viral

loading...

Monday, September 29, 2014

Kematian Shakuni

Akhir Hidup Shakuni

sakhuni atau sangkuni
Shakuni, atau yang dalam ejaan Sanskerta disebut Shakuni (: शकुनि ; śakuni) atau Saubala adalah seorang tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Shakuni terkenal sebagai tokoh licik yang selalu menghasut para Korawa agar memusuhi Pandawa. Dunia pewayangan versi Jawa mengenal nama Shakuni (Shakuni) yang mendapat jabatan sebagai patih saat pihak Korawa berkuasa di Kerajaan Hastina. Dalam versi Jawa dia dikenal juga dengan Trigantalpati.
Sungguh tokoh yang satu ini mempunyai peran besar dalam jalannya cerita wayang Mahabarata. Berbagai peperangan, konflik, kudeta, penindasan dan sebagainya boleh dikata, dia mempunyai peran di dalamnya. Melalui dia pula, Kurawa mampu berkuasa di tahta Hastina dan berjuang sampai darah penghabisan mempertahankan kekuasaan tersebut.
Hidupnya penuh dendam, rasa dendam atas Pandu, karena sayembara Kunthi yang dimenangkanya, dendam atas perlakukan Pandu, karena Gendari ternyata dinikahkan kepada saudaranya Destarata. Bagi saudaranya Gendari, Shakuni rela hanya menjadi patih. Demi keturunan Gendari, dia juga rela hanya menjadi penasehat saja. Dia tidak bernafsu menjadi raja, tetapi baginya saudaranyalah yang utama. Kekuasaan yang sesungguhnyalah yang dia kehendaki, tanpa harus menjadi raja. Kekuasaan mempengaruhi siapa saja untuk menuruti kehendaknya.
Shakuni bukan seorang pendekar dengan ilmu kanuragan, ngeda-edapi. Meski demikian, ia mempunyai kesaktian yang luar biasa, yaitu tidak mempan segala macam senjata, sekalipun senjata para Pandawa. Kesaktian tersebut diperoleh melalui minyak Tala milik sang Pandhu membaluri sekujur tubuhnya. Kelemahannya hanya pada mulut dan dubur, karena bagian itu tidak tersentuh minyak Tala. Namun, kelemahan itu tetap menjadi senjata andalannya, melalui mulutnya, nasehat-nasehat yang meluncur, dia mampu merubah banyak hal. Kelemahan sekaligus kekuatan.
Kematian Shakuni, ada dua versi (paling tidak), satu dibunuh oleh Sadewa (pandawa terakhir) dan versi lainnya adalah Bima (putra kedua). Apapun itu, tetapi satu hal, bahwa Shakuni tetap bisa mati. Sadewa adalah sosok yang dikenal sebagai ahli perbintangan (nujum), ahli intelijen dan ahli pengobatan. Sedangkan Bima adalah sosok yang jujur, apa adanya, dan sakti. Kematian di tangan Bima, dengan menyobek mulut Shakuni dengan Pancanakanya.
Jika, politik saat ini menurut Anas Urbaningrum adalah banyak dikendalikan oleh para Shakuni, maka untuk mengalahkannya adalah membungkam mulut Shakuni. Ya kelebihannya itu sendiri harus dijadikan senjata makan tuan. Opini dibalas dengan opini, rekayasa dibalas dengan rekayasa. Namun ingat, hanya orang-orang “jujur apa adanya” akan berhasil membungkan Shakuni. Demikian pula, jika dengan sosok Sadewa, maka harus tahu betul kelemahan Shakuni, tahu apesnya, tahu jaringannya dan sebagainya, yang penting, peta kekuatan dikuasai betul. Ini adalah kerja intelejen.

Kisah Perjalanan Hidup Shakuni


Perseteruan Pandawa dan Kurawa hampir mencapai babak akhir yaitu perang besar bharatayuddha, dalam perang saudara itu ada satu hal yang paling dinanti-nantikan oleh penggemar serial Mahabharata di Indonesia, yaitu matinya si lidah tajam Shakuni. 

Shakuni dalam kisah Mahabharata diceritakan sebagai seorang yang menyimpan dendam terhadap kehancuran Hastinapura, karena itu ia berusaha untuk mengadu domba seratus orang anak Detrarasta (Korawa) dengan kelima anak Pandu (Pandawa). 


Sebagai penguasa kelicikan (meskipun masih kalah licik dibaning Kresna ) Shakuni dengan mudah menghasut Duryodhana untuk memusuhi para Pandawa, bahkan ketika pandawa menagih hak kerajaannya kepada Duryodana setelah dihukum selama 12 tahun akibat kalah bermain dadu, Shakuni meminta Duryodhana untuk tidak begitu saja menyerahkan Indraprasta milik Pandawa.

Shakuni memang menyimpan dendam kepada Hastinapura ketika kerajaannya diserang oleh Hastinapura yang menawan dirinya dan saudara-saudaranya dalam ruang tahanan. Shakuni menyaksikan sendiri bagaimana saudara-saudaranya satu persatu meninggal di hadapannya, dan konon dadu yang memenangkan Shakuni dalam perjudiannya dengan Yudhistira itu dibuat dari tulang belulang saudara-saudaranya dari Gandhara sewaktu menjadi tawanan Bisma dan Hastinapura.


Shakuni merasakan betul bagaimana merasakan sakit ketika dihianati, terlebih dalam tahanannya dia dan saudara-saudaranya hanya diberikan makanan berupa satu butir nasi untuk tiap-tiap orang. Sebutir nasi itulah yang selalu diingatnya ketika dirinya menghasut Duryodana untuk memerangi Pandawa. Karena gara-gara sebutir nasi itu juga saudara-saudaranya meninggal dihadapannya.

Shakuni telah merasakan penghianatan serta pahit-getirnya hidup dalam penjara, apalagi saat itu dirinya dan saudara-saudaranya yang lain hanya diberikan makanan berupa sebutir nasi untuk tiap-tiap orangnya. Agar Shakuni bisa tetap hidup untuk membalaskan dendam mereka, maka satu butir nasi itu kemudian mereka kumpulkan dan diberikan pada Shakuni. 
Hal itu berlangsung cukup lama sampai satu persatu saudara-saudaranya kemudian meninggal dihadapannya karena kelaparan.

Inilah bagian cerita yang tidak diketahui oleh semua orang, alasan mengapa Shakuni mau berbuat licik dengan menghasut Kurawa untuk memusuhi Pandawa.  Itu adalah karena Shakuni memang telah bertekad untuk membalaskan dendam saudara-saudarnya yang mati dengan cara menghancurkan Hastinapura dari dalam, dan kesempatan itu datang ketika Gandari dipersunting oleh Detrarasta yang meskipun ia merasa terhina dengan lamaran dari orang yang pernah menghancurkan kerajaan dan saudara-saudaranya itu, ditambah terhina karena adiknya yang akan dinikahkan dengan orang yang buta.

Hasutan pertama Shakuni adalah pada Destrata dengan mengatakan bahwa ialah (Destrarata) yang seharusnya jadi raja karena merupakan putra tertua dari dinasti Kuru bukan Pandu. Hasutannya berhasil, perpecahan pun terjadi antara dua saudara, Detrarasta dan Pandu.

Tidak cukup sampai di situ, Shakuni kembali melakukan hasutannya pada anak-anak mereka terutama anak tertua Detrarasta yaitu Duryodhana. Sejak anak-anak Destrarasta masih kecil, Shakuni mulai mengajarkan mereka bahwa anak-anak Pandu adalah musuhnya.
Akibat hasutannya Hastinapura terbagi menjadi dua yaitu Indraprastha, Kurawa dan Pandawa memiliki pemerintahannya masing-masing. Namun tak cukup sampai disitu, Shakuni terus melakukan berbagai upaya liciknya, sampai akhirnya terjadilah peristiwa perang Bharatayuddha.

Shakuni menemui ajal tepat di hari terakhir yaitu hari ke-18 dalam peperangan tersebut. Ia mati ditangan Sadewa. Dalam kisah pewayangan versi Jawa Shakuni diceritakan mati dicabik-cabik oleh Bima. 

Si pembuat onar itu telah mati dan hal itu membuat banyak penggemar serial ini bertepuk tangan menyaksikan kematiannya yang tragis. Namun sayang, karena seiring matinya Shakuni yang dilanjutkan dengan kematian Duryodana, serial Mahabharata ini pun berakhir.
Shakuni memang telah mati, tapi dalam kematiannya itu Shakuni merasa senang karena telah berhasil membalaskan dendam atas kematian saudara-saudaranya. Ia merasa senang karena telah berhasil memecah belah Hastinapura, dan menghancurkan Bisma yang dahulu pernah menyerang dan menghina Kerajaannya. Namun dalam matinya itu ia masih tetap menyayangi keponakannya, Duryodhana.

Ajaran Karma Phala

Karma Phala


Karma phala berasal dari dua kata yaitu karma dan phala. Karma berasal dari bahasa Sansekerta “Kr” yang berarti berbuat, bekerja, bergerak, bertingkah laku dan phala berarti buah/hasil. Berdasarkan hukum sebab akibat, atau aksi reaksi maka segala sebab pasti akan membuahkan akibat (Phala). Karma phala berarti buah dari perbuatan yang telah dilakukan atau yang akan dilakukan.
“Karma phala ngaran ika phalaning gawe hala hayu” (Slokantara 68), Karma phala merupakan akibat (phala) dari baik buruk suatu perbuatan (karma).
Karma phala memberi optimisme kepada setiap manusia, bahkan semua makhluk hidup. Dalam ajaran ini, semua perbuatan akan mendatangkan hasil bagi yang berbuat. Apapun yang kita perbuat, seperti itulah hasil yang akan kita terima. Yang menerima adalah yang berbuat, bukan orang lain. Karma Phala adalah sebuah Hukum Universal bahwa setiap perbuatan akan mendatangkan hasil. Dalam konsep Hindu, berbuat itu terdiri atas: perbuatan melalui pikiran, perbuatan melalui perkataan, dan perbuatan melalui tingkah laku, Ketiganya lah yang akan mendatangkan hasil bagi yang berbuat.Kalau perbuatannya baik, hasilnya pasti baik, demikian pula sebaliknya.
Dalam masa kehidupannya, setiap mahluk tidak akan putus-putusnya melakukan karma, oleh karena nya tidak akan putus-putus pula karma phala yang dinikmatinya. Ada yang sempat menikmatinya pada masa kehidupannya saat ini, ada pula yang dinikmatinya pada masa hidupnya yang akan datang, serta ada pula yang akan dinikmatinya di akhirat kelak.
Karma Phala terbagi atas tiga, yaitu:
1.      Sancita Karma Phala (Phala/Hasil yang diterima pada kehidupan sekarang atas perbuatannya di kehidupan sebelumnya). Sancita Karma Phala adalah Phala hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati, merupakan benih yang akan menentukan kehidupan kita sekarang. Contoh dari hal ini adalah kelahiran manusia yang berbeda-beda, ada yang lahir dengan wajah rupawan atau buruk rupa, lahir di keluarga kaya atau miskin, tubuh yang cacat atau normal, hidup senang atau susah dan lain sebagainya, semuanya itu tidak lepas dari phala yang diperoleh akibat perbuatannya di kehidupannya terdahulu.
2.      Prarabdha Karma Phala (Karma/Perbuatan yang dilakukan pada kehikupan saat ini dan Phalanya akan diterima pada kehidupan saat ini juga).Prarabdha Karma Phala adalah Phala hasil perbuatan kita di kehidupan ini yang dinikmati saat ini juga tanpa tersisa lagi. Contohnya, kita bekerja untuk mendapatkan hasil kerja untuk menikmati kehidupan yang lebih baik.
3.      Kryamana Karma Phala (Karma/Perbuatan yang dilakukan pada kehidupan saat ini, namun Phalanya akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang). Ryamana Karma Phala adalah Phala hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat sehingga harus diterima di kehidupan yang akan datang.
Ada pula pembagian Karma phala berdasarkan jenis karma yang dilakukannya yaitu :
Karma Sangga, yaitu segala perbuatan atau tugas kewajiban yang berhubungan dengan keduniawian, menyangkut kehidupan sosial manusia. Bila seseorang karyawan bekerja dengan tenaga jasmaninya akan menerima upah yang disebut “Karma Kara”, sedangkan karyawan yang bekerja dengan tenaga rohani/pikirannya akan menerima upah yang disebut “Karma Kesama”.
Karma Yoga, yaitu segala perbuatan yang dilakukan tanpa terikat keduniawian, tanpa memikirkan upahnya, karena keyakinan bahwa segala yang dilakukannya adalah atas kehendak Hyang Widhi sesuai dengan ethika agamanya.
Adapun yang mengadili/menentukan phala terhadap perbuatan yang dibawa oleh atma di akhirat dan dalam penjelmaan yang akan datang adalah Hyang Widhi, kerena beliaulah saksi agung yang Maha Tahu segala perbuatan mahluk (manusia). Pada saat beliau mengadili amal dan dosa dari perbuatan yang dibawa oleh atma, beliau bergelar Sang Hyang Yama Dipati, beliau memiliki bala tentara yang disebut dengan “Cikra Bala”, Jogor Manik bertugas menyiksa atma yang berdosa, Sang Suratma bertugas mencatat baik buruk karma dari semua mahluk di dunia.
Secara filsafat, Sang Suratma adalah alam pikiran atau Suksma Sarira (Badan Astral) dari mahluk yang merupakan tempat tercatatnya segala subha dan asubha karma (amal dosa perbuatan) dari mahluk , sehingga selalu dan tetap berbekas dalam alam pikirannya.
“Asing sagawenya dadi manusa ya ta iningetan de Bhatara Widhi, Apan sira pinaka paracaya Bhatara ring subha asubha karma ning janma” (Wraspati Tattwa – 22), Segala apa yang diperbuat dalam penjelmaan menjadi manusia, semua itulah dicatat oleh Bhatara Widhi (Tuhan) karena dia sebagai hakim dari baik buruk (amal dosa) perbuatan manusia.
“Bhatara Dharma ngaran nira Bhatara Yama, Sang Kuma yatnaken subha asubha prawertti nikang sekala janma” (Agastiya Parwa 335-15), Bhatara Dharma juga bergelar Bhatara Yama yang mengamati dan mengadili baik buruk perbuatan manusia, dan karma itu memberikan akibat yang besar terhadap kebahagiaan atau penderitaan hidup manusia.
Pengaruh Karma pulalah yang menentukan corak serta nilai dari watak manusia. Karma yang baik menciptakan watak yang baik, demikian pula sebaliknya, karma yang buruk memberikan watak yang buruk pula. Segala macam karma yang dilakukan oleh mahluk terutama manusia akan tercatat selalu dalam alam pikirannya yang kemudian menjadi watak dan berpengaruh pula terhadap atmanya, hukum karma yang mempengaruhi seseorang bukan saja diterima olehnya sendiri tapi juga diwarisi oleh keturunannya kelak.
“Sarwesam anyatha rupam jnanam anyat prawarata matur jnana nughawena praja wai cubhacubha”(Agastya parwa 382-4), Semua mahluk berbeda-beda rupa, watak dan keadaan hidup leluhurnya maka mahluk itu menemui kebahagiaan dan penderitaan (baik dan buruk).
“Papam karma krtam kincid jadi tasmin na drasyate nrpate satya putresu putreswapi ca nap tran” (Santi parwa 129-21), Walaupun phala kejahatan perbuatan seseorang tiada terlihat pada orang itu sendiri, meskipun raja, namun pasti akan terlihat pada anak cucu sampe buyutnya juga.
“Bhatara Dharma ngaran ira Bhatara Yama
sang kumayatnaken cubhacubha prawrti
sekala janma”. (Agastya Parwa 355.15)
Bhatara Dharma (juga) bergelar Bhatara Yama (sebagai Dewa Keadilan), adalah pelindung keadilan yang mengamat-amati (mengadili) baik buruk perbuatan manusia. Baik buruk dari (karma) itu akan memberi akibat yang besar terhadap kebahagiaan atau penderitaan hidup manusia.
Jadi hukum karma phala tidaklah menyebabkan manusia putus asa memberi effect negatif sehingga manusia menjadi patalis, pasif dan apatis atau menyerah pada nasib aja, melainkan memberikan dorongan spiritual aktif, dynamis dan positif kepada umat manusia untuk berbuat baik dalam mengatasi segala macam penderitaan hidupnya lahir bathin, sehingga akan membentuk watak manusia susila dengan karmanya yang tinggi.

Tri Sandhya

Tata Pelaksanaan  Sembahyang Agama Hindu

1.              Asuci Laksana (Membersihkan sikap duduk)
Om Prasadha Stiti Sarira Siva Suci Nirmala Ya Namah Svaha

2.              Pranayama (Membersihkan pernafasan)
Om Ang Namah (Menarik Nafas)
Om Ung Namah (Menahan Nafas)
Om Mang Namah (Menghembuskan Nafas)

3.              Mantram Tri Sandhya dengan sikap Amusti Karana
Om om om
bhur bhuvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayat

Terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, kami menyembah kecemerlangan dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi yang menguasai bumi, langit dan sorga, semoga Sang Hyang Widhi menganugrahkan kecerdasan dan semangat pada pikiran kami.

Om Narayana evedam sarvam
yad bhutan yac ca bhavyam,
niskalanko niranjano nirvikalpo
nirakhyatah suddo devo eko
narayanah na dvitiyo asti kascit

Terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, semua yang ada berasal dari Sang Hyang Widhi baik yang telah ada maupun yang akan ada, Sang Hyang Widhi bersifat gaib tidak ternoda tidak terikat oleh perubahan, tidak dapat diungkapkan, suci , Sang Hyang Widhi Maha Esa, tidak ada yang kedua.

Om tvam sivas tvam mahadevah
isvarah paramesvarah,
brahma visnus ca rudras ca
purusah parikirtitah.

Terjemahan
Om Sang Hyang Widhi, Engkau disebut Siwa yang menganugrahkan kerahayuan, Mahadewa (dewata tertinggi), Iswara (mahakuasa). Parameswara (sebagai maha raja diraja), Brahma (pencipta alam semesta dan segala isinya), Visnu (pemelihara alam semesta beserta isinya), Rudra (yang sangat menakutkan) dan sebagai Purusa (kesadaran agung).

Om papo ham papakarmaham
papatma papasambhavah
trahi mam pundarikaksah
sabahya bhyantarah sucih.

Terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, hamba ini papa, perbuatan hambapun papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Widhi yang bermata indah bagaikan bunga teratai, sucikan jiwa dan raga hamba.
Om ksamasva mam mahadevah
sarvaprani hitankarah
mam moca sarva papebyah
palaayasva sadasiva.

Terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, ampunilah hamba, Sang Hyang Widhi yang maha agung anugrahkan kesejahteraan kepada semua makhluk. Bebaskanlah hamba dari segala dosa lindungilah hamba Om Sang hyang Widhi.

Om ksantavyah kayiko dosah
ksantavyo vaciko mama
ksantavyo manaso dosah
tat pramadat ksamasva mam.

Terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, ampunilah dosa yang dilakukan oleh badan hamba, ampunilah dosa yang keluar melalui kata kata hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.

Om Santih Santih Santih Om.

Terjemahan :
Om Sang Hyang Widhi anugrahkanlah kedamaian, kedamaian, kedamaian selalu.

Kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan Kramaning Sembah, adapun beberapa mantranya adalah sebagai berikut ;

Mantra-Mantra Kramaning Sembah

1. Mantra untuk menghaturkan sembah puyung:


Om atmaa tattvaatmaa suddhamaam svaha

“Oh keseluruhan yang lengkap, atma, atmanya kehidupan ini bersihkan dan sucikan diri hamba”.

2. Mantra untuk menghormat pada Sang Hyang Surya, sebagai saksi abadi dalam kehidupan ini. Menyembah bhatara Surya juga berarti memuja kebesaran sinar suci Tuhan dalam aspek beliau sebagai sumber cahaya yang memberikan kehidupan di alam semesta ini. Dengan sarana bunga purih, dan mantra berikut:

Om Adityasyaaparam jyotir rakta teja
Namo stute, sveta pankaja madhyaastha
Bhaaskaraaya namo stute

“Oh keseluruhan yang lengkap, sinar Surya yang maha hebat, hormat padaMU, yang berada ditengah-tengah teratai putih, hormatku padaMU wahai pembuat sinar”.

3. Kemudian menyembah kebesaran Tuhan, sinar sucinya dalam aspek Ista Dewata. Ista Dewata adalah dewata yang khusus dipuja pada waktu tertentu dan dimohonkan kehadirannya oleh para bhakta. Bali yang lebih dikenal dengan Siddhanta Siwanya, tentu saja yang lebih menonjol adalah ista dewata dalam aspeknya sebagai Hyang Siwa, dengan mantra sebagai berikut:

Om Nama devaa adhisthanaaya
Sarva vyaapi vai sivaaya
Padmaasana ekapratisthaya
Ardhanaresvaryai namo namah


“Oh keseluruhan yang lengkap, kepada dewata yang bersemayam pada tempat yang tinggi, kepada Hyang Siwa yang sesungguhnya berada dimana-mana, kepada dewata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai, hamba memuja-MU”.

4. Kemudian memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi sebagai pemberi keselaamatan, kesejahteraan dan sebagai pemberi anugrah, dengan sarana kawangen :

Om anugraha manoharam
Devadattaanugrahakam
Arcanam sarvaapuujanam
Namah Sarvaanugrahakam

Om Deva devi mahaasiddhi
Yajnanga nirmalaatmaka
Laksmii siddhisca, diirgahaayu
Nirvighna sukha vrddhisca

“Oh keseluruhan yang lengkap dan sempurna, yang memberikan anugrah dan menarik hati, anugrah dari dewata yang agung puja semua pujaan. Hormat pada-MU wahai pemberi anugrah. Dewa dan dewi yang selalu berhasil, berbadan yadnya, suci, panjang umur, dan bahagia tanpa halangan”.

5. Kemudian menghaturkan sembah puyung sekali lagi dengan mantra :

Om deva suuksma paramaacintyaaya nama svahaa

“Oh keseluruhan yang lengkap dan sempurna, hormat kepada-Mu wahai dewata yang maha gaib dn tak terlukiskan”.

6.  Kemudian setelah melakukan kramaning sembah, dilanjutkan dengan nunas tirtha. Percikan tirtha tiga kali, minum tiga kali, dan raup wajah tiga kali. Gunanya adalah untuk menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan kita, sembari memohoh tirtha kehidupan kehadapan para dewata dengan menggunakan mantra:

Om ang Brahma amertha ya namah
Om ung Wishnu amrtha ya namah
Om mang Iswara amrtha ya namah


7. Setelah itu, minum tirtha tiga kali dengan mengucapkan doa :

Om sarira paripurna ya namah
Om ang ung mang sarira suddha pramatya ya namah
Om ung ang samo sampurna ya namah

8. Setelah minum tiga kali dilanjutkan membasuh muka sebanyak tiga kali, dengan doa :

Om Siwa sampurna ya namah
Om Sadasiwa paripurna ya namah
Om Paramasiwa suksma ya namah

9. Kemudian dilanjutkan dengan nunas bija, dan menggunakan doa :

Om Purnam bhawantu
Om ksama sampurna ya namah


Mantra-Mantra untuk Memuja stana Brahman

1. Mantra Untuk Saraswati

Om Saraswati namos tubhayam
Warade kama rupini
Sidharamban karisyauni
Siddhir bhawantu me sada

Om brahma putri mahadewi
Brahmanya brahma wandhini
Saraswati sayajanam praja naya saraswati
Om saraswati dipata ya namah

“Oh keseluruhan yang lengkap, sebagai dewi Saraswati pemberi anugrah, yang berwujud begitu didambakan, semogalah segala hal yang hamba lakukan selalu berhasil baik.”

“Oh keseluruhan yang lengkap, sebagai bakti dewi dari Hyang Brahma, pancaran sakti dari Brahma, Saraswati dewi pengetahuan, saraswati yang sangat bijaksana. Oh dewi yang agung, hamba memuja-MU.”

2. Mantra Untuk di Pura Puseh

Om giripati mahaaviryanam
Mahaadeva pratistha lingam
Sarvadeva praanamyanam
Sarva jagat pratisthana

“Oh keseluruhan yang lengkap dan sempurna, yang merupakan rajanya gunung suci, selalu menang dan jaya. Yang merupakan Mahadewa, dipuja oleh seluruh golongan dewa, yang merupakan pondasi dari seluruh jagat. Oh dewata hamba memuja-MU.”

3. Mantra Untuk du Pura Dalem

Om catur devi mahaadewi
Catur aasrama bhatari
Siva jagat pati devi
Durgaa ma sarira dewi


“Oh keseluruhan yang lengkap dan sempurna, berwujud agung catur dewi, yang disembah oleh empat jenjang kehidupan, yang merupakan saktinya Siwa, dewata penguas jagat. Oh yang sempurna disebut sebagai ibu Durga, hamba memuja dan bersujud kepada-MU.”

4.    Mantra Untuk di Pura Desa

Om isanah sarva vidyaanaam
Isvarah sarva bhuutanaam
Brahmano dhipatir brahmaa
Sivo astu sadaasivaya

“Oh keseluruhan yang lengkap, sebagai dewata penguasa mahluk yang bijaksana, sebagai Brahma, raja para brahmana. Oh keseluruhan yang lengkap, Sang Hyang Siwa, pemberi keselamatan hamba memuja-MU.”

5.   Mantra Untuk di Pura Prajapati

Om brahma prajapatih srethah
Svayambhuur varado guruh
Padmayonis catur vaktro
Brahmaa sakalam ucyate

“Oh keseluruhan yang lengkap dan sempurna, sebagai prajapatih, yang mengadakan dirinya sendiri, guru yang muncul dari bunga teratai, memiliki empat muka dalam satu badan, maha sempurna, oh Brahma.”

6.    Mantra Untuk Pura Kawitan

Om Brahma Wisnhu Isvara devam
Tri purusa suddhaatmakam
Tri deva, tri murti lokam
Sarva vignam vinasanam

“Oh keseluruhan yang lengkap dan sempurna, sebagai dewata agung, yakni Brahma, Wishnu, dan juga Iswara, sebagai kekuatan utama yang maha suci, oh engkau tiga dewata agung penguasa tiga dunia, semoga hamba terhindar dari bahaya.”

7.    Mantra Untuk Pura Segara
Om nagendra kruura muurtinam
Gajendra matsya vaktrnam
Waruna dewa ma sariiram
Sarva jagatsudhaatmakam

“Oh keseluruhan yang lengkap dan sempurna, sebagai rajanya naga, raja gajahmina. Oh Waruna dewa yang berwujud agung dan suci, yang menyucikan seluruh jagat.”

8.    Mantra Untuk Pura Ulun Dhanu
Om Sridhana devikaa ramyaa
Sarva ruupavati tatthaa
Sarva sridevi namo stute
Om Sri devi dipata ya namah


“Oh keseluruhan yang lengkap, sakti-MU sebagai dewi yang sangat darmawan. Sebagai dewi Sri yang maha mulia, yang memiliki pengetahuan. Oh dewi Sri, hamba memuja-MU.”

8. Untuk di Pura-pura tempat memuliakan dan menghormati para Dang Acarya atau para guru-guru suci, dengan doa :

Om dwijendram puurvanam Sivam
Brhaahmanam puurvatisthanam
Sarva deva ma sariram
Suurnya nisakaram devam

“Oh yang agung berasal dari Hyang Siwa, lingga terdahulu dari Pandita yang suci, yang menyatu dalam seluruh dewa, surya yang suci.”
Demikianlah tata pelaksanaan Sembahyang Umat Hindu yang diawali dengan mengucapkan mantram Tri Sandhya, dan kramaning sembah. Dengan pengertian dan pemahaman makna, semoga sraddha keyakinan kita kepada-Nya akan semakin mantap. Suksme

Saturday, September 27, 2014

Silabus Pendidikan Agama Hindu SMA Kurikulum 2013

Silabus  Kurikulum 2013


Senjata yang paling tajam untuk mencapai tujuan dari tenaga pendidik adalah perangkat pembelajaran. sebelum pendidik memberikan materi di kelas, maka Dia hendaknya telah jauh-jauh waktu mempersiapkannya. Senjata-senjata itu  misalnya ; Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Media Ajar, Bahan Ajar, dan sebagainya.

A. Pengertian Silabus

Istilah silabus dapat didefinisikan sebagai “Garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran” (Salim, 1987: 98). Istilah silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari SK dan KD yang ingin dicapai, dan materi pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai SK dan KD. Seperti diketahui, dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditentukan SK yang berisikan kebulatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang ingin dicapai, materi yang harus dipelajari, pengalaman belajar yang harus dilakukan, dan sistem evaluasi untuk mengetahui pencapaian SK. Dengan kata lain, pengembangan kurikulum dan pembelajaran menjawab pertanyaan (1) Apa yang akan diajarkan (SK, KD, dan Materi Pembelajaran); (2) Bagaimana cara melaksanakan kegiatan pembelajaran, metode, media); (3) Bagaimana dapat diketahui bahwa SK dan KD telah tercapai (indikator dan penilaian).
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
Silabus bermanfaat sebagai pedoman dalam pengem­bangan pembelajaran lebih lanjut, seperti pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran, dan pengembangan sistem penilaian. Silabus merupakan sumber pokok dalam penyusunan rencana pembelajaran, baik rencana pembelajaran untuk satu SK maupun satu KD. Silabus juga bermanfaat sebagai pedoman untuk merencanakan pengelolaan kegiatan pembelajaran, misalnya kegiatan belajar secara klasikal, kelompok kecil, atau pembelajaran secara individual. Demikian pula, silabus sangat bermanfaat untuk mengembangkan sistem penilaian. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi sistem penilaian selalu mengacu pada SK, KD, dan indikator yang terdapat di dalam silabus.

B. Prinsip Pengembangan Silabus

Untuk memperoleh silabus yang baik sebagai salah satu tuntutan kurikulum 2013 harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut:

1. Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Di samping itu, strategi pembelajaran yang dirancang dalam silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran dan teori belajar.

2. Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik. Prinsip ini mendasari pengembangan silabus, baik dalam pemilihan materi pembelajaran, strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penetapan waktu, strategi penilaian maupun dalam mempertimbangkan kebutuhan media dan alat pembelajaran. Kesesuaian antara isi dan pendekatan pembelajaran yang tercermin dalam materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran pada silabus dengan tingkat perkembangan peserta didik akan mempengaruhi kebermaknaan pembelajaran.

3. Sistematis

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. SK dan KD merupakan acuan utama dalam pengembangan silabus. Dari kedua komponen ini, ditentukan indikator pencapaian, dipilih materi pembelajaran yang diperlukan, strategi pembelajaran yang sesuai, kebutuhan waktu dan media, serta teknik dan instrumen penilaian yang tepat untuk mengetahui pencapaian kompetensi tersebut.

4. Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara KD, indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, serta teknik dan instrumen penilaian. Dengan prinsip konsistensi ini, pemilihan materi pembelajaran, penetapan strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan sumber dan media pembelajaran, serta penetapan teknik dan penyusunan instrumen penilaian semata-mata diarahkan pada pencapaian KD dalam rangka pencapaian SK.

5. Memadai

Cakupan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian KD. Dengan prinsip ini, maka tuntutan kompetensi harus dapat terpenuhi dengan pengembangan materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan. Sebagai contoh, jika SK dan KD menuntut kemampuan menganalisis suatu obyek belajar, maka indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan teknik serta instrumen penilaian harus secara memadai mendukung kemampuan untuk menganalisis.

6. Aktual dan Kontekstual

Cakupan indikator, materi pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. Banyak fenomena dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi dan dapat mendukung kemudahan dalam menguasai kompetensi perlu dimanfaatkan dalam pengembangan pembelajaran. Di samping itu, penggunaan media dan sumber belajar berbasis teknologi informasi, seperti komputer dan internet perlu dioptimalkan, tidak hanya untuk pencapaian kompetensi, melainkan juga untuk menanamkan kebiasaan mencari informasi yang lebih luas kepada peserta didik.

7. Fleksibel

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan kebutuhan masyarakat. Fleksibilitas silabus ini memungkinkan pengembangan dan penyesuaian silabus dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

8. Menyeluruh

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. Prinsip ini hendaknya dipertimbangkan, baik dalam mengembangkan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, maupun penilaiannya. Kegiatan pembelajaran dalam silabus perlu dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik memiliki keleluasaan untuk mengembangkan kemampuannya, bukan hanya kemampuan kognitif saja, melainkan juga dapat mempertajam kemampuan afektif dan psikomotoriknya serta dapat secara optimal melatih kecakapan hidup (life skill).

C. Unit Waktu Silabus

  1. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk setiap mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.
  2. Penyusunan silabus suatu mata pelajaran memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok.
  3. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan SK dan KD untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum.

D. Pengembang Silabus

Pengembangan silabus dilakukan oleh kelompok guru mata pelajaran sejenis pada satu sekolah atau beberapa sekolah pada kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
  1. Disusun secara mandiri oleh kelompok guru mata pelajaran sejenis pada setiap sekolah apabila guru-guru di sekolah yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik peserta didik, kondisi sekolah/ madrasah dan lingkungannya.
  2. Sekolah/madrasah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan sekolah/madrasah lain melalui forum MGMP untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah/madrasah-madrasah dalam lingkup MGMP setempat. Dapat pula mengadaptasi atau mengadopsi contoh model yang dikeluarkan oleh BSNP.

E. Komponen Silabus

Silabus merupakan salah satu bentuk penjabaran kurikulum. Produk pengembangan kurikulum ini memuat pokok-pokok pikiran yang memberikan rambu-rambu dalam menjawab tiga pertanyaan mendasar dalam pembelajaran, yakni (1) kompetensi apa yang hendak dikuasai peserta didik, (2) bagaimana memfasilitasi peserta didik untuk menguasai kompetensi itu, dan (3) bagaimana mengetahui tingkat pencapaian kompetensi oleh peserta didik. Dari sini jelas bahwa silabus memuat pokok-pokok kompetensi dan materi, pokok-pokok strategi pembelajaran dan pokok-pokok penilaian.
Pertanyaan mengenai kompetensi yang hendaknya dikuasai peserta didik dapat terjawab dengan menampilkan secara sistematis, mulai dari SK, KD dan indikator pencapaian kompetensi serta hasil identifikasi materi pembelajaran yang digunakan. Pertanyaan mengenai bagaimana memfasilitasi peserta didik agar mencapai kompetensi, dijabarkan dengan mengungkapkan strategi, pendekatan dan metode yang akan dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran. Pertanyaan mengenai bagaimana mengetahui ketercaiapan kompetensi dapat dijawab dengan menjabarkan teknik dan instrumen penilaian. Di samping itu, perlu pila diidentifikasi ketersediaan sumber belajar sebagai pendukung pencapaian kompetensi.
Berikut disajikan ikhtisar tentang komponen pokok dari silabus yang lazim digunakan:
  1. Komponen yang berkaitan dengan kompetensi yang hendak dikuasai.
  2. Komponen yang berkaitan dengan cara menguasai kompetensi, memuat pokok pokok kegiatan dalam pembelajaran.
  3. Komponen yang berkaitan dengan cara mengetahui pencapaian kompetensi, mencakup : Teknik Penilaian, Instumen Penilaian.
  4. Komponen Pendukung, terdiri dari : Alokasi waktu, Sumber belajar.

F. Langkah-Langkah Pengembangan Silabus

1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Mengkaji SK dan KD mata pelajaran sebagaimana tercantum pada SI, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
  • Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi;
  • Keterkaitan antara SK dan KD dalam mata pelajaran;
  • Keterkaitan antar KD pada mata pelajaran;
  • Keterkaitan antara SK dan KD antar mata pelajaran.

2. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran

Mengidentifikasi materi pembelajaran yang menunjang pencapaian KD dengan mempertimbangkan:
  • Potensi peserta didik;
  • Karakteristik mata pelajaran;
  • Relevansi dengan karakteristik daerah;
  • Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial dan spritual peserta didik;
  • Kebermanfaatan bagi peserta didik;
  • Struktur keilmuan;
  • Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
  • Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
  • Alokasi waktu.

3. Melakukan Pemetaan Kompetensi

  • Mengidentifikasi SK, KD dan materi pembelajaran.
  • Mengelompokkan SK, KD dan materi pembelajaran.
  • Menyusun SK, KD sesuai dengan keterkaitan

4. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian KD. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah:
  1. Disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik (guru), agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
  2. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai KD.
  3. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
  4. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik, yaitu kegiatan peserta didik dan materi.

5. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan indikator :
  • Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  • Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
  • Kata Kerja Operasional (KKO) indikator dimulai dari tingkatan berpikir mudah ke sukar, sederhana ke kompleks, dekat ke jauh, dan dari konkret ke abstrak (bukan sebaliknya).
  • Kata kerja operasional pada KD benar-benar terwakili dan teruji akurasinya pada deskripsi yang ada di kata kerja operasional indikator.

6. Penentuan Jenis Penilaian

Penilaian pencapaian KD peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

7. Menentukan Alokasi Waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap KD didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah KD, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan KD. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai KD yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

8. Menentukan Sumber Belajar


Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penulisan buku sumber harus sesuai kaidah yang berlaku dalam Bahasa Indonesia. Penentuan sumber belajar didasarkan pada SK dan KD serta materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.
Untuk itu, disini Saya mencoba untuk berbagi beberapa senjata tersebut, diantaranya adalah Silabus untuk Pendidikan Agama Hindu. Bagi guru yang ingin mendownloadnya, silahkan saja klik di bawah ini :
  1. Silabus Kurikulum 2013 Pendidikan Agama Hindu Tingkat SMA.
  2. RPP Kurikulum 2013 Pendidikan Agama Hindu Tingkat SMA.