor yang lengkap memakai sanggah, sampyan, lamak, serta gantung-gantungan, tetandingan dengan pala bungkah, pala gantung, jajan dan hiasan.

Pelaksanaan Upacara

Bhuta Yadnya, berupa segehan agung di pekarangan rumah, halaman rumah dan di lebuh, dihaturkan pada siang hari ( setelah selesai memasak olahan babi atau apapun itu), ditujukan pada Sang Bhuta Kala Amangkurat/ Sang Kala tiga, bertujuan untuk nyomya/ mengembalikan beliau ketempat asalnya semula, dengan permohonan supaya menghentikan bermacam godaannya dan memberikan keselamatan pada manusia dalam melanjutkan perjuangan hidupnya untuk menegakkan Dharma.
Bhuta Yadnya yang dilaksanakan berupa: Byakala, Prayascita, Sesayut Pemiyak Kala, dilaksanakan pada sore hari (pada sandi kawon), yang ditujukan pada Sang Kala Tiga, kemudian dilanjutkan natab pembersihan dengan lis senjata-senjata banten pareresikan itu yang dipakai bekerja mensucikan dalam rangka Galungan, dan selanjutnya kepada semua anggota keluarga, kecuali yang masih kecil (belum tanggal gigi). upacara ini bertujuan untuk memohon pembersihan dan penyucian dari unsur-unsur para bhutaNya Sang Kala Tiga. Upacara ini diakhiri dengan ngayab dan natab, yaitu menghaturkan dan memohon bersama-sama agar dilimpahkan karunia berupa keselamatan untuk semua anggota keluarga.

Dudonan

  • Magegelaran
  • Ngajum Tirta Pareresikan :Byakala, Durmanggala, Prayascitta, Pangulapan, Tepung Tawar, Lis, disesuaikan.
  • Ngelukat Banten.
  • Mlaspas dan Ngurip Banten
  • Ngadegan Banten.
  • Puja Upesaksi Yadnya : Surya, Akasa, Pertiwi, Ista Dewata /Tiga Guru, Saraswati dan Durga stawa.
  • Ngadegin Bhtara puja sonteng lan pranamya.
  • Ngaturang Pasucian Krik Keramas : Pasucian/ Hyastu, Tigasan, Puspa, Tirta dan Panyeneng.
  • Nganteb Banten Sorohan : a. Sang Kala Tiga, b. Sesayut/ Ayaban, c. Tri Bhuwana stawa, d. Pamuktian Dewa dan Bhuta. e. Peras, f. Pertiwi, g. segehan.
  • Pamuspan, Kramaning sembah.

Untuk Tata Pelaksanaan dan Dudonan, disesuaikan dengan upakara yang digunakan sama dengan Dudonan Sugihan atau yang lainnya, kemudian untuk pangastawa Ista Dewatanya dipakai Pangastawa “Tiga Guru, Samodaya dan Durga Astawa”, dan untuk Sesonteng dan Sesayutnya seperti yang dicontohkan berikut ini :

Puja Sesonteng

Om Nastuti pukulun paduka Bethara Sang Hyang Tiga Wisesa, angadeg sira ring madyapada, saksinan pangubaktin pinakengulun, angaturaken tadah saji pawitra saprekara ning tinebasan, anebas ana sarwa lara wigna, geleh pateleteh ri sariran…(nama kel)
Asung kertha wara nugraha paduka Bethara anurun ana tirtha saking akasa, menadya tirtha panglukatan pengeleburan dasa malaning manusa, matemahan sudha nirmala ya namah swaha, Om sriyam bhawantu, purnam bhawantu, sukham bhawantu ya namah.

Pengastawa Sang Kala Tiga

SA, BA, TA , A, I, NAMAH SWAHA. Om indah ta kita Sang Kala Tiga , mijil sira saking Tri Bhuwana sekala niskala, Bhuana Agung kelawan Bhuana Alit, mari sira mona, mapupul sira kinabehan, ajakan kala wadwan sira saksinan manusanira, apaweha sira tadah saji sanggraha, maka sega brumbun, maiwak olahan bawi rateng, iki tadah sajinira, sama suka sama lolia sira, wus ta kita anadah saji, ingsun aminta kawisesan ta, aja sira kari angadakaken drewala-drewali, lara roga, wighna, agawe sira walik, sehananing JOTI, matemahan jati, ngeraris ta sira amuktisari, aja lupa aja lali ring tutur Sang Hyang Dharma, sumurupa sira menadi Dewata, pasang sarga ta sira ring Bhatara Siwa, ONG, ING, NAMAH

Memercikkan tirtha bayakawonan dan prayascita ke upakara, mantra :

Ong Jala Sidhi Maha Sakti, Sarwa Sidhi Maha Tirtha
Siwa Tirtha Manggala Ya, Sarwa Papa Winasanam
Ong, Sidhir astu Ya namah Swaha.

Ngaturang ayaban, Mantra :

Om, Sang Hyang Sapta Petala, Sang Hyang Panca Korsika Gana, Sang Hyang Panca Rupa, mekadi Sang Hyang Tri Pramana amageh aken ring sthanan nira sowing-sowang ri sang Tinamben-amben, Om Dirgayusa Ya namah swaha Om, Bhuta piyak, Kala piyak, Pisaca piyak, teka piyak pada piyak 3x. Ongkara Muktyayet sarwa peras presida sudha nirmala ya namah swaha
Mantra penyomya Bhuta :
A,Ta, Sa, Ba, I Sarwa Bhuta Kala Musswah Wesat, Ah…Ang

Mantra pangramped :

Om, Jala Sidhi Maha Sakti, Sarwa Sidhi Maha Tirtha,
Siwa Tirtha Manggala ya, Sarwa karya presidantu,
Om, Sidhi rastu tad astu astu ya namah swaha.
Atau menggunakan Tri Buwana Astawa

Mengucapkan mantra Penyomya Dewa (sebagai penutup)

Ung, Ang, Mang, Sarwa Dewa Mur Acintya. Suksma ya namah swaha, Ah,…Ang

Demikian bebrapa rentetan kegiatan di saat Hari Penampahan Galungan yang mestinya umat Hindu laksanakan. Namun seiring dengan perkembangan jaman, banyak yang salah menafsirkan mengenai pelaksanaan hari Penampahan Galungan ini. Pergeseran makna tentang Nampah yang menyebabkan semakin menyimpangnya dari makna sesungguhnya.

Demikian juga dalam pemasangan simbol kemenangan atas ketiga bhuta yang muncul semasa wuku dungulan, hendaknya penjor ditancapkan pada dauh sandya kala setelah pelaksanaan upacara tersebut di atas telah usai. Sehingga dikatakan kemenangan kita sempurna dengan lambang penjor sudah berdiri tegak.

Friday, May 18, 2018

Penerapan Catur Purusa Artha

Penerapan Catur Purusartha untuk Kebahagiaan Rohani


Ladang Informasi - Catur Asrama adalah empat jenjang kehidupan manusia berdasarkan petunjuk kerohanian yang dipolakan untuk mencapai empat tujuan hidup manusia yang disebut Catur Purusa Artha. Masing-masing fase kerohanian di dalam Catur Asrama mempunyai tujuan hidup yang berbeda-beda menurut Catur Purusa Artha. Prioritas penerapan Catur Purusa Artha pada tahapan-tahapan Catur Asrama dapat dipaparkan sebagai berikut :

1. Brahmacari

Brahmacari adalah suatu tingkatan masa hidup berguru untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Jenjang ini merupakan tingkatan pertama yang ditempuh oleh manusia. Pada tahap ‘Brahmacari’ tujuan hidup yang diutamakan mendapatkan Dharma. Pada masa Brahmacari tujuan utama manusia adalah tercapainya dharma dan artha. Seseorang belajar untuk memahami dharma dan dapat mencari nafkah di masa depan. Dharma merupakan dasar dan bekal mengarungi kehidupan berikutnya.

2.  Ghrahasta

Pada tahap hidup ‘Ghrahasta’ yaitu berumah tangga tujuan hidup lebih diutamakan untuk mendapatkan artha dan kama. Grhastha adalah tingkat hidup kedua yaitu masa berumah tangga. Pada masa membangun rumah tangga, manusia harus sudah bekerja dan dapat hidup mandiri. Tingkatan hidup Grhastha diawali dengan upacara perkawinan. Di dalam Nitisastra disebutkan seseorang boleh memasuki Grhasta (masa berumah tangga) setelah berumur 20 tahun. Pada masa Grhastha, tujuan hidup/utama manusia adalah mendapatkan artha dan kama yang dilandasi oleh dharma. Mencari harta benda untuk memenuhi kebutuhan hidup (kama) yang berdasarkan kebenaran (dharma). Seorang Grhastha memiliki kewajiban-kewajiban : bekerja mencari harta berdasarkan dharma, menjadi pemimpin rumah tangga, menjadi anggota masyarakat yang baik dan melaksanakan yadnya, yang semuanya itu memerlukan dana.

3.  Wanaprasta

Pada tahap ‘Wanaprasta’, hidup lebih diutamakan mencari moksa. Hidup pada tahap ini sudah lepas dari kewajiban hidup bermasyarakat dan urusan keduniawian. Wanaprastha adalah tingkatan hidup manusia mulai menyiapkan untuk melepaskan diri dari ikatan keduniawiaan. Masa ini dimasuki setelah orang menyelesaikan kewajiban dalam keluarga dan masyarakat. Pada masa ini orang akan mulai sedikit demi sedikit melepaskan ikatan keduniawian dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan untuk mencapai moksa. Artha dan kama hendaknya kita mulai mengurangi, berkonsentrasi dalam spiritual, mencari ketenangan batin dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan hidup pada masa ini adalah persiapan mental dan fisik untuk dapat menyatu dengan Tuhan (Sang Hyang Widhi), sehingga tujuan hidup ini diprioritaskan kepada kama dan moksa.

4.  Sanyasa

Pada tahap ‘Sanyasa’, hidup lebih diutamakan mencari moksa. Hidup pada tahap ini sudah lepas dari kewajiban dan urusan keduniawian. Bhiksuka atau Sanyasin adalah tingkatan hidup kerohanian yang telah lepas sama sekali dari ikatan keduniawian (Moksa) dan hanya mengabdikan diri kepada Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi). Pada masa Bhiksuka/sanyasin, tujuan hidup manusia yang utama adalah pada situasi di mana benar-benar mampu melepaskan diri dari ikatan duniawi dan sepenuhnya mengabdikan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan jalan menyebarkan ajaran agama.

moksa

Pada masa ini orang tidak merasa memiliki apa-apa dan tidak terikat sama sekali oleh materi serta selalu berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan hidup manusia yang utama pada masa Bhiksuka/sanyasin adalah tercapainya moksa (kebahagiaan yang tertinggi).

Tujuan hidup berlandaskan ajaran Catur Purusartha selain wajib dicapai secara bertahap  berdasarkan  Catur Asrama,  juga  wajib  dicapai  dengan  keahlian  yang dimiliki atau profesionalisme. Yajna Valkya mengajarkan juga ‘Guna Dharma’ yaitu kewajiban untuk melaksanakan dharma sesuai dengan sifat dan bakat yang dimiliki atau dibawa lahir. Dan ‘Warna Dharma’ yaitu kewajiban untuk mengamalkan dharma berdasarkan Warna (Varna Dharma) artinya lapangan pekerjaan masing-masing umat berlandaskan keahliannya. Warna Dharma akan melahirkan Catur Warna, yang membagi masyarakat Hindu menjadi empat kelompok berdasakan profesi secara pararel horizontal. Warna  dalam Kitab Bhagvad Gita dijelaskan sebagai berikut.

“Cātur-varnayam mayā sṛṣþaṁ guṇa-karma-vibhāgasaá, tasya kartāram api mām viddhy akartāram avyayam”.

Terjemahannya:

“Catur varna (empat tatanan masyarakat) adalah ciptaan-Ku menurut pembagian kualitas dan kerja; tetapi ketahuilah bahwa walaupun Aku penciptanya, Aku tak berbuat dan merubah diri-Ku” .
(Bhagavad Gita. IV.13)

Berdasarkan kutipan tersebut, tidak dimuat tentang Wangsa di Bali dan Kasta di India. Sistem warna memberikan kesempatan setiap orang mengembangkan hakikat dirinya mencapai puncak kesempurnaan menuju profesionalisme yang berlandaskan moral religius. Orang akan bahagia apabila dapat bekerja sesuai dengan sifat dan bakatnya yang dibawa sejak lahir.

Sistem warna di Bali, sepertinya tidak ada karena yang ditemukan dan berkembang adalah sistem “Tri Wangsa”. Nampaknya sistem varna dalam agama Hindu di Bali dijadikan Tri Wangsa. Dari perkembangan itulah (Brahmana, Ksatria dan Waisya) menjadi tri wangsa sebagai sebuah sistem tatanan masyarakat Hindu Bali.

Sekarang umat Hindu yang ada di Indonesia, bukan saja bermukim di Bali, tetapi telah tersebar di beberapa kepulauan Nusantara. Lingkungan umat Hindu di lingkungan tertentu, lain dengan situasi lingkungan di Bali. Masyarakat Hindu sekarang sudah semakin kritis, baik karena dasar pendidikan, perkembangan zaman maupun situasi lingkungan. Kita perlu memikirkan suatu sistem lebih berdasarkan pada pengertian logis, terutama untuk menanggulangi masalah keagamaan di Bali dan di daerah-daerah lain di luar Bali.

Permasalahan  tersebut  di  atas  perlu  dicarikan  jalan  pemecahannya,  lebih- lebih mengingat masalah keagamaan yang dirasakan semakin mendesak untuk daerah-daerah di luar Bali. Melalui tulisan ini diharapkan kita bersama mampu mengatasi sedikit demi sedikit permasalahan yang ada. Sebagai realisasi dalam mengkomunikasikan pelaksanaan kegiatan keagamaan apabila kurang memungkinkan sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Bali tetap dipakai demi untuk menjaga kemantapan rasa, sepanjang istilah-istilah tersebut masih sulit ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia. Diharapkan kepercayaan dan kesetiaan beragama yang hanya berlandaskan “gugon tuwon” akan semakin menipis, akhirnya lenyap diganti oleh rasa kesetiaan, kepercayaan dan keyakinan yang berlandaskan pengertian yang kritis. Catur Warna berarti empat sifat dan bakat kelahirannya dalam mengabdi pada masyarakat berdasarkan kecintaan yang menimbulkan kegairahan kerja. Catur Warna adalah empat golongan karya dalam masyarakat Hindu yang terdiri dari; Brahmana Warna, Ksatria Warna, Wesya Warna, dan Sudra Warna.

Prioritas  penerapan  Catur  Purusa Artha  pada  Catur Warna  dapat  dipaparkan sebagai berikut.
1. Brahmana Warna adalah golongan karya yang setiap orangnya memiliki pengetahuan suci dan mempunyai bakat kelahiran untuk mewujudkan tujuan/ kekayaan (artha), keinginan/kenikmatan (kama), kesejahteraan dan kebahagiaan (moksa) masyarakat, Negara, dan umat manusia dengan jalan mengamalkan ilmu pengetahuannya dan dapat memimpin upacara keagamaan (karyawidhi-yoga dan karya-arcana) berlandaskan kebenaran (dharma) - nya.
2. Ksatria Warna adalah golongan karya yang setiap orangnya memiliki kewibawaan alami dan mempunyai bakat kelahiran yang cinta tanah air untuk pemimpin guna mewujudkan dan mempertahankan   tujuan/kekayaan (artha), keinginan/ kenikmatan (kama), kesejahteraan dan kebahagiaan (moksa) masyarakat, negara, dan umat manusia dengan jalan mengamalkan kepemimpinannya berlandaskan kebenaran (dharma) - nya.
3. Wesya Warna adalah golongan karya yang setiap orangnya memiliki watak tekun, terampil, hemat, cermat dan mempunyai bakat kelahiran untuk mewujudkan tujuan/ kekayaan (artha), keinginan/kenikmatan (kama), kesejahtraan dan kebahagiaan (moksa) masyarakat, Negara, dan umat manusia dengan jalan mengamalkan keahliannya sebagai pedagang dan petani berlandaskan kebenaran (dharma) - nya.
4.  Sudra Warna adalah golongan karya yang setiap orangnya memiliki kekuatan jasmani, ketaatan, dan mempunyai bakat kelahiran untuk mewujudkan tujuan/ kekayaan (artha), keinginan/kenikmatan (kama), kesejahteraan dan kebahagiaan (moksa) masyarakat, Negara, dan umat manusia atas petunjuk golongan karya lainnya dengan jalan mengamalkan ketaatan dan kekuatan jasmaninya yang berlandaskan kebenaran (dharma)-nya.

Hendaknya keempat warna ini bekerjasama bantu-membantu sesuai dengan swadharmanya (watak, sifat/bakatnya masing-masing) untuk membina kesejahteraan masyarakat, negara, umat manusia. Pengabdian setiap anggota masyarakat yang berdasarkan swadharma itu sudah semestinya didasari oleh Catur Purusartha

Thursday, May 17, 2018

Kaivalya Pãda

Menggapai Kebebasan Sejati.


Ladang Informasi - Di antara ke-empat Pãda, Kaivalya Pãda inilah yang tersingkat. Disini paparan terasa padat, yang utamanya difokuskan pada pencapaian Kaivalya dan tentang bagaimana seorang Yogi yang telah mencapai status itu. Disini Patanjali tak lupa menyelipkan lagi tatanan etika-moral luhur dari seorang Yogi Sempurna yang dalam ajaran Vedanta kita kenal sebagai Jivanmukta, ia yang telah terbebaskan dari siklus Samsara dan tak terlahirkan kembali di alam manapun di antara 34 sutra pembentuknya.
Kaiwalya Pada
Kata Kaivalya berarti emansipasi atau pembebasan. Disebut sebaliknya sebagai Moksa dalam bahasa Sanskerta. Patanjali dalam bukunya Yoga Sutra mendiskusikan konsep Kaivalya dengan cara yang sangat rumit di bab terakhir yang disebut Kaivalya Pada. Bab ini memiliki total 34 kata mutiara atau sutra yang menggambarkan fenomena Kaivalya atau emansipasi. Patanjali mengatakan bahwa tujuan akhir manusia adalah mencapai Kaivalya dari siklus modifikasi dari satu spesies atau genus ke spesies lain. Dia menerima konsep Jatyantara Parinama yang mengatakan bahwa manusia terus dilahirkan lagi dan lagi tergantung pada keadaan yang berubah. Kadang-kadang dia juga diubah menjadi spesies atau genus lain. Kata ‘spesies’ dimaksudkan dengan kata ‘Jati’.

Zat-zat material dipenuhi tubuh manusia pada saat kelahiran. Oleh karena itu modifikasi ke spesies lain adalah dengan mengisi bahan material. Patanjali mengatakan bahwa tujuan utama manusia adalah untuk mencapai pembebasan atau Kaivalya melalui Samadhi. Untuk mencapai Kaivalya dia harus menjalani proses penyelidikan keberadaan diri. Bagaimana proses penyelidikan eksistensi diri berakhir? Patanjali mengatakan bahwa sekali Yogi mengetahui bahwa Purusha atau Entitas Tertinggi berbeda dengan intelek maka penyelidikan terhadap keberadaan diri akan berakhir. Agar ini terjadi, dia harus menyadari Purusha. Yogi mencapai ambang Kaivalya saat penyelidikan berakhir.

Kaivalya Pada membahas sifat pikiran para pencari Realitas ketika Yogi menyadari kebenaran yang berbeda tentang Purusha. Kata pepatah 26 mengatakan 'Tada vivekanimnam kaivalyapragbharam chittam ’. Itu berarti 'Maka pikiran yang condong ke arah diskriminasi atau pembedaan memiliki beban emansipasi di depan'. Itu hanya berarti bahwa Yogi pasti akan membebani sukacita emansipasi di masa depan. Proses pencapaian pembebasan ditangani secara terperinci oleh Patanjali. Dia mengatakan bahwa sebelum terjadinya wahyu terakhir, Yogi dihadapkan dengan invasi oleh pasukan yang terdiri dari potensi kebiasaan yang ada dalam dirinya sebelumnya. Potensi kebiasaan ini sedang sekarat dan lenyap sejauh Yogi khawatir. Mereka terus hidup tanpa halangan pada manusia biasa. Di sisi lain mereka menemui akhir yang alamiah pada orang-orang wahyu intelektual.

The Yogi mahir dalam menghindari potensi kebiasaan. Karena itu dia tidak dihadapkan oleh tantangan penderitaan atau kesakitan. Jalannya ke Kaivalya kehilangan halangan. Dia mencapai dan mencapai pembebasan dengan mudah. Keutamaan dan dosa tidak menyentuh seorang Yogi dan dia mencapai situasi di mana semua tindakan dan rasa sakitnya tidak ada lagi. Patanjali mengatakan dalam aforisme 30 'Tatah Klesakarmanivritthih'. Itu berarti 'Kemudian berhentinya semua kesengsaraan dan tindakan'. Apa yang terjadi pada Yogi saat berhentinya penderitaan dan tindakan? Patanjali mengatakan bahwa pengetahuannya menjadi tak terbatas dan tak terbatas. Dia mencapai situasi di mana yang bisa diketahui menjadi sedikit. Singkatnya dapat dikatakan bahwa ia mencapai suatu situasi di mana ia datang untuk mengetahui segalanya berdasarkan kualitas kemurnian pikiran. Pengetahuannya juga terungkap oleh kotoran. Dia menggunakan kata 'Avarana' yang berarti 'amplop'. Pengetahuan yang dia dapatkan akhirnya kehilangan perlindungan. Dia dianugerahi dengan kualitas ketidakterikatan dan karenanya tiga gunas, yaitu, sattva, rajas dan tamas mulai menunjukkan tidak ada efek padanya. Itu hanya berarti bahwa penggantian berbagai energi di dalam dirinya yang terlahir dari ketiga gunas akan dihentikan. Ketika suksesi perubahan energi dihentikan, Yogi akan bergabung ke dalam keadaan Bliss.

Akhirnya Yogi mencapai Siddhis dari berbagai macam. Patanjali berbicara tentang Siddhis atau prestasi seorang Yogi ketika ia mencapai keadaan penyerapan spiritual yang memberinya status emansipasi. Dia mendapatkan pencapaian yang lahir dari kelahiran, ramuan, doa, penebusan dosa dan penyerapan spiritual. Yogi mendapatkan pencapaian yang lahir dari lahirnya burung terbang di langit. Dia mendapatkan Siddhi melalui pengabdiannya pada ramuan khusus. The Siddhi of Anima atau atomy dapat dicapai melalui mantra atau doa untuk dewa-dewa seperti Durga. Dengan beralih ke penebusan dosa atau Tapas, Yogi mendapatkan Siddhi sebagai Sage Vishvamitra melakukan mukjizat. Patanjali mengatakan bahwa seorang Yogi dapat dianugerahkan dengan delapan jenis Siddhi yang berbeda ketika ia berada di ambang Kaivalya.

Delapan jenis Siddhi adalah Anima atau menjadi sekecil atom, Laghima atau mengasumsikan Penerang, Praptih atau mencapai apa pun yang dia inginkan, Prakamyam atau berpikir tentang yang tak terpikirkan, Mahima atau mengasumsikan berat terbesar, Ishitvam atau kekuatan tertinggi, Vasitvam atau kekuatan untuk menarik siapa pun dan Kamavasayita atau menundukkan segala macam keinginan. Seorang Yogi dapat dengan mudah menekan segala macam keinginan, seperti yang timbul dari kekayaan, wanita dan properti. Sistem Yoga tidak berbicara tentang Brahman Agung yang kemudian dibahas panjang lebar oleh Advaitins atau pengikut Sankara. Di sisi lain sistem Yoga berbicara tentang Purusha yang dapat disamakan dengan Brahman dari Advaitins yang kemudian. Menurut sistem filsafat Yoga, Purusha adalah entitas tertinggi dan tertinggi. Purusha harus diwujudkan untuk Yogi untuk mencapai kondisi pembebasan atau Kaivalya.

Sistem Yoga tidak menggunakan kata ‘Moksa’ melainkan menggunakan kata Kaivalya. Secara umum dikatakan bahwa sistem filosofis Sankhya menginspirasi sistem Yoga dan Advaita untuk sebagian besar. Swami Vivekananda, biksu India yang hebat, pernah berkata bahwa India benar-benar berhutang banyak pada Sage Kapila, pendiri sistem filsafat Sankhya. Tetapi baginya bahkan sistem Advaita tidak akan ada di sana. Sistem Sankhya benar-benar membuka jalan bagi sistem Yoga dan Vedanta filsafat. Patanjali tentu saja asli untuk sebagian besar.

Vibhuti Pada

Paparan Tentang Kekuatan dan Kesempurnaan.

Ladang Informasi - Disini dipaparkan tuntunan praktis yang lebih tinggi, terutama tentang tiga-serangkai Samyama, melalui mana kekuatan-kekuatan spiritual, kegaiban-kegaiban, hingga kesempurnaan Yoga bisa dicapai. Bagi yang mempunyai naluri mistis yang kuat, bagian yang tersusun oleh 56 sutra ini, bisa merupakan bagian yang paling menarik. Disini juga disampaikan peringatan-peringatan untuk tidak melaksanakan Yoga hanya demi perolehan kekuatan-kekuatan dan kegaiban-kegaiban itu, apalagi terikat padanya. Ini dapat dengan mudah menjatuhkan sang penekun.
Wibhuti Pada
Tujuh Cakra dalam tubuh manusia
Patanjali telah selesai mendeskripsikan lima cabang pertama yoga Astanga, praktik luar atau eksternal. Sekarang ia memurnikan tiga praktik batin, dharana, dhyana dan samadhi, yang kemudian ia gabungkan menjadi satu latihan, samyama. Perhatian fokus yang sangat tinggi ini kemudian dibawa untuk menyelidiki secara mendalam aspek penciptaan untuk membuka rahasia alam semesta dan membangkitkan 'kekuatan' atau siddhis '. Kekuatan-kekuatan ini bukanlah titik akhir dalam yoga, yang adalah pembebasan, tetapi muncul sebagai hasil dari latihan yang intens (sadhana). Bagi pikiran modern, beberapa kekuatan ini kelihatannya cukup liar, tetapi mereka mungkin mencerminkan budaya yang menyelidiki secara mendalam ke dunia perdukunan yang telah kehilangan sentuhan dunia modern. Kita begitu terbatas pada bidang fisik sehingga aspek eksoterik penciptaan telah lenyap dari budaya modern.

III – 1  desha-bandhash cittasya dharanaaKonsentrasi memegang perhatian di satu tempat

Di sini kekuatan kemauan digunakan untuk menahan perhatian terhadap kebiasaan-kebiasaan kusam dan / atau gangguan, (tamas dan rajas). Ada rasa ‘Saya sengaja menantang kebiasaan pikiran. Benih, ‘bija’ diberikan sebagai tempat untuk memfokuskan atau menstabilkan perhatian seperti nafas, mantra, gambar visual dll. Perhatikan bahwa ini adalah bentuk abhyasa, berlatih untuk menstabilkan pikiran yang diperkenalkan di I – 11

III – 2 tatra pratyayaika-taanataa dhyaanam
Meditasi mempertahankan perhatian ke satu tempat dari waktu ke waktu.


Meditasi dibahas secara mendalam di Samadhi Pada juga. Seperti dalam dharana, masih ada rasa kehendak yang mengatasi kecenderungan kebiasaan terhadap kebodohan dan gangguan. Proses orientasi pada modalitas atau aspek sensoris saat itu adalah aktivitas manusia yang sangat alami. Seorang siswa harus fokus pada studinya untuk mendapatkan kedalaman pemahaman. Seorang tukang ledeng atau tukang listrik harus memperhatikan proses pekerjaan mereka. Semua lapisan masyarakat mengundang perhatian. Yoga mengambil proses ke tingkat yang lain dengan memperhatikan seluruh proses memperhatikan dan menyempurnakan dan memeliharanya. Tingkat meta ini menjadikan latihan spiritual unik.

III – 3  tad evaartha-maatra-nirbhaasam svaruupa-shuunyam iva samaadhih

Samadhi adalah penopang perhatian yang tanpa susah payah, sedemikian rupa sehingga indera diri larut dan objek (dihadiri) sendirian bersinar.

Ketika prosesnya stabil, (karena teman lama kita, Hebb's Axiom, neuron yang menyatukan bersama) perhatian kita tidak lagi membutuhkan upaya untuk mengatasi kebiasaan. Kabel cukup kuat untuk mempertahankan diri. Proses belajar sepotong musik pada piano agak analog. Pada awalnya ada slip, kesalahan dan kebingungan. Pada titik tertentu, tubuh 'mendapatkannya' dan musik mengalir. Dalam samadhi, pikiran mengalir.

III – 4  trayam ekatra samyamah

Ketiga hal ini bersama (dharana-dhyana-samadhi) adalah samyama.

Patanjali memasukkan ini untuk menunjukkan bahwa dalam kenyataannya, ada perkembangan untuk pindah ke Samadhi. Sebagai contoh, jika saya memulai latihan pagi saya, saya mulai dengan membawa perhatian saya pada aliran energi atau prana dalam organisme. Setelah waktu yang singkat ada yang mengendap di perhatian dan segera terserap dalam aliran yang muncul dan berlatih terus pada tingkat ini, tidak ada waktu, tidak ada diri, mengalir begitu saja. Terkadang alirannya rusak dan prosesnya dimulai lagi.

III – 5  taj-jayaat prajnaalokah

Dari itu (samyama) datanglah cahaya dan kebijaksanaan

Keadaan penyerapan membawa wawasan, wahyu intuitif, dan energi yang lebih kuat pada umumnya. Hal ini menjadi lebih mudah untuk dipertahankan karena jalur saraf dari perhatian yang berkelanjutan dan mudah sedang diperkuat. (Aksioma Hebb… neuron yang saling menembak, menyatu). Patanjali sebelumnya telah menyentuh wahyu-wahyu ini dalam I - 20, I - 48-49, dan II - 27.

III – 6  tasya bhuumishu viniyogah

(Samyama) diterapkan pada tahap (berbagai) (dari Samadhi)

Dalam I - (17-18), dan I - (42-49), Patanjali memperkenalkan tahap perkembangan samadhi. Di sini ia menunjukkan tingkat meta dari yogi, dengan membayar perhatian yang mendalam pada lapisan dan tingkat perhatian yang mungkin. Yoga adalah terbukanya spiral kebangkitan yang elegan.

III-7  trayam antar-angam puurvebhyah

Ketiga (dharana, dhyana, Samadhi) adalah anggota badan internal, dibandingkan dengan yang lain. (lima anggota badan pertama dari bab 2)

Lima anggota tubuh pertama terlibat dengan hubungan kita dengan dunia luar dan energi fisiologis dan emosi yang lebih nyata. Anggota tubuh terakhir ini lebih halus dan muncul untuk observasi ketika lima yang pertama telah diselaraskan. Jika punggung saya sakit, jika saya mual, jika saya merasa terganggu secara emosional, jika saya terganggu oleh apa yang terjadi di sekitar saya, ranah halus ini akan tetap tidak diketahui.

III – 8  tad api bahir-angam nirbiijasya

Bahkan ini (dharana / dhyana / samadhi - samyama) adalah eksternal samadhi tanpa biji.

Samadhi dengan dukungan lebih 'diarahkan dari luar' daripada samadhi tanpa dukungan. Patanjali mengakui terungkapnya lebih subtil sampai dunia bentuk tidak lagi diperlukan untuk mempertahankan kesadaran.

III – 9  vyutthaana-nirodha-samskaarayoy abhibhava-praadurbhaavau nirodha-kshana-cittaanvayo nirodha-parinaamah

Menahan diri adalah menghilangnya kecenderungan mental yang keluar dan munculnya kecenderungan menahan diri pada saat antara pelarutan sebuah citra lama dan munculnya citra baru.

Dalam sutra III - 9 hingga III-15, Patanjali menjelaskan secara terperinci tentang bagaimana kemampuan pikiran dimanfaatkan dan diintegrasikan untuk menciptakan negara samyama. Dia menjelaskan tiga transformasi berurutan (parinamas) yang dialami pikiran dalam proses ini. Ini agak analog dengan transformasi sepotong kaca biasa menjadi lensa yang kuat dan fleksibel. Ketika lensa baru ini digunakan untuk melihat objek yang berbeda, wawasan baru dan wahyu tentang struktur dan fungsi objek muncul yang biasanya tidak tersedia.

Transformasi yang dikenal sebagai pengekangan, nirodha, adalah yang pertama dan juga, dalam keadaan yang sepenuhnya berkembang, transformasi akhir. Pertama kali diperkenalkan pada sutra I-2 sebagai bagian dari definisi yoga, menahan diri adalah properti mendasar dari sistem saraf. Dalam terminologi neuro-biologis, aktivitas sel-sel saraf, arus saraf dan neurotransmitter, yang dikenal dalam bahasa Sanskerta sebagai samskaras, dapat beroperasi dalam dua cara dasar. Pertama, mereka dapat menyebabkan sel-sel lain menembak (melepaskan sinyalnya), dan pada gilirannya mengaktifkan lebih banyak aktivitas. Ini adalah aliran perhatian yang diarahkan keluar yang disebut Patanjali ‘vyutthaana samskaras. Atau aktivitas saraf dapat menghambat sel-sel lain dan sirkuit saraf dari menembak. Ini adalah nirodha samskaras. Penghambatan sel yang disengaja ini adalah rahasia yang diperlukan untuk membawa tingkat fokus yang diperlukan untuk siddhi.

Titik awal selalu merupakan keadaan pikiran tertentu yang hadir dalam praktisi. Keadaan pikiran pada dasarnya melibatkan sekelompok sel, dari daerah yang berbeda di otak, menembak secara bersamaan. Kesadaran penuh perhatian, perhatian fokus rileks, (samyama) melibatkan aksi terpadu berkelanjutan dari sekelompok sel tertentu yang terfokus pada area penyelidikan spesifik.

Ketika keadaan teralihkan, (vikshipta citta) hadir, gambar-gambar yang muncul dalam pikiran tampaknya cukup acak. Apa pun bisa muncul. Para meditator sering menyebut ini keadaan ‘pikiran monyet’. Dengan penanaman nirodha samskaras, kemungkinan menahan proses acak ini menjadi keadaan dinamis yang dikenal sebagai nirodha parinama, keadaan menahan pikiran yang mengembara.

Dalam Brain Buddha, Rick Hanson dan Richard Mendius memasukkan bab tentang keseimbangan batin (Lihat sutra I-33 dan II-42) di mana mereka menggambarkan kemampuan untuk menghambat respon kebiasaan terhadap aktivitas emosional dan psikologis, tetapi tidak menghambat aktivitas yang sebenarnya. Ini adalah perbedaan halus tetapi penting antara area otak.

“Keseimbangan batin adalah keadaan otak yang tidak biasa. Ini tidak didasarkan pada penghambatan pra-frontal sistem limbik. Sebaliknya, itu melibatkan tidak bereaksi terhadap sistem limbik. Ini mungkin menggambarkan empat kondisi saraf: aktivasi pre-frontal dan anterior cingulate cortex (ACC) untuk pemahaman dan niat; keteguhan pikiran, didorong awalnya oleh pengawasan ACC tetapi kemudian mengorganisir diri; gelombang gamma yang cepat dari area besar otak untuk menciptakan pengalaman mental kelapangan besar; dan aktivasi parasimpatetik untuk meredam loop umpan limbik / SNS / HPAA yang sebaliknya akan membuat sistem respon stres bereaksi terhadap reaksinya sendiri dalam lingkaran setan.

III – 10 tasya prashanta-vaahitaa samskaaraat

Aliran yang tidak terganggu (pikiran) terjadi karena samskara.

Samskaras adalah pola penembakan saraf, dikodekan sebagai kecenderungan, kapasitas, atau potensi, yang dapat dikembangkan, terlibat, atau dalam keadaan laten. Di sini Patanjali sedang menggambarkan pola-pola energik pikiran yang sangat terfokus, yang telah dibudidayakan oleh abhyasa, praktik yang penuh pengabdian selama periode waktu yang panjang (sutra I-13, I-14) dan vairagyam (melepaskan pikiran yang menyakitkan, terganggu, dan disfungsional. menyatakan). Ketika kecenderungan untuk mengalir dengan cara yang tidak terganggu semakin kuat, menjadi lebih mudah untuk mengaktualisasikan pada saat tertentu, dan bertahan untuk jangka waktu yang lama. Koneksi neuronal membesar saat digunakan, seperti yang telah ditunjukkan dalam mri scan meditator berpengalaman.

III – 11  sarvaathataa ekaagratayoh ksaya udayau cittasya samaadhiparinaamah

Penghapusan "semua keterpusatan (pikiran yang mengembara) dan meningkatnya keterpusatan adalah transformasi ke Samadhi.

Pikiran yang mengembara juga merupakan kecenderungan neurobiologis. (Lihat “Otak Buddha” oleh Rick Hanson dan Richard Mendius untuk diskusi yang mudah dicerna tentang ilmu saraf meditasi.) Kecenderungan ini dihambat oleh nirodha samskaras. Kemudian mengikuti transformasi berikutnya, perhatian fokus dari samadhi. Dalam parinama kedua ini, fokus yang berorientasi dibawa ke gambar atau proses tertentu (dharana), berkelanjutan di sana melalui kehendak (dhyana), dan akhirnya berkelanjutan dengan mudah (samadhi). Jalur neurologis perhatian fokus ke arah gambar atau benih tertentu (bija) secara bertahap menjadi cukup kuat untuk menahan perhatian di sana dengan mudah. Sebuah analogi kasar di sini adalah kemampuan untuk memukul bola cepat liga utama. Pemain harus mampu menjatuhkan semua gangguan dan mengikuti gerakan bola dengan tepat. Ini terjadi dalam satu atau dua detik. Para yogi ingin mempertahankan aliran untuk waktu yang lebih lama dan lebih lama

III – 12   tatah punah shaanat uditau tulya pratyayau cittasya ekaagrataaparinamah

Ketertarikan satu muncul ketika gambar sebelumnya mereda dan gambar yang muncul saat ini adalah sama.

Dalam transformasi ketiga ini, ekagra parinama, kita menemukan puncak transformasi neurobiologis. Perhatian yang berorientasi telah mengunci benih dan tetap ada di sana. Kabelnya kuat dan stabil. Namun, yang juga diperhatikan adalah bahwa proses ini tidak kontinu tetapi terkuantisasi. Artinya, gambar benih berada di bidang pikiran, itu memudar, gambar berikutnya yang muncul adalah identik. Patanjali di sini menjelaskan kesenjangan atau ruang antara gambar mental yang biasanya tidak diperhatikan dalam pikiran yang mengembara. Dalam celah-celah ini keheningan yang pernah ada, Purusha pertama kali terungkap. Dengan latihan, celah menjadi lebih panjang, dan akhirnya, orientasi berubah menjadi keheningan tanpa batas dan tidak lagi membutuhkan benih untuk mempertahankan perhatiannya.

III – 13    etena bhuutendriyeshu dharma-lakshanaavastha-parinaamaa vyaakhyaataah

Dengan ini (mengacu pada III-10 - 12) transformasi karakteristik, keadaan dan kondisi, dari objek dan indera dijelaskan.

Parinama, transformasi, mengacu pada sifat dinamis dari Prakriti. Semuanya selalu berubah-ubah. Umat Buddha menyebut ini sebagai ketidakkekalan. Saat kami menyelidiki sifat prakrti, kami menemukan tiga kategori perubahan ini. Saya memiliki sebuah bisbol di meja saya. Ciri-cirinya adalah penutup, jahitan, benang lilitan, inti, kualitas yang menjadikannya enggak dibandingkan dengan buku atau pensil. Bisbol ini ada sekarang. Jika saya benar-benar terlibat dalam sifat bola yang sebenarnya, saya bisa membayangkan bola di masa lalu atau masa depan juga. Ini adalah kondisi bola. Akhirnya, kondisi bola ini sedikit digunakan. Beberapa noda rumput dan kotoran, jahitan utuh, beberapa warna putih menunjukkan: ini menunjukkan kondisi saat ini.

III – 14   shaanta udita avapyadeshya-dharmaanupaati dharmii

Substratum mendasari masa lalu, sekarang dan masa depan

Patanjali kembali ke ini di IV - 13. Di bawah semua perubahan adalah kesatuan prakrti, landasan keberadaan yang tak terbagi yang melahirkan semua bentuk. Para filsuf Sankhya dualistik mengatakan bahwa Prakriti pada dasarnya terpisah dari Purusha tetapi bergabung dengan Purusha untuk melahirkan dunia yang secara sadar dirasakan. The Vedantins mengatakan bahwa Prakriti muncul sebagai ekspresi nyata Purusha, hanya istilah Brahman digunakan untuk menunjukkan keseluruhan ciptaan dan pencipta non-dual.

III – 15  kramaanyatvam parinaamaanyatve hetuh

Perubahan dalam urutan adalah penyebab dalam perubahan transformasi

Patanjali sang fisikawan memperkenalkan gagasan tentang garis waktu dan entropi ke dalam penciptaan. Dalam contoh bisbol saya, jika saya bisa melihat seluruh sejarah bola, dari tumbuhnya kapas untuk menciptakan benang dan jahitan, kelahiran hewan yang kulitnya menjadi penutup, dll dan perubahan bola di 100.000 tahun, saya akan melihat seluruh rangkaian perubahan dan menyadari bahwa semua perubahan selalu ada setiap saat, tidak begitu jelas. Substansi mendasar tidak berubah, tetapi aliran waktu menciptakan rasa transformasi. Di sini kita mungkin membuat analogi yang tidak sempurna pada proton, elektron dan neutron yang mendasari dunia material. Mereka tidak berubah di dalam dan dari diri mereka sendiri, hanya konfigurasi tertentu. Ini adalah prinsip dasar untuk memahami siddhis yang mengikutinya.

III – 16   parinaama-traya-samyamaad atiitaanaagata-jnaanam

Ketika samyama dilakukan pada tiga transformasi, pengetahuan tentang masa lalu dan masa depan terjadi.

Di sini memulai diskusi tentang kekuatan siddhis atau spiritual yang merupakan hasil dari latihan yang intens. Bagi pikiran modern, sebagian dari kekuatan ini mungkin memunculkan lebih dari sedikit skeptisisme, tetapi kita dapat mempertimbangkan kemungkinan bahwa pikiran manusia, dalam keadaan integrasi yang lebih tinggi dan lebih kompleks, mungkin memiliki kapasitas yang telah hilang oleh dunia modern kita. Juga, pada hari-hari awal yoga, sebelum ledakan otak kiri dari usia rasional, alam perdukunan jauh lebih umum. Dalam tulisan-tulisan Carlos Casteneda tentang gurunya, Don Juan, banyak kekuatan spektakuler yang dikaitkan dengan dukun tingkat lanjut.

Pada III-6, Patanjali menerapkan samyama ke berbagai tahap samadhi yang diperkenalkan pada Bab 1. Sekarang samyama diarahkan ke tiga tahap membawa pikiran ke dalam keadaan yang sangat terfokus. Parinama berarti transformasi. Seperti yang terlihat adalah pembahasan sutra sebelumnya, masa lalu dan masa depan selalu hidup berdampingan di masa sekarang. Dengan melihat secara mendalam ke dalam sifat perubahan, kita dapat memahami total urutan waktu dalam bentuk apa pun yang sedang kita selidiki dan pemahaman baru tentang keutuhan waktu terungkap.

III – 17   shabdaartha-pratyayaanaam itaretaraadhyaasaat sankaras tat-pravibhaaga-samyamat sarva-bhuta-ruta-jnanam.

Kebingungan muncul dari superposisi kata, ide, dan makna. Dengan melakukan samyama pada perbedaan di antara mereka, pengetahuan tentang pidato semua makhluk muncul.
Di dalam sutra I – 42, Patanjali pertama kali membahas kebingungan ini. Di sini, samyama pada perbedaan mereka mengarah pada sesuatu yang mengejutkan. Mendasari semua komunikasi verbal adalah suara, getaran pita suara. Manusia belajar melampirkan makna pada bunyi-bunyi ini melalui perkembangan bahasa. Tetapi banyak hewan lain juga menggunakan suara untuk berkomunikasi. Burung menciptakan simfoni suara yang menakjubkan dengan suara mereka. Paus dan lumba-lumba menggunakan suara untuk berkomunikasi selama 100 mil di bawah air. Serigala melolong, rakun membuat suara yang menakutkan dan lain-lain. Patanjali menyatakan bahwa seorang yogi dapat begitu menembus ke dalam sifat suara sehingga makna semua komunikasi dapat dipahami.

III – 18  samskaara-saakshaat-karaannt puurva-jaati-jnaanam

Membawa kesan mental sebelumnya ke dalam persepsi langsung mengarah ke pengetahuan tentang kelahiran sebelumnya.

Sebagai budaya yang mengambil reinkarnasi untuk diberikan, para yogi menemukan bahwa semua kehidupan lampau meninggalkan samskara atau jejak ingatan dalam bidang pikiran. Dalam pikiran yang sangat tenang, tayangan yang lebih halus ini bisa diperiksa. Bagi kebanyakan orang, melacak masa hidup ini cukup rumit! Dalai Lama mengatakan bahwa dia dengan jelas mengingat inkarnasinya ketika masih sangat muda, tetapi pada usia tujuh atau delapan tahun, mereka telah memudar. Dia memiliki hal-hal yang lebih mendesak untuk diperhatikan!

III – 19  pratyayasya para-citta-jnaanam

Dari gagasan orang lain datanglah pengetahuan tentang pikiran mereka.

Ketika seseorang belajar untuk mendengarkan di semua tingkatan, seorang yogi dapat menemukan lapisan nuansa halus dalam suara, emosi, postur dan ucapan untuk melihat kondisi yang mendasari aktivitas pikiran orang lain. Dan Siegel menggambarkan ini dalam ‘Mindsight’: “Melalui ekspresi wajah dan nada suara, gerak tubuh dan postur tubuh - beberapa begitu cepat mereka dapat ditangkap hanya pada rekaman yang diperlambat - kami datang untuk 'bergema' satu sama lain.”

III – 20  na ca tat saalambanam tasyaavishayiibbhuutatvaat

Itu (pengetahuan) tidak didukung oleh objek (dari pikiran orang lain.)

Meskipun sang yogi dapat melihat / merasakan / mengetahui secara langsung kondisi pikiran orang lain, benda luar yang mengarah ke keadaan pikiran itu tidak terlihat dengan cara ini. Sebagai contoh sederhana, saya dapat melihat Anda marah, tetapi saya belum tentu melihat apa yang membuat Anda marah. (Kecuali itu jelas)

III – 21   kaaya-ruupa-samyamaat tad-grahya-shakti-stambhe caksuh-prakaashaasamprayoge ‘ntardhaanam

Samyama pada bentuk halus tubuh mengarah ke tembus pandang karena cahaya yang memancar terhalangi dari mata orang lain.

Ini adalah peregangan untuk pikiran modern, tetapi sarannya adalah bahwa seorang yogi yang terbenam dalam tubuh halus dapat menyebarkan struktur atomnya sehingga cahaya dari 'tubuh' nya tidak mencerminkan kembali kepada pengamat. Pelacak terkenal, Tom Brown, menghabiskan bertahun-tahun magang dengan seorang pria obat Apache bernama Stalking Wolf, dan belajar untuk menyatu dengan dunia alam sehingga pada dasarnya dia tidak terlihat. Dia seorang diri mengambil skuad Navy Seals dalam kompetisi 'mencari dan menghancurkan' dan berhasil 'menghilangkan' semuanya tanpa pernah terlihat.

III – 22   etena shabdadi  antarndhaanam uktam

Dengan cara yang sama, indra lainnya dikendalikan.

Ini mengikuti sutra sebelumnya dan mengacu pada kontrol atas suara emanasi, rasa, sentuhan dan bau. Catatan: sutra ini dijatuhkan bersama oleh banyak penerjemah dan komentator karena dapat dikatakan sebelumnya tersirat dalam III-21. Dalam edisi-edisi itu, sutra berikutnya adalah III-22 dan nomor berikutnya mengikuti.

III - 23 sopakramam nirupakramam ca karma tat-samyamaad aparaanta-jnaanam aristebhyo- vaa

Karma (hasil dari tindakan kita) dapat bermanifestasi dengan cepat atau lambat. Samyama tentang karma atau pertanda dapat mengungkapkan waktu dan keadaan kematian seseorang.

Para yogi yang berpengalaman hidup dalam waktu yang abadi tetapi sangat sensitif terhadap keterkaitan antara dunia bentuk. Dengan samyama pada phala karma, momentum tindakan kita sebelumnya, dan tanda-tanda atau tanda-tanda tambahan yang muncul di alam kesadaran yang halus, seorang yogi dapat melihat waktu dan penyebab kematian yang akan datang.

III - 24 maitry-aadishu balaani

(Samyama) pada keramahan dan kebajikan lain seperti membawa kekuatan

Kami bertemu maitri di I-33. Kesempurnaan pikiran menyatakan bahwa mendasari keramahan, kebaikan, kasih sayang mengarah pada kekuatan emosional, psikologis, dan spiritual yang luar biasa. Dalai Lama mengatakan 'kebaikan adalah agama saya', dan dia adalah manusia yang sangat kuat.

III - 25 baleshu hasti-balaadiini

(Samyama) pada kekuatan membawa kekuatan gajah

Bentuk kekuatan lain adalah kekuatan fisik murni. Patanjali sedang menunjuk ke kapasitas untuk memanfaatkan seluruh dunia energik batin. Kita semua pernah mendengar cerita tentang kekuatan luar biasa yang dilakukan secara tiba-tiba oleh orang-orang yang tertekan. Seniman bela diri tingkat lanjut telah menguasai integrasi batin untuk melakukan kekuatan luar biasa.

III - 26 pravrttyaaloka-nyaasaat suukshma-vyavahita-viprakrsta-jnaanam

Mengarahkan cahaya batin membawa pengetahuan tentang hal-hal, halus, tersembunyi atau jauh

Cahaya batin sattva murni tidak hanya 'melihat' sifat esensial dari semua ciptaan tetapi 'terasa', dari dalam sehingga berbicara memungkinkan akses ke aspek penciptaan yang tidak diperhatikan oleh rata-rata orang.

III - 27 bhuvana-jnaanam suurye samyamaat

Samyama di atas matahari membawa pengetahuan tentang alam semesta yang berbeda.

Banyak budaya kuno yang menggambarkan alam semesta memiliki keragaman tingkat termasuk 'alam duniawi, serta yang' di atas 'alam manusia, rumah bagi para dewa, malaikat, dewa, dewa dan dewi, dan banyak lagi, serta tingkat 'di bawah' manusia, alam 'neraka' iblis, hantu, asura. Ajaran Katolik memiliki surga, neraka, dan api penyucian. Ini dan dua sutra berikut menunjukkan budaya yang sangat mengamati langit malam dan melihat lebih dari sekadar 'objek fisik'.
III - 28 candre tara-vyuuha-jnaanam
Samyama) di bulan membawa pengetahuan tentang tata surya.

Bulan mengikuti jalur ekliptika, seperti halnya planet-planet. Dengan melihat planet-planet bergerak melalui langit, hubungan astrologi muncul.

III - 29 dhruve tad-gati-jnaanam

(Samyama) pada bintang kutub membawa pengetahuan tentang pergerakan bintang-bintang

Penyempurnaan astrologi lebih lanjut. Bintang kutub relatif relatif relatif dengan bintang-bintang lainnya.

III - 30 naabhi-cakre kaaya-vyuuha-jnaanam

(Samyama) di pusat pusar datang pengetahuan tentang organisasi tubuh.

Pemahaman fisiologis awal menyebabkan perkembangan pengobatan Ayurvedic.

III - 31 kantha-kuupe ksut-pipaasaa-nivrttih

(Samyama) di lubang tenggorokan membawa penghentian kelaparan dan kehausan.

Ini bisa menjadi pengalaman batin kelenjar tiroid, menciptakan efek menenangkan pada aktivitas metabolik.

III - 32 kuurma-naadyaam sthairyam

(Samyama) pada "kura-kura nadi" membawa stabilitas.

Digambarkan sebagai saluran ramping yang duduk tepat di belakang takik klavikula dan terkait dengan chakra tenggorokan, kurma nadi adalah tempat untuk mengistirahatkan perhatian seseorang untuk menghadirkan ketenangan batin yang stabil.

III - 33 muurdha-jyotishi siddha-darshanam

(Samyama) pada "cahaya di tengkorak" membawa visi dari makhluk yang disempurnakan.

III - 34 praatibhaad vaa sarvam

Atau, dengan intuisi semuanya menjadi dikenal.

Intuisi muncul langsung dari yang tak terbatas.

III - 35 hrdaye citta-samvit

(Samyama) di hati membawa pengetahuan tentang pikiran.

Jantung adalah pusat aktivitas mental yang sehat dan seimbang. Tidak ada gangguan atau kebingungan muncul di sini. Itu berasal dari aspek otak pikiran.

III - 36 sattva-purushayor atyantaasankiirnayoh pratyayaavisheso bhogah paraathatvaat svaartha-samyamaat purusha-jnaanam


Kecerdasan dan Diri bingung (pada rata-rata orang). Kecerdasan bergantung pada yang lain. Samyama pada apa yang independen membawa pengetahuan tentang Purusha (Diri).

Purusha adalah 'independen; kesadaran murni, ruang terbuka yang tak terbatas, dll. Intelijen dapat berubah, karena ini adalah aspek bentuk, prakrti. Samyama di sini pikiran larut ke dalam 'kesadaran', seperti garam larut ke dalam air. Sepertinya menghilang.

III - 37 tatah praatibha-shraavana-vedanaadarshaasvaada-vaartaa-jaayante

Dari ini (lihat III-36) intuisi dan munculnya pendengaran, sentuhan, penglihatan, rasa dan bau yang sangat halus.

Kembali pada sutra ke III-34, Intuisi dan semua bentuk halus muncul dari Purusha (keheningan, kekosongan).

III - 38 te samaadhaav upasargaa vyutthaane siddhayah

Ini 'siddhi', atau kekuatan yoga super normal adalah prestasi untuk pikiran yang terbuka, tetapi hambatan untuk samadhi.

Jika berubah, itu bukan 'Self'. Siddhis datang dan pergi. Mereka adalah aspek-aspek yang sangat halus dari aktivitas pikiran, tetapi bisa menjadi sumber kebingungan egois ketika diri kecil mengklaimnya.

III - 39 bandha-kaarana-shaithilyaatpracaara-samvedanaac ca cittasya para shariiraaveshah

Dengan melonggarkan sebab-sebab perbudakan (the kleshas) dan dengan mengetahui jalan pikiran, pikiran dapat memasuki tubuh orang lain.

Edgar Cayce, yang juga dikenal sebagai paranormal abad ke-20, terkenal karena mampu mendiagnosis penyakit dan menawarkan obat untuk pasien ratusan, jika tidak ribuan mil jauhnya.

III - 40 udaana-jayaaj jala panka-kantakaadisv asanga utkraantish ca

Dengan penguasaan atas udana vayu seseorang mencapai levitasi dan menghindari air, lumpur dan duri.

