viral

loading...

Monday, September 29, 2014

Kematian Shakuni

Akhir Hidup Shakuni

sakhuni atau sangkuni
Shakuni, atau yang dalam ejaan Sanskerta disebut Shakuni (: शकुनि ; śakuni) atau Saubala adalah seorang tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Shakuni terkenal sebagai tokoh licik yang selalu menghasut para Korawa agar memusuhi Pandawa. Dunia pewayangan versi Jawa mengenal nama Shakuni (Shakuni) yang mendapat jabatan sebagai patih saat pihak Korawa berkuasa di Kerajaan Hastina. Dalam versi Jawa dia dikenal juga dengan Trigantalpati.
Sungguh tokoh yang satu ini mempunyai peran besar dalam jalannya cerita wayang Mahabarata. Berbagai peperangan, konflik, kudeta, penindasan dan sebagainya boleh dikata, dia mempunyai peran di dalamnya. Melalui dia pula, Kurawa mampu berkuasa di tahta Hastina dan berjuang sampai darah penghabisan mempertahankan kekuasaan tersebut.
Hidupnya penuh dendam, rasa dendam atas Pandu, karena sayembara Kunthi yang dimenangkanya, dendam atas perlakukan Pandu, karena Gendari ternyata dinikahkan kepada saudaranya Destarata. Bagi saudaranya Gendari, Shakuni rela hanya menjadi patih. Demi keturunan Gendari, dia juga rela hanya menjadi penasehat saja. Dia tidak bernafsu menjadi raja, tetapi baginya saudaranyalah yang utama. Kekuasaan yang sesungguhnyalah yang dia kehendaki, tanpa harus menjadi raja. Kekuasaan mempengaruhi siapa saja untuk menuruti kehendaknya.
Shakuni bukan seorang pendekar dengan ilmu kanuragan, ngeda-edapi. Meski demikian, ia mempunyai kesaktian yang luar biasa, yaitu tidak mempan segala macam senjata, sekalipun senjata para Pandawa. Kesaktian tersebut diperoleh melalui minyak Tala milik sang Pandhu membaluri sekujur tubuhnya. Kelemahannya hanya pada mulut dan dubur, karena bagian itu tidak tersentuh minyak Tala. Namun, kelemahan itu tetap menjadi senjata andalannya, melalui mulutnya, nasehat-nasehat yang meluncur, dia mampu merubah banyak hal. Kelemahan sekaligus kekuatan.
Kematian Shakuni, ada dua versi (paling tidak), satu dibunuh oleh Sadewa (pandawa terakhir) dan versi lainnya adalah Bima (putra kedua). Apapun itu, tetapi satu hal, bahwa Shakuni tetap bisa mati. Sadewa adalah sosok yang dikenal sebagai ahli perbintangan (nujum), ahli intelijen dan ahli pengobatan. Sedangkan Bima adalah sosok yang jujur, apa adanya, dan sakti. Kematian di tangan Bima, dengan menyobek mulut Shakuni dengan Pancanakanya.
Jika, politik saat ini menurut Anas Urbaningrum adalah banyak dikendalikan oleh para Shakuni, maka untuk mengalahkannya adalah membungkam mulut Shakuni. Ya kelebihannya itu sendiri harus dijadikan senjata makan tuan. Opini dibalas dengan opini, rekayasa dibalas dengan rekayasa. Namun ingat, hanya orang-orang “jujur apa adanya” akan berhasil membungkan Shakuni. Demikian pula, jika dengan sosok Sadewa, maka harus tahu betul kelemahan Shakuni, tahu apesnya, tahu jaringannya dan sebagainya, yang penting, peta kekuatan dikuasai betul. Ini adalah kerja intelejen.

Kisah Perjalanan Hidup Shakuni


Perseteruan Pandawa dan Kurawa hampir mencapai babak akhir yaitu perang besar bharatayuddha, dalam perang saudara itu ada satu hal yang paling dinanti-nantikan oleh penggemar serial Mahabharata di Indonesia, yaitu matinya si lidah tajam Shakuni. 

Shakuni dalam kisah Mahabharata diceritakan sebagai seorang yang menyimpan dendam terhadap kehancuran Hastinapura, karena itu ia berusaha untuk mengadu domba seratus orang anak Detrarasta (Korawa) dengan kelima anak Pandu (Pandawa). 


Sebagai penguasa kelicikan (meskipun masih kalah licik dibaning Kresna ) Shakuni dengan mudah menghasut Duryodhana untuk memusuhi para Pandawa, bahkan ketika pandawa menagih hak kerajaannya kepada Duryodana setelah dihukum selama 12 tahun akibat kalah bermain dadu, Shakuni meminta Duryodhana untuk tidak begitu saja menyerahkan Indraprasta milik Pandawa.

Shakuni memang menyimpan dendam kepada Hastinapura ketika kerajaannya diserang oleh Hastinapura yang menawan dirinya dan saudara-saudaranya dalam ruang tahanan. Shakuni menyaksikan sendiri bagaimana saudara-saudaranya satu persatu meninggal di hadapannya, dan konon dadu yang memenangkan Shakuni dalam perjudiannya dengan Yudhistira itu dibuat dari tulang belulang saudara-saudaranya dari Gandhara sewaktu menjadi tawanan Bisma dan Hastinapura.


Shakuni merasakan betul bagaimana merasakan sakit ketika dihianati, terlebih dalam tahanannya dia dan saudara-saudaranya hanya diberikan makanan berupa satu butir nasi untuk tiap-tiap orang. Sebutir nasi itulah yang selalu diingatnya ketika dirinya menghasut Duryodana untuk memerangi Pandawa. Karena gara-gara sebutir nasi itu juga saudara-saudaranya meninggal dihadapannya.

Shakuni telah merasakan penghianatan serta pahit-getirnya hidup dalam penjara, apalagi saat itu dirinya dan saudara-saudaranya yang lain hanya diberikan makanan berupa sebutir nasi untuk tiap-tiap orangnya. Agar Shakuni bisa tetap hidup untuk membalaskan dendam mereka, maka satu butir nasi itu kemudian mereka kumpulkan dan diberikan pada Shakuni. 
Hal itu berlangsung cukup lama sampai satu persatu saudara-saudaranya kemudian meninggal dihadapannya karena kelaparan.

Inilah bagian cerita yang tidak diketahui oleh semua orang, alasan mengapa Shakuni mau berbuat licik dengan menghasut Kurawa untuk memusuhi Pandawa.  Itu adalah karena Shakuni memang telah bertekad untuk membalaskan dendam saudara-saudarnya yang mati dengan cara menghancurkan Hastinapura dari dalam, dan kesempatan itu datang ketika Gandari dipersunting oleh Detrarasta yang meskipun ia merasa terhina dengan lamaran dari orang yang pernah menghancurkan kerajaan dan saudara-saudaranya itu, ditambah terhina karena adiknya yang akan dinikahkan dengan orang yang buta.

Hasutan pertama Shakuni adalah pada Destrata dengan mengatakan bahwa ialah (Destrarata) yang seharusnya jadi raja karena merupakan putra tertua dari dinasti Kuru bukan Pandu. Hasutannya berhasil, perpecahan pun terjadi antara dua saudara, Detrarasta dan Pandu.

Tidak cukup sampai di situ, Shakuni kembali melakukan hasutannya pada anak-anak mereka terutama anak tertua Detrarasta yaitu Duryodhana. Sejak anak-anak Destrarasta masih kecil, Shakuni mulai mengajarkan mereka bahwa anak-anak Pandu adalah musuhnya.
Akibat hasutannya Hastinapura terbagi menjadi dua yaitu Indraprastha, Kurawa dan Pandawa memiliki pemerintahannya masing-masing. Namun tak cukup sampai disitu, Shakuni terus melakukan berbagai upaya liciknya, sampai akhirnya terjadilah peristiwa perang Bharatayuddha.

Shakuni menemui ajal tepat di hari terakhir yaitu hari ke-18 dalam peperangan tersebut. Ia mati ditangan Sadewa. Dalam kisah pewayangan versi Jawa Shakuni diceritakan mati dicabik-cabik oleh Bima. 

Si pembuat onar itu telah mati dan hal itu membuat banyak penggemar serial ini bertepuk tangan menyaksikan kematiannya yang tragis. Namun sayang, karena seiring matinya Shakuni yang dilanjutkan dengan kematian Duryodana, serial Mahabharata ini pun berakhir.
Shakuni memang telah mati, tapi dalam kematiannya itu Shakuni merasa senang karena telah berhasil membalaskan dendam atas kematian saudara-saudaranya. Ia merasa senang karena telah berhasil memecah belah Hastinapura, