viral

loading...

Wednesday, November 5, 2014

Kesaktian Mpu Kuturan

Mpu Kuturan

Besakih, Uluwatu
Mpu Kuturan adalah seorang penasehat raja di Jawa yang setelah pensiun menjadi Senopati dan penasehat raja-raja di Bali. Di sela-sela waktu sebagai petinggi Beliau bersemedhi di Silayukti. Di antara penjelasan tersebut saya bertanya kepada Pinisepuh, tadi sebelum tangkil ke Perhyangan Mpu Kuturan kami tangkil ke pura Perhyangan Mpu Bradah. Saya bertanya siapa Mpu Bradah dan kenapa Beliau juga mempunyai Pura Perhyangan di Silayukti ini?
Mpu Bradah adalah salah satu saudara dari Mpu Kuturan yang menggantikan sebagai penasehat raja di Jawa setelah Mpu Kuturan pensiun. Mpu Kuturan mempunyai istri bernama Ratna Manggali yang mempelajari ilmu yang disebut Tantrayana yang jalannya adalah aliran kiri. Ratna Manggali kemudian dikenal juga dengan Calon Arang atau Walu Nateng Dirah atau Rondo Nateng Dirah. Rondo Nateng Dirah kalau sedang merapalkan ilmunya dan mereh mejadi bentuk lain disebut Calon Arang yang berwujud sangat seram dan menakutkan. Kalau di Bali seperti Rangda. Dan sebenarnya kata rangda ini berasal dari kata rondo bahasa Jawa atau artinya adalah janda. Dalam perkembangannya menjadi rongdo dan terdengar sebagai ‘rangda’ di Bali yang kemudian kata rangda ini seolah mewakili sesuatu yang menyeramkan. Akhirnya sosok Rondo Nateng Dirah atau Rangda Calon Arang ini mengganggu kerajaan dengan menyebarkan sakit grubug di wilayah kerajaan Airlangga.
Semua punggawa dan kesatria kerajaan tidak ada yang bisa menandingi ilmu Rangda Calon Arang. Termasuk Mpu Bradah. Tetapi kemudian, Mpu Bradah mempunyai anak yang bernama Mpu Bahula yang dikawinkan dengan anak dari Calon Arang yang bernama Diah Ratna Manggali. Kemudian Mpu Bahula berhasil mencuri kitab Tantrayana yang kemudian diserahkan kepada ayahandanya Mpu Bradah dan serta merta mempelajarinya hingga  pada suatu waktu bisa mengalahkan kesaktian Rangda Calon Arang. Mpu Bradah akhirnya mendapat gelar Inan Liak Lembah Tulis. Liak berarti: Linggih Ulian Aksara dan kemudian dikenal dengan kata Leak di Bali.
Singkat cerita, Mpu Bradah yang sakti mandraguna berkunjung ke Bali. Ia ingin menguji kesaktian Mpu Kuturan kakaknya. Pertempuran adu kesaktian berjalan berhari-hari akan tetapi tak kunjung ada yang kalah sampai akhirnya Mpu Bradah memutuskan untuk berhenti dan kembali ke Jawa. Mpu Bradah dalam perjalanan pulang ke Jawa, setelah lewat di lautan luas selalu dihadang ombak yang sangat besar dan akhirnya selalu kembali terdampar ke pesisir Silayukti. Beliau menyerah dan akhirnya mengakui bahwa kakaknya Mpu Kuturan lebih sakti darinya. Juga memutuskan untuk menemani kakaknya di Silayukti. Beliau berdua akhirnya Moksha di Silayukti dan masing-masing telah mempunyai Pura Perhyangan.

Silsilah Mpu Kuturan

Ida Bhatara Lingsir Hyang Pasupati menurunkan Sang Hyang Putranjaya, Sang Hyang Dewi Dhanu dan Sang Hyang Genijaya. Sang Hyang Genijaya (melinggih di Pura Lempuyang Luhur) menurunkan Panca Dewata, yaitu:
  • Mpu Gnijaya
  • Mpu Semeru
  • Mpu Ghana
  • Mpu Kuturan
  • Mpu Bradah
Sekedar tahu, Sanak Sapta Rsi diturunkan oleh Mpu Gnijaya yang beristrikan Ida Bhatari Dewi Manik Geni yaitu putri dari Ida Bhatara Putranjaya.

Horisontal – Budha - Perdhana

Mpu Kuturan, meringkas sekte pemujaan menjadi Trimurti: Brahma, Wisnu dan Ciwa yang akhirnya dalam desa pekraman menciptakan 3 soroh pura:
  • Pura Desa : Sthana Ida Bhatara Brahma
  • Pura Puseh: Sthana Ida Bhatara Wisnu
  • Pura Dalem: Sthana Ida Bhatara Ciwa

Ida Bhatara Brahma

Menitis ke Hyang Genijaya yang bersthana di Pura Lempuyang Luhur, Beliau dianggap yang menguasai hal-hal spiritual beserta sub-subnya termasuk usadha (balian).

Ida Bhatara Wisnu

Menitis ke Ida Bhatara Dewi Dhanu, Beliau Bersthana di Pura Batur, Ulun Danu. Beliau dianggap yang menguasai hal-hal kesuburan, kesejahteraan, kekayaan dan welas asih.


Ida Bhatara Ciwa

Beliau menitis ke Hyang Putranjaya, menurut penuturan Pinisepuh, Beliau belum bersthana di mana-mana tetapi sementara ini Beliau melinggih di Gunung Agung dan beliau juga dianggap yang berkuasa atas ha-hal2 kepemerintahan.

Sekte-sekte yang dimaksud:
  • Bairawa:  Bhatara Durga yg di Tuhan kan
  • Ganaphati: Bhatara Ganesha di Tuhan kan
  • Ciwa: Bhatara Ciwa di Tuhan kan
  • Waisnawa:  Bhatara Wisnu di Tuhan kan
  • Budha Mahayana:  sekte yang dianut Mpu Kuturan
Sebenarnya ada banyak sekali sekte namun sekte ini adalah sekte-sekte yang dianggap besar pada jaman tersebut seperti sekte yang menyembah: Bhatara Bayu, Bhatara Indra, Bhatara Kala, Sambu yang menyembah arca. Sekte ini mengadakan paruman atau pesamuan atas pimpinan Mpu Kuturan yang saat itu menjabat sebagai Senopati Raja di Bali dan tempat pertemuan tersebut kemudian dibangun Pura Samuan Tiga yang terletak di desa Bedulu, Gianyar.

Vertikal – Ciwa – Purusha

Mpu Kuturan juga melahirkan konsep pemujaan ke atas yang di wujudkan dengan Tri Purusha yaitu: Ciwa, Sadaciwa dan Paramaciwa

Ciwa

Disimbolkan dengan keberadaan gunung karena merupakan Sthana Dewata tertinggi di alam Bali dan gunung tersebut adalah gunung Agung yang disimbolkan sebagai Ciwa di mana pura Kahyangan Jagat Besakih didirikan sebagai pusat Leluhur Nusantara sekarang ini.

Sadaciwa

Adalah manifestasi dari Ida Bhatara Sang Hyang Ismaya atau dikenal dengan Sabda Palon atau dikenal juga sebagai Semar atau Tualen di Bali. Beliau adalah pengemong atau yang menjaga dan penasehat para Leluhur dari jaman ke jaman. Dikhabarkan bahwa sebelum Kerajaan Majapahit runtuh Sabda Palon berjanji untuk kembali lagi 500 tahun kemudian untuk membangkitkan kembali ajaran Ciwa Budha.
Perpaduan konsep horisontal (mendatar) dan vertikal (atas bawah) kalau digabungkan adalah Tapak dara, Purusha Pradhana, Rwabhineda yang disebut dengan Ardhanareswari yaitu Bapak dan Ibu atau Ciwa (bapak) dan Budha (ibu), Padamasana adalah Ciwa dan Rong Tiga adalah Budha, menjadi satu disebut Hyang Tunggal dan segala sebutan Beliau Hyang Widhi Wasa.

Karya Spiritual Mpu Kuturan

Sungguh kemampuan yang sangat luar biasa yang dimiliki oleh Beliau Mpu Kuturan. Peninggalannya tentang konsep pemujaan Ciwa Budha adalah karya spiritual yang sungguh hebat karena menyatukan kerumitan silsilah Dewata menjadi konsep sederhana yang sangat mudah untuk dipahami dan lestari sampai sekarang.

Berikut adalah karya spiritual Mpu Kuturan:

  • Konsep Ciwa Budha adalah yang terbesar seperti dijelaskan di atas karena menjadi acuan pemujaan seluruh umat Hindu Dharma di Nusantara.
  • Konsep Desa Dalem Puseh sebagai lanjutan penerapan konsep Ciwa Budha.
  • Konsep Catur Loka yaitu konsep mendirikan pura pemujaan pada masing-masing maksud yang terdiri dari: a). Pura Kawitan b). Pura Dhang Kahyangan c). Pura Sad Kahyangan atau Perhyangan Jagat d). Kahyanan Jagat.
  • Bentuk pelinggih seperti meru dan lain-lainnya adalah hasil dari penciptaan Beliau. Namun Padmasana disempurnakan lagi bentuknya oleh  Dhang Hyang Niratha salah satu dari keturunan Beliau juga.

Pura-pura Karya Mpu Kuturan

  • Pura Besakih bersama dengan Rsi Markandhea
  • Pura Silayukti di Padangbai, Karangasem adalah tempat Beliau bersemedhi dan Moksha.
  • Pura Batu Pageh, Desa Ungasan, Badung adalah pura yang disebut sebagai pagar Niskala alam Bali diatur dari pura ini.
  • Pura Samuan Tiga, adalah pura bersejarah waktu mempersatukan sekte-sekte di Bali.
  • Pura Sakenan, di Serangan
  • Pura Watu Klotok, di Klungkung
  • Pura Uluwatu, di Ungasan
  • Pura Menjangan, di Buleleng barat
  • Pura Ponjok Batu, di Buleleng timur
  • Pura Pejeng di Pejeng Gianyar
Demikian sekilas mengenai Mpu Kuturan, Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda yang telah datang dan membaca artikel ini.

Pura Goa Lawah

Goa Lawah

Gua Lawah Temple
Pura Goa Lawah dikenal sebagai salah satu dari enam pura penting di Bali. Lima diantaranya adalah pura Lempuyang, Uluwatu, Andakasa, Batukaru, dan Seleyukti. Goa Lawah terdiri dari kata goa dan lawah, dimana kata lawah dalam bahasa Bali berarti kelelawar. Jadi pura Goa Lawah merupakan sebuah pura yang didalamnya terdapat goa dengan ribuan kelelawar.


Goa Lawah – Lokasi Wisata Di Bali

Pura Goa Lawah termasuk wilayah desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Jaraknya sekitar 10 km ke arah timur kota Klungkung atau kurang lebih 50 km dari kota Denpasar. Menempuh jarak satu setengah jam dari Bandar udara Ngurah Rai melalui by pass Prof Ida Bagus Mantra. Lokasinya juga satu jalur dengan obyek wisata Candidasa, berkisar 15 km sebelah timur pura Goa Lawah dan dan Kerta Gosa Bali.
Mengenai sejarah pura Goa Lawah, tidak diketahui pasti kapan dan siapa yang membangun pura ini. Menurut penelitian para ahli sejarah pura ini dibangun pada abad ke-11 atas gagasan dari Mpu Kuturan. PuraGoa Lawah adalah tempat memuja Tuhan sebagai Dewa Laut.
Pemandangan di pura ini sangat khas, karena sebuah goa berada di bawah pepohonan yang rindang. Di mulut goa dibangun beberapa tempat pemujaan. Di depan goa dalam areal pura juga nampak banyak tempat pemujaan. Upacara besar di pura ini dilaksanakan tiap enam bulan sekali. Pada penanggalan Bali disebut hari Anggarkasih Medangsia.
Pura ini berada di seberang pantai dan memasuki wilayah perbukitan. Sebuah pura juga dibangun di pantai ini yang disebut Pura Segara. Pura Segara merupakan pura masyarakat sekitar yang sebagian besar mata pencahariannya sebagai nelayan untuk memuja Tuhan dengan sebutan Bhatara Baruna atau Dewa Laut.
Saat memasuki desa Pesinggahan menuju pura Goa Lawah, disepanjang jalan banyak terdapat warung yang menawarkan menu dari ikan laut. Seperti ikan bakar, pepes ikan, sate , sup ikan, sayur plecing, sambal mentah, sambal merah bumbu Bali, lengkap dengan nasi dan es kelapa muda. Warung – warung makanan ringan juga banyak terdapat diseberang pura. Areal parkir yang tersedia cukup luas yang berada di luar pura dan di tepi pantai. Daerah tujuan wisata ini ramai dikunjungi wisatawan mancanegara maupun domestik. Terutama pada saat musim liburan dan hari raya.
Goa Lawah adalah salah satu lokasi wisata di Bali yang banyak dikunjungi wisatawan untuk liburan di Bali dan pura Goa Lawah Bali sangat sering di jawadwalkan sebagai salah satu objek pariwisata Bali yang terdapat dalam paket tour di Bali. Jadwal tour ke objek wisata ini biasanya di sertai dengan kunjugan ke objek pariwisata Bali yang lain, seperti Tirta Empul Bali dan Ulun Danu Temple.

Tuesday, November 4, 2014

Kebenaran Kisah Mahabharata

Bukti-Bukti Kebenaran Kisah Mahabharata

Perang Bharatayuda

Khrisna dalam mahabharata antv
Para arkeolog terkemuka dunia telah sepakat bahwa perang besar di Kuruksetra merupakan sejarah Bharatavarsa (sekarang India) yang terjadi sekitar 5000 tahun yang lalu. Sekarang para peneliti hanya ingin menentukan tanggal yang pasti tentang peristiwa tersebut. Dari hasil pengamatan beserta bukti-bukti ilmiah. Dari berbagai estimasi maka dibuatlah suatu usulan peristiwa-peristiwa sebagai berikut :

  • Sri Krishna tiba di Hastinapura diprakirakan sekitar 28 September 3067 SM
  • Bhishma pulang ke dunia rohani sekitar 17 Januari 3066 SM
  • Balarama melakukan perjalanan suci di sungai Saraswati pada bulan Pushya 1 Nov. 1, 3067 SM
  • Balarama kembali dari perjalanan tersebut pada bulan Sravana 12 Dec. 12, 3067 SM
  • Gatotkaca terbunuh pada 2 Desember 3067 SM.

Bharatayuda adalah istilah yang dipakai di Indonesia untuk menyebut perang besar di Kurukshetra antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Perang ini merupakan klimaks dari kisah Mahabharata, yaitu sebuah wira carita terkenal dari India.
Dr. Rao meneliti bukti-bukti sejarah di lautan, di teluk Gujarat, untuk mengungkap bukti keberadaan Kerajaan Dwaraka. Istana Sri Krisna, otak penggalang strategis dari pihak Pandawa. Konon, kerajaan ini musnah ditelan gelombang laut tahun 1478 SM, setelah perang Bharatayudha tahun 1443 SM.
Michael Cremo mengadakan penelitian di daratan, diantaranya: Indraprasta, Hastinapura, dan padang Khurusethra, bekas perang itu terjadi. Seperti diketahui, Indraprasta merupakan tempat bermukim keluarga Pandawa di awal perjuangan merebut Hastina. Khurusethra adalah bekas pertempuran dahsyat keluarga Bharata.
Para ahli menemukan banyak bukti yang mengejutkan. Tanah tegalan luas itu ternyata tak ditumbuhi tanaman apa pun, karena tercemar radio aktif. Pada puing-puing bangunan atau sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo Daro tercemar residu radio aktif yang cukup pekat.
Menurut Dr.Indrajit, ahli termonuklir, hal ini terjadi diduga akibat radiasi ledakan termonuklir skala besar dalam peperangan tersebut. Jelasnya terdapat dalam kalimat Weda yang diterjemahkan bebas seperti ini, ”Arjuna yang gagah berani, duduk dalam Weimana/ Vimana.
Dalam Ufology, Vimana adalah wahana mirip piring terbang. Bahkan ada teori, bahwa dulunya Vimana adalah istilah untuk kendaraan alien yang berperang dengan manusia Bumi yang pada saat itu juga sudah canggih.
Teori kedua dalam Ufology, bahwa dulunya ada dua ras alien yang memperebutkan Bumi dan menghasilkan radiasi-radiasi yang hingga kini masih dapat dibuktikan.
Oleh kerenanya, manusia mengganggap bahwa para alien tersebut adalah “Dewa-dewa dari langit” yang sangat tangguh dan perkasa, lalu manusia membuat ceritanya dalam kitab-kitab Hindu.
Vimana dapat mendarat di tengah air, lalu mengangkat gendewa dan meluncurkan sebatang anak panah. Semacam senjata mirip rudal/ roket, yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang bersinar terang di atas wilayah musuh.
Curahannya seperti hujan lebat yang deras, mengepung musuh dengan kekuatan dahsyat. Setelah panah itu tiba pada sasarannya, dalam sekejap sebuah bayangan yang tebal dengan cepat terbentuk seperti cendawan raksasa merekah di atas wilayah kurawa.
Angkasa menjadi gelap gulita, semua kompas yang ada dalam kegelapan menjadi tidak berfungsi, kemudian badai angin yang dahsyat mulai bertiup wuuus… wuuus, disertai debu pasir.
Burung-burung bercicit panik seolah-olah langit runtuh dan bumi gonjang-ganjing. Sementara itu di atas langit, matahari seolah-olah bergoyang, panas membara memancarkan udara mengerikan, membuat bumi berguncang, dan gunung-gunung bergoyang.”

Keberadaan Kota Kuno Dvaraka

Demikian juga keberadaan kota Dvaraka yang dulu menjadi misteri, kota tersebut disebutkan dalam Mahabharata bahwa Dvaraka tenggelam di pantai. Doktor Rao adalah seorang arkeolog senior yang dengan tekun menyelidiki dengan “marine archaeology” dan hasilnya ditemukannya reruntuhan kota bawah laut, beserta ornamennya, didaerah Gujarat. Dwaraka, kota kerajaan Sri Krishna masa lalu.