Dalam dua sutra berikutnya, Patanjali menyebutkan dua prana halus yang dieksplorasi dalam praktik pranayama. Udana vayu mengatur energi yang bergerak ke atas dan terlibat dengan perkembangan embriologis, naluri kelahiran, evolusi spiritual dan jiwa yang meninggalkan tubuh pada saat kematian. Di sini penguasaan ini mengarah pada levitasi. Yesus berjalan di atas air di Danau Galilea disebutkan oleh tiga dari empat penginjil; Matius 14: 22-33, Markus 6: 45-52 dan Yohanes 6: 16-21.

III - 41 samaana-jayaat jvalanam

Penguasaan atas samana vayu membawa pancaran.

Samana vayu, di wilayah plexus solar mengatur pencernaan, api elemen. Dengan penguasaannya, muncul sinar.

III - 42 shrotraakaashayoh sambandha-samyamaad divyam shrotam

Samyama di organ pendengaran dan substrat suara membawa kesadaran suara ilahi.

Patanjali mungkin tidak memperkirakan perkembangan teleskop radio, tetapi para ilmuwan sekarang dapat mendengarkan bunyi-bunyi ciptaan 14,5 miliar tahun serta emanasi luar biasa lainnya untuk kosmos. Ahli Biologi Sel Bruce Lipton mendeskripsikan kehidupan sel sel sebagai simfoni suara dengan setiap molekul bergetar dengan rangkaian frekuensi uniknya sendiri.

III - 43 kaayaakaashayoh sambandha-samyamaal laghu-tuula-samaapattesh caahaasha-gamanam

Samyama tentang hubungan antara tubuh dan akasa dan meditasi pada ringannya kapas membawa kekuatan bergerak melalui ruang.

Akasa adalah ruang. Hanuman, putra Dewa Angin, bisa terbang. Di zaman modern kita telah mengembangkan perjalanan jet

 III - 44 bahir-akalpitaa vrttir mahaa-videhaa tatah prakaashaavarana-ksayah

(Samyama di) negara maha-videha (luar tubuh yang luar biasa) menghancurkan penutup cahaya.

Para yogi telah belajar meninggalkan tubuh saat masih hidup. Di zaman modern ada banyak deskripsi pengalaman ‘keluar dari tubuh’ atau mendekati kematian, yang mencakup memandang dunia, melihat cahaya, merasakan kedamaian yang luar biasa. Sri Aurobindo mengatakan dalam otobiografinya bahwa ia menghabiskan sebagian besar pemenjaraannya di negara maha-videha. Buku 'Bukti Surga' baru-baru ini oleh Eban Alexander menawarkan deskripsi yang sangat luar biasa tentang negara ini.

III - 45 sthuula svaruupa-suukshmaanvayaarthavattva-samyamaad bhuuta-jayah

Samyama pada bentuk kasar, (dan mereka) karakter penting, sifat halus dan tujuan, membawa penguasaan atas unsur-unsur.

Dunia bentuk, pada tingkat yang paling nyata, terdiri dari lima elemen utama; bumi, air, api, udara dan akasha atau eter. Ini, menurut sistem Sankhya, memiliki substrat yang lebih halus yang mendasari bentuk eksternal mereka. Dengan memahami (melalui samyama) bagaimana hubungan antar komponen yang lebih halus menciptakan elemen-elemen, mengendalikannya akan muncul. Kimia dan fisika memberikan contoh modern dari proses ini. Untuk budaya pra-ilmiah, materi itu misterius. Kita sekarang mengerti tentang atom dan partikel subatomik dan bagaimana pertukaran elektron dapat menyebabkan perubahan kimia substansial dalam zat. Industri kimia, untuk lebih baik dan lebih buruk, terus menciptakan zat baru. Sekarang para yogi mengacu pada proses yang lebih halus dan internal, tetapi ada banyak mukjizat modern yang datang dari teknologi.

III - 46 tato ‘nimaadi-praadurbhaavah kaaya-sampat-tad-dharmaanabhighaatash ca

Kemudian, semua keterbatasan (tubuh) dilampaui, kekuatan mistik seperti kemampuan menjadi menit muncul dan tubuh mencapai kesempurnaan.

Mungkin kemungkinan beroperasi pada dimensi realitas yang sangat berbeda dari dunia fisik / padat 3 dimensi kita.

III-47 ruupa laavanya –bala-vajra-samhananatvani kaaya-sampat

Kesempurnaan tubuh terdiri dari bentuk yang indah, keanggunan, kekuatan, soliditas dan kecemerlangan berlian.

Ini adalah koherensi biologis di semua tingkatan, atom, seluler, organik dan struktural.

III - 48 grahana-svaruupaasmitaanvayaarthavattva-samyamad indriya jayah

Samyama pada proses mengetahui, pada bentuk fundamental, pada ego, dan pada kualitas dan tujuan batin (dari gunas), mengendalikan indera.

Ketika seseorang memperdalam kestabilan dalam ketidakterbatasan, seseorang melihat datang dan pergi 'realitas' di semua tingkatan dan dapat merenungkan proses menjadi hidup dan hadir tanpa perlawanan apa pun yang muncul.

III – 49 tato mano-javitvam vikarna bhaavah pradhaana-jayash ca

Dari ini (penguasaan atas persepsi) datang seketika mengetahui independen dari indera dan penguasaan atas alam.

Mengembalikan titik yang sama dari berbagai posisi, beristirahat dalam yang tak terbatas, sebagai yang tak terbatas, seseorang melihat alam sebagai hanya terbentang dari kedalaman kecerdasan tak terbatas.

III- 50 sattva purusha anyataa khyaatimaatrasya sarvabhaava adhishthaatrtvam sarvajnaatrtvam ca

Hanya satu yang membedakan antara kecerdasan dan Pelihat (Purusha) yang menyadari kemahatahuan dan kemahakuasaan.

Yoga referensi lain sebagai pembedaan antara Purusha sebagai Seer dan kendaraan, sebagai aspek yang terlihat - Prakriti.

III- 51 tadvairaagyaat api doshabiijaksaye kaivalyam

Dengan melepaskan bahkan kekuatan-kekuatan ini dan menghancurkan benih-benih ikatan, pembebasan muncul

Sering ada perlekatan halus pada kendaraan, terutama ketika mereka sangat halus (relatif terhadap rata-rata orang).

III - 52 sthaanyupanimantrane sangasmayaakaranam punaranishta prasangaat

Seseorang harus berhati-hati dicobai oleh makhluk surgawi karena seseorang dapat jatuh dari kasih karunia.

Tidak yakin mengapa makhluk surgawi itu menakutkan! Hanya demikian jika mereka dilihat sebagai ‘yang lain’ dan bukan manifestasi keutuhan ilahi yang muncul.

III- 53 ksana tatkramayoh samyamaat vivekajam jnaanam

Dengan samyama tentang pergerakan momen yang dikenal sebagai waktu, orang memperoleh pemahaman yang paling dalam tentang realitas. (Lihat sutra IV-33)

Waktu adalah prakriti. Dapat mempercepat atau memperlambat sesuai dengan keadaan pikiran. Atau, ketika beristirahat di waktu yang tidak terbatas, waktu menghilang ke "Sekarang".

III - 54 jati lakshana deshaih anyataa anavacchedaat tulyayoh tatah pratipattiih

Sebagai akibatnya, ada diskriminasi antara dua objek yang biasanya tidak dapat dibedakan berdasarkan kelas, karakteristik, atau posisi dalam ruang.

Yang pertama adalah 'melihat' pada tingkat yang paling halus yang mungkin, jadi tidak ada ‘kon-fusion’ di mana saja.

III - 55 taarakam sarvavishayam sarvathaavishayam akramam ca iti vivekajam jnaanam

Pengetahuan yang lahir dari kesadaran akan realitas ini adalah membebaskan, merangkul semua bentuk, melintasi masa kini dan masa depan, tanpa batas waktu.

III - 56 sattva purushayoh shuddhi saamye kaivalyam

Kesempurnaan adalah yoga adalah ketika kemurnian sattva sama dengan kemurnian Purusha.

Adnow

loading...