Pura Tanah Lot, Bali

Pesona Tanah Lot

Tanah Lot
Pura Tanah Lot adalah salah satu tempat wisata di Bali yang terkenal dengan keindahannya, terutama pada saat matahari terbenam. Pura Tanah Lot yang terdiri dari 2 buah pura merupakan pura tempat memuja dewa laut. Keunikan dari Pura Tanah Lot adalah pura ini berada di atas sebuah batu karang besar di pinggir laut. Pada saat air laut pasang, anda tidak dapat mendekat ke Pura karena di sekitar batu karang penyangga Pura Tanah Lot akan digenangi air laut. Pada saat air surut anda dapat melihat beberapa ular laut jinak yang menurut penduduk setempat merupakan penjaga dari tempat tersebut. Selain itu, di lokasi ini anda juga dapat memegang ular suci yang jinak dan tidak berbahaya.
Tanah Lot adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lotmerupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.
Pura Tanah Lot adalah pura umum yang berfungsi untuk pemujaan Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Baruna yaitu dewa penguasa laut. Selain itu juga berfungsi sebagai tempat suci untuk memjua kebesaran dan kemuliaan Dang Hyang Nirartha sebagai seorang pendeta yang dianggap sebagai bhatara Sakti wau Rauh. Dengan demikian Pura Tanah Lot adalah tergolong sebagai pura umum yang mempunyai sifat dan karakter sebagai pura Dang Kahyangan. Berbeda dengan pura-pura lainnya di Bali, Pura Tanah Lot tidak memiliki beberapa halaman karena dibangun pada suatu dataran batu karang yang tidak beraturan sudut-sudut halamannya.
Untuk memasuki pura harus melalui liku-liku batu karang yang merupakan tangga-tangga naik tidak beraturan, mulai dari sebelah utara lalu membelok kearah barat dan ke selatan kemudian harus menaiki beberapa tangga lagi untuk sampai ke halaman pura. Tanah Lot memiliki upacara atau piodalan yang jatuh pada hari Rabu Wage Langkir yang berlangsung setiap 6 bulan atau 210 hari sekali. Pada saat itu seluruh umat Hindu dari berbagai daerah di Bali akan datang bersembahyang untuk memohon keselamatan dan ketentraman.

Dimana Lokasi Pura Tanah Lot ?

Pura Tanah Lot terletak di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, Indonesia. Pura Tanah Lot terletak sekitar 13 km arah barat Kota Tabanan, atau 25 km arah barat Kota Denpasar. Dari kota Denpasar atau Tabanan, wisatawan dapat menggunakan jasa taksi, menyewa mobil, motor, atau menggunakan jasa travel untuk menuju lokasi pura.

Tiket masuk dan Akomodasi

Dari tempat parkir banyak dijumpai art shop, kios-kios suvenir, jasa tattoo temporary, serta warung makan atau kedai minuman. Berbagai macam tipe penginapan juga banyak tersedia di sekitar pura, mulai dari penginapan kelas melati hingga hotel berbintang. Harga tiket memasuki obyek wisata Pura Tanah Lot sebesar Rp 7.500 untuk turis domestik, dan Rp 10.000 untuk turis asing.

Pesona Taman Ayun, Bali

Pesona Taman Ayun

Taman Ayun
Taman Ayun Bali adalah sebuah kompleks Pura yang sangat besar, terletak di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, kurang lebih 18 km dari jantung Kota Denpasar. Setelah kita melewati pintu masuk, taman luas yang terawat baik menyambut kedatangan, dengan rumput hijau yang benar-benar indah, tapi sayangnya pada saat hari panas hal ini dapat menjadi sangat berat karena tidak terdapat pohon-pohon besar untuk memberikan keteduhan di taman ini. Ketika kita mencari keteduhan, taman bagian belakang adalah jawabannya. Akan sangat menyenangkan sekali untuk berjalan-jalan di jalan bebatuan di bawah pohon-pohon besar ditemanani oleh suara burung-burung yang sedang bernyanyi.
Taman Ayun diterjemahkan secara harfiah sebagai taman yang indah dan dianggap sebagai salah satu Pura yang paling menarik di Bali. Dibangun pada tahun 1634 oleh Raja Mengwi, I Gusti Putu Agung. Pura ini berbatasan dengan sungai yang lebar yang mengairi sawah-sawah disekitar lokasi. Pura ini didedikasikan untuk para leluhur Kerajaan Mengwi dan dewa-dewa penting lainnya. Taman Ayun Bali dianggap sebagai “Pura Pusat” untuk Kerajaan Mengwi.

1. Dimana Lokasi Taman Ayun Bali ?

Taman ayun terletak di desa Mengwi Badung, sekitar 18 km barat laut Denpasar (atau 25 menit jika berkendaraan).

Pura taman ayun terdiri atas 4 halaman yang berbeda.

1. Halaman Pertama.

Disebut dengan Jaba yang bisa dicapai hanya dengan melewati satu-satunya jembatan yang berada di sisi kolam dan Pintu gerbang. Begitu masuk di sana ada tugu kecil untuk menjaga pintu masuk dan di sebelah kanannya terdapat bangunan luas (wantilan) dimana sering diadakan sabungan ayam saat ada upacara.

2. Halaman Kedua.

Di halaman ini, juga terdapat tugu air mancur yang mengarah ke 9 arah mata angin. Sambil menuju ke halaman berikutnya, di sebelah kanan jalan terdapat sebuah komplek pura kecil dengan nama Pura Luhuring Purnama.

3. Halaman Ketiga.

Taman Ayun Bali ini atau Halaman ke dua, posisinya lebih tinggi dari halaman pertama untuk masuk ke halaman ini, pengunjung harus melewati pintu gerbang kedua. Begitu masuk, pandangan akan tertuju pada sebuah bangunan Aling-aling “Bale Pengubengan” yang dihiasi dengan relief menggambarkan “Dewata Nawa Sanga”, (9 Dewa penjaga arah mata angin). Di sebelah timur halaman ini ada satu Pura kecil disebut Pura Dalem Bekak, sedangkan di pojok sebelah barat terdapat sebuah Balai Kulkul menjulang tinggi.

4. Halaman Keempat.

Halaman terakhir adalah yang tertinggi dan yang paling suci. Pintu gelung yang paling tengah akan dibuka di saat ada upacara, tempat ke luar masuknya arca dan peralatan upacara lainnya. Sedangkan Gerbang yang di kiri kananya adalah untuk keluar masuk kegiatan sehari-hari di pura tersebut. Halaman ini terdapat beberapa meru menjulang tinggi dengan berbagai ukuran dan bentuk. Tiga halaman dari Pura ini melambangkan tiga tingkat kosmologi dunia, dari yg paling bawah adalah tempat / dunianya manusia, ke tingkat yang lebih suci yaitu tempat bersemayamnya para dewata, serta yang terakhir melambangkan Sorga tempat berstananya Tuhan Yang Maha Esa. Seperti dikisahkan dalam cerita kuno Adhiparwa , keseluruhan kompleks pura menggambarkan Gunung Mahameru yang mengapung di tengah lautan susu.

Kenapa Pura ini hancur Pada Tahun 1917 ?

Taman Ayun Bali ini hancur karena gempa bumi hebat yang terjadi pada tahun 1917 dan tidak sempat dipugar hingga tahun 1950. Candi bentar dan tugu yang tingginya mencapai 16 meter di halaman bagian dalam Pura tersebut dibangun sesuai arsitektur Jawa, sedangkan candi yg kecil berupa tempat duduk dari batu berjumlah 64 buah merupakan tugu leluhur jaman megalitikum untuk mengenang para ksatria yang gugur dalam perang.

Garuda Wisnu Kencana, Bali

Patung Garuda Wisnu Kencana

Patung Garuda
Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana atau Garuda Wisnu Kencana Cultural Park, disingkat GWK, adalah sebuah taman wisata di bagian selatan pulau Bali. Taman wisata ini terletak di tanjung Nusa Dua, Kabupaten Badung, kira-kira 40 kilometer di sebelah selatan Denpasar, ibu kota provinsi Bali. Di areal taman budaya ini, direncanakan akan didirikan sebuah landmark atau maskot Bali, yakni patung berukuran raksasa Dewa Wisnu yang sedang menunggangi tunggangannya, Garuda, setinggi 12 meter.
Di kawasan itu terdapat juga Patung Garuda yang tepat di belakang Plaza Wisnu adalah Garuda Plaza di mana patung setinggi 18 meter Garuda ditempatkan sementara. Pada saat ini, Garuda Plaza menjadi titik fokus dari sebuah lorong besar pilar berukir batu kapur yang mencakup lebih dari 4000 meter persegi luas ruang terbuka yaitu Lotus Pond. Pilar-pilar batu kapur kolosal dan monumental patung Lotus Pond Garuda membuat ruang yang sangat eksotis. Dengan kapasitas ruangan yang mampu menampung hingga 7000 orang.
Area Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana berada di ketinggian 146 meter di atas permukaan tanah atau 263 meter di atas permukaan laut. Patung ini nantinya setelah selesai akan menjadi patung terbesar dunia dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter dan akan mengalahkan patung liberty. GWK ini merupakan mahakarya dari seniman Bali I Nyoman Nuarta yang berada di daerah Bali Selatan tepatnya di bukit Unggasan. Area Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana berada di ketinggian 146 meter di atas permukaan tanah atau 263 meter di atas permukaan laut.
Terdapat juga patung tangan Wisnu yang merupakan bagian dari patung Dewa Wisnu. Ini merupakan salah satu langkah lebih dekat untuk menyelesaikan patung Garuda Wisnu Kencana lengkap. Karya ini ditempatkan sementara di daerah Tirta Agung.

Daya Tarik Utama Dari Garuda Wisnu Kencana.

Daya tarik utama dari wisatawan untuk berlibur ke GWK Bali adalah untuk melihat patung Garuda Wisnu. Dibangun dan di ukir oleh pengukir dan pematung terkenal bernama I Nyoman Nuarta. Patung Garuda Wisnu memiliki rencana awal akan di bangun dengan tinggi 126 meter dan lebar 60 meter. Tapi sampai saat ini, tinggi patung hanya 20 meter, pembangunan patung Garuda Wisnu sampai saat ini belum selesai dan penulis kurang tahu apa sebabnya belum diselesaikan sampai saat ini.
Selain patung Garuda Wisnu, di tempat wisata GWK ini, para pengunjung dapat menikmati pemandangan dari matahari terbenam. Tidak hanya pemandangan indah saja yang anda dapat liat di kawasan wisata GWK, tempat wisata ini juga menawarkan beraneka ragam acara hiburan dari pagi hari, sampai malam hari.

Jadwal Tari Kecak dan Harga Tiket Garuda Wisnu Kencana Bali.

Tempat wisata di Bali GWK di buka dari jam 08:00 – 22:00, untuk biaya tiket masuk ke GWK, per tanggal 1 Agustus 2014 anda akan dikenakan:
Dewasa: Rp 50.000 / orang
Anak: Rp 40.000 / anak
Pelajar: Rp 40.000 / anak
Salah satu tempat yang menyediakan pertunjukan tari kecak di Bali setiap hari adalah GWK Bali. Jadwal pertunjukan tari Kecak GWK Bali dimulai dari jam 18:00 – 19:00. Untuk menonton tari Kecak di GWK anda tidak dikenakan biaya atau gratis.

Pantai Jimbaran, Bali

Romantisnya Pantai Jimbaran, Bali

Jimbaran
Pantai Jimbaran adalah salah satu tempat wisata di Bali yang paling terkenal. Pada saat anda datang ke Pantai Jimbaran, yang pertama kali akan anda lihat adalah deretan meja dan kursi makan di atas pasir putih yang indah. Pantai Jimbaran terkenal dengan kuliner pinggir pantainya, terutama hidangan lautnya. Pantai Jimbaran untuk anda yang ingin berwisata ke pantai sekaligus menikmati wisata kuliner khas Bali. Tidak perlu kuatir menyantap makanan di Pantai ini karena ombak di Pantai sangatlah tenang, tidak membahayakan anda yang sedang makan di pinggir pantai.
Pantai Jimbaran adalah salah satu pantai pasir putih di Bali, pasirnya halus dan berwarna putih ke kuning – kuningan. Kebersihan di pantai ini selalu terjaga, karena ada petugas kebersihan yang bertugas membersihkan areal pantai. Di sepanjang pinggir pantai banyak dibangun hotel, spa dan villa. Seperti hotel Intercontinental dan Four Seasons Jimbaran, pihak hotel juga selalu menjaga kebersihan di tepi pantai, dengan mengadakan acara gotong royong membersihkan pantai dari sampah.
Dengan pemandangan pantainya yang indah, memiliki pasir putih serta pemadangan matahari terbenam, maka banyak hotel dipinggir pantai, sering menggelar berbagai acara di tepi pantai ini. Dari tepi pantai anda dapat melihat bandara Ngurah Rai, yang merupakan satu-satunya bandara berstandar international di Bali.

Hal yang Menarik Di Pantai Jimbaran


Jimbaran merupakan sebuah kelurahan yang terdiri atas 12 banjar adat dan 1 banjar dinas di wilayah Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Jimbaran dikenal dengan pantainya yang indah, selain itu kawasan pantai ini juga merupakan salah satu tempat favorit untuk menikmati hidangan laut. Dahulu mayoritas penduduk di sekitar kawasan pantai bermata pencaharian sebagai nelayan atau petani. Akan tetapi setelah perubahan kawasan menjadi salah satu objek wisata, banyak dari penduduk lokal yang kemudian beralih profesi menggeluti bidang pariwisata. Dengan mendirikan penginapan ataupun mendirikan tempat makan. Selain itu banyak tempat tempat menarik di sekitar Jimbaran.
Disini Anda bisa memilih sendiri makanan Anda. Kepiting, dan ikan laut lain tersedia, mau digoreng, di bakar atau dikukus, pembeli bebas memilih sendiri bagaimana ikannya dimasak. Selain itu biasanya pihak pengelola tempat makan juga menyajkan hiburan live musik yang semakin membuat malam hari Anda di pantai ini kian menarik. Untuk mencapai kawasan pantai, bisa Anda tempuh selama 30 menit perjalanan dari Kota Denpasar, atau kurang lebih 10 menit dari Bandara Internasional Nguah Rai Bali. Selain tempatnya yang menarik, pantai Jimbaran juga merupakan kawasan yang strategis, karena berjarak kebih kurang 5 km dari Pantai Kuta, sehingga Anda juga bisa mengunjungi objek wisata lain di Kota Denpasar dengan waktu tempuh pendek.
Karena dari awal kawasan jimbaran merupakan kampung nelayan, maka tidak susah untuk menemukan ikan segar. Hal inilah yang mendorong pelaku industri untuk mendirikan restoran, warung makan, dan café di sekitar tempat wisata ini. Kondisi pantai tak jauh dengan kebanyakan pantai pantai di bali lainnya, kondisi pantai yang landai dan memiliki pasir putih dengan ombak laut yang tidak begitu besar menjadikan Pantai Jimbaran lokasi yang tepat untuk mendirikan usaha kuliner di tepi pantai. Sembari menikmati hidangan sea food Anda juga disuguhkan dengan pemandanga dan hembusan angin laut di malam hari yang menambah indah suasana makan malam Anda.

Jika Anda telah puas menikmati indahnya panorama pantai  Anda bisa menikmati tempat wisata lain yang juga berada di daerah Jimbaran. Masih banyak sekali tempat-tempat menarik di sini yang bisa Anda kunjungi antara lain pantai muaya jimbaran pantai berbatu karang (wisata mancing) tegal wangi tungak sabe, batu layah, bene. Jangan lupa sebelum pergi liburan, persiapkan terlebih dahulu segala kebutuhan Anda dan jangan lupa baca Referensi tempat wisata di Bali yang patut dikunjungi.

Di Pantai Pandawa Terdapat Patung-patung Tokoh Film Mahabharata

Pesona Pantai Pandawa

Mahabharata
Pantai Pandawa adalah salah satu kawasan wisata di area Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Pantai ini terletak di balik perbukitan dan sering disebut sebagai Pantai Rahasia. Di sekitar pantai ini terdapat dua tebing yang sangat besar, yang pada salah satu sisinya dipahat lima patung Pandawa dan Kunti yag terdapat dalam kisah perang bharata dalam kisah Mahabharata.
Keenam patung tersebut secarara berurutan diberi nama Dewi Kunti, Dharma Wangsa, Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa. Kenapa dinamakan Pantai Rahasia atau Secret Beach? Tempat wisata ini dahulu disebut dengan nama Secret Beach, karena lokasinya yang berada di balik tebing kapur tinggi, sehingga tak banyak orang yang mengetahui keberadaannya.
Tempat wisata ini dahulu disebut dengan nama Secret Beach karena lokasinya yang berada di balik tebing kapur tinggi, sehingga tak banyak orang yang mengetahui keberadaannya. Sekarang, pemerintah daerah telah membuka akses masuk dengan membuat jalan sepanjang 1,5 km membelah tebing kapur.
Tempat wisata yang juga disebut dengan Pantai Kutuh ini memiliki keindahan yang tak kalah dibandingkan pantai lainnya di Bali. Hamparan pasir putih dan airnya yang biru kehijauan membuat siapa saja betah berlama-lama menikmatinya dengan duduk di deretan kursi malas di pantai ini.
Nama tempat wisata ini didapatkan dari adanya lima buah patung Pandawa, legenda dalam ajaran Hindu, yang menghadap pantai. Di tebing kapur tersebut dibuat lubang-lubang untuk menempatkan kelima patung Pandawa, yang terdiri dari Yudistira, Bima, Arjuna dan si kembar Nakula dan Sadewa.
Berkunjung ke pantai ini berarti Anda perlu bersiap-siap untuk basah. Berenang menjadi aktivitas utama selain kano atau paragliding. Akan tetapi, apabila tidak ingin berbasah-basahan maka Anda bisa bersantai duduk di warung-warung pinggir pantai sembari menikmati air kelapa bersama jagung bajar. Anda juga bisa berjalan-jalan di sepanang pesisir pantainya menyaksikan petani rumput laut yang sedang beraktivitas.
Selain dikenal dan dijadikan sebagai tujuan wisata pantai, Pantai Pandawa juga digunakan sebagai lokasi upacara hindu “melasti” oleh masyarakat desa setempat. Oleh karena itu, datang pada saat upacara tersebut dapat memberikan atraksi yang lebih mengesankan.
Pantai Pandawa memang dijadikan sebagai tempat budidaya rumput laut. Di pantai ini Anda bisa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang budidaya rumput laut yang dijalankan masyarakat sekitar sejak 1980-an. Kabarnya kini aktivitas budidaya tersebut menggandeng mitra dari negara lain seperti Denmark dan Amerika Serikat.
Ombak di Pantai Pandawa tergolong ideal untuk berselancar. Menurut warga sekitar, terungkapnya keberadaan pantai ini juga tak lepas dari beberapa wisatawan yang dahulu seringkali membawa papan selancarnya berjalan menuju ke arah pantai ini. Banyak yang penasaran mengapa mereka melewati tebing dengan membawa papan selancar. Saat itulah keberadaan pantai ini mulai diketahui banyak orang sampai sekarang.
Menjelang sore, banyak nelayan yang datang memunguti rumput laut yang terdampar karena terbawa ombak. Di kawasan pantai ini memang terdapat budidaya rumput laut oleh nelayan setempat. Selain mengambil rumput laut yang telah mati dan terbawa ombak ke tepi pantai, para nelayan ini juga melakukan penanaman rumput laut untuk menjaga kelestarian alam di Pantai Pandawa.
Jika di Pantai Kuta Anda bisa ikut dalam kegiatan pelepasan tukik ke laut, di sini Anda bisa ikut dalam upaya penanaman rumput laut bersama para nelayan. Meskipun sedang berlibur, namun upaya menjaga lingkungan tentu tetap wajib dilakukan, ya.
Jika tak puas menikmati keindahan pantai ini dari atas pasir putihnya saja, Anda bisa berlayar ke laut lepas. Tersedia perahu dayung yang disewakan dengan harga 15.000 Rupiah untuk Anda gunakan menyusuri jernihnya air laut di sini. Jangan lupa untuk menyewa baju pelampungnya juga dengan harga 10.000 Rupiah demi keamanan dan keselamatan Anda.
Keindahan Pantai Pandawa membuat siapa pun ingin mengabadikannya dalam bingkai foto. Hamparan pasir putih dan air biru kehijauannya menjadi pemandangan kontras dan cantik. Jika ingin mengambil foto dengan angle yang berbeda, cobalah naik ke atas tebing dan bidik gambar terbaik dari tempat wisata ini.
Karena keindahannya, Pantai Pandawa juga seringkali dijadikan lokasi untuk foto prawedding dan pengambilan gambar untuk keperluan komersil seperti iklan dan juga film.

Di pantai ini tersedia kursi malas dilengkapi payung yang bisa Anda sewa untuk berjemur. Siapkan bahan bacaan, suasana pantai yang tenang sangat cocok jika dinikmati sambil membaca buku favorit Anda. Sambil berjemur dan membaca, Anda juga bisa memanggil tukang pijat yang berkeliling di sekitar pantai.

Monday, November 3, 2014

Kidung Suci Pitra Yajna

Kidung Pitra Yajna

Ngaben
  1. Nedunang layon pacang nyiramang
    Menurunkan Jenazah untuk dimandikan
Cewana – Girisa
    1. Ata sedengira mantuk sang suralaga ringayun.
      Tucapa aji wiratan. Karyasa nagisi weka.
      Pinahajongira laywan sang putra mala piniwa.
      Pada litu hajenganwam. Lwir kandarpa pina telu.
    2. Lalu laranira nasa sambat putranira pejah.
      Lakibi sira sumengkem ring putra luru kinusa.
      Ginamelira ginanti kang laywan lagi ginugah.
      Inutusira masabda kapwa ajara bibi aji.
  1. Nyiramang layon – Memandikan Jenazah.
Bala – ugu.
    1. Bala ugu dina melah, manuju tanggal sasih.
      Pan Brayut panamaya. Asisig adyus akramas.
      Sinalinan wastra petak. Mamusti madayang batis.
      Sampun puput maprayoga, tan swe ngemasin-mati.
    2. Ikang layon ginosongan, ne istri tuhu satya, de pamayun matingkah.
      Eteh eteh sang paratra. Toya hening pabresihan.
      Misi ganda burat-wangi. Lengise pudak sategal.
      Sumar ganda mrbuk arum.
    3. Pusuh menuhe uttama. Malem sampun macawisan.
      Tekening edon intaran. Bebek wangi lengis kapur.
      Monmon mirah windusara. Waja meka panca datu.
      Don tuwung sampun masembar. Sikapa kalawan taluh.
    4. Buku-buku panyosalasan. Pagamelane salaka.
      Kawangene panyelawean. Gegalenge satak-seket.
      Sampun puput pabersihan. Winiletang dening kasa.
      Tikeh halus wijil jawa. Lante maulat panyalin.
  1. Mamarga ka setra – Pergi ke Kuburan
Indra – wangsa
    1. Mamwit narendratmaja ring tapowana.
      Manganjali ryagraning indra parwata.
      Tan wis mrti sangka nikang hayun teka.
      Swabhawa sang sajana rakwa mangkana.
    2. Mangkat dateng toliha rum wulat nira.
      Sinambaying camara sangkaring geger.
      Panawanging mrak panangisnikungalas.
      Erang tininggal masaput-saput hima.
    3. Lunghang lengit lampahira ngawe tana.
      Lawan Sang Erawana bajranaryama.
      Tan warnanen decanikang katungkulan.
      Apan leyep muksa sahinganing mulat.
  1. Ngeseng Sawa – Memperabukan Jenazah.
    1. Sang atapa sakti bhakti, astiti purwa sangkara.
      Yan mati maurip malih. Wisesa sireng bhuwana.
      Putih timur abang wetan. Rahina tatas apadang.
      Titisning jaya kamantyan. Mapageh ta samadinira.
    2. Nghulun angadeg ring natar. Kamajaya cintanya.
      Sang atunggu parawean. Mawungu pakarab-karab.
      Ilangani dasa-mala, amrtang gangga asuci.
      Pamunggal rwaning wandira. Pinaka len prehanira.
    3. Yan sampun sira araup. Isinikang kundi manik.
      Anut marga kita mulih. Yan sira teka ring umah.
      Tutugaken samadinta. Sapangruwat sariranta.
      Isenikang pangasepan. Kunda kumutug samiddanya.
    4. Wewangen dadi tembaga. Rurube kang dadi emas.
      Arenge kang dadi wesi, Awune kang dadi selaka.
      Kukuse kang dadi mega. Yeh iku manadi ujan.
      Tumiba ring Mrecapada. Yeh iku dadi amretta.
  2. Rikala ngayut – Buang abu ke laut.
    1. Ring wetan hana telaga. Rikata hulun adyusa.
      Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
      Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sarira.
      Sakwehing malapataka. kalebura ring tanane.
    2. Ring kidul hana talaga. Rikata hulun adyusa.
      Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
      Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
      Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.
    3. Ring kulon hana talaga. Rikata hulun adyusa.
      Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
      Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
      Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.
    4. Ring lor hana talaga. Rikata hulun adyusa.
      Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
      Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
      Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.
    5. Ring madya hana talaga. Rikata hulun adyusa.
      Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
      Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
      Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.
    6. Sampun ta sira abresih, anambut raja bhusana.
      Binurating sarwa sari. Mrebuk arum gandaning wang.
      Matur sira ring Hyang Guru. Sinung wara nugraha sira.
      Keasunganing mandi swara. Paripurna tur nyewan

Kidung Suci Manusia Yajna

Kidung Manusia Yajna


Aneka Kidung
  1. Kawitan Tantri – Pendahuluan.
    1. Wuwusan Bhupati. Ring Patali nagantun.
      Subaga wirya siniwi. Kajrihin sang para ratu.
      Salwaning jambu warsadi. Prasama hatur kembang tahon.
    2. Tuhu tan keneng api. Pratapa sang prabu Kesyani ruktyeng sadnyari.
      Sawyakti Hyang Hari Wisnu. Nitya ngde ulaping ari.
      Sri dhara patra sang katong.
    3. Wetning raja wibawa, mas manik penuh.
      Makinda yutan ring bahudanda. Sri Narendra, Sri Singapati,
      Ujaring Empu Bhagawanta. Ridenira panca-nana.
      Bratang penacasyan.
      Hatur Hyang Dharma nurageng bhuh.
    4. Kadi kreta yuga swapurneng nagantun Kakwehan sang yati.
      Sampun saman jayendrya. Weda Tatwa wit. Katinen de Sri Narendra.
      Nityasa ngruci tutur. Tan kasareng. wiku apunggung wyara brantadnya ajugul.
  2. Demung Sawit (bawak, dawa)
    1. Tuhu atut bhiseka Nrapati. Sri Eswaryadala.
      Dala kusuma patra nglung,
      Eswarya raja laksmi.
      Sang kulahamenuhi rajya.
      Kwening bala diwarga.
      Mukya sira.
      Kryana patih Sangniti Bandeswarya patrarum.
    2. Nityasa angulih- ulih amrih sutrepting nagara,
      lan sang paradimantriya.
      Tuhu widagda ngelus bhumi.
      Susandi tinut rasaning aji,
      Kutara manawa.
      Mwang sastra sarodrsti.
      Matangyan tan hanang baya kewuh.
    3. Pirang warsa Sri Nrapati Swaryadala.
      Tusta ngering sana.
      Kaladiwara hayu.
      Sri narapati.
      Lagya gugulingan ring taman.
      Ring yaca ngurddha angunggul.
      Yayamireng tawang.
      Tinum pyata tinukir.
      Kamala kinanda-kada.
      Langu inipacareng santun.
    4. Mangamyat kalangenikang nagara.
      Tisoba awiyar.
      Indra bhuwana nurun,
      Kweh tang pakwana titip.
      Pada kabhi nawa.
      Dening sarwendah linuhung.
      Liwar sukanikang wong.
      Anamtami kapti.
      Arumpuka sari sama angrangsuk bhusana aneka marum.

Aneka Kidung Suci Hindu

Kidung Dewa Yajna

Wargasari
Seni suara adalah salah produk seni yang lahir hampir bersamaan dengan kelahiran manusia, demikian kata seniman. Seni suara demikian akrab di dalam kehidupan manusia. Seni suara mampu memberikan ketenangan dalam hati dan jiwa manusia. Seni suara merupakan media untuk mengekspresikan suasana hati dari manusia.
Demikian akrabnya seni suara dengan kehidupan manusia sehingga hampir setiap aktivitas manusia diiringi dengan seni suara. Tidak terkecuali dalam aktivitas spritual. Di Hindu, seni suara juga merupakan sarana untuk beryadnya. Yaitu melakukan korban suci dengan melagukan sebuah kidung suci yang mampu menciptakan suasana damai di hati.
Marilah kita simak satu persatu warisan leluhur kita, sebagai bagian dari setiap upacara/aktivitas spritual umat hindu.

  1. Kawitan Warga Sari – Pendahuluan sembahyang
    1. Purwakaning angripta rumning wana ukir.
      Kahadang labuh. Kartika penedenging sari.
      Angayon tangguli ketur. Angringring jangga mure.
    2. Sukania harja winangun winarne sari.
      Rumrumning puspa priyaka, ingoling tangi.
      Sampun ing riris sumar. Umungguing srengganing rejeng
  2. Pangayat – Menghaturkan sajen
    Kidung Warga Sari
    1. Ida Ratu saking luhur. Kawula nunas lugrane.
      Mangda sampun titiang tanwruh. Mengayat Bhatara mangkin.
      Titiang ngaturang pajati. Canang suci lan daksina.
      Sami sampun puput. Pratingkahing saji.
    2. Asep menyan majagau. Cendana nuhur dewane,
      Mangda Ida gelis rawuh. Mijil saking luhuring langit.
      Sampun madabdaban sami. Maring giri meru reko.
      Ancangan sadulur, sami pada ngiring.
    3. Bhatarane saking luhur. Nggagana diambarane.
      Panganggene abra murub. Parekan sami mangiring.
      Widyadara-widyadari, pada madudon-dudonan,
      Prabhawa kumetug. Angliwer ring langit.
  3. Pamuspan – Sembahyang
    Merdu – Komala
    1. Ong sembah ning anatha. Tinghalana de Triloka sarana.
      Wahya dyatmika sembahing hulun ijeng ta tan hana waneh.
      Sang lwir agni sakeng tahen kadi minyak sakeng dadhi kita.
      Sang saksat metu yan hana wwang hamuter tutur pinahayu.
    2. Wyapi-wyapaka sarining paramatatwa durlabha kita.
      Icantang hana tan hana ganal alit lawan hala-hayu.
      Utpatti sthiti lina ning dadi kita ta karananika.
      Sang sangkan paraning sarat sakala-niskalatmaka kita.
    3. Sasi wimbha haneng: ghata mesi banyu.
      Ndan asing suci nirmala mesi wulan.
      lwa mangkana rakwa kiteng kadadin.
      Ring angambeki yoga kiteng sakala.
    4. Katemun ta mareka sitan katemu.
      Kahidepta mareka si tankahidep.
      Kawenang ta mareka si tan ka wenang.
      Paramartha Siwatwa nira warana.
  4. Nunas tirtha – Mohon tirtha
    1. Turun tirtha saking luhur. nenyiratang pemangkune.
      Mekalangan muncrat mumbul. Mapan tirtha mrtajati.
      Paican Bhatara sami, panglukatan dasa-mala.
      Sami pada lebur. Malane ring gumi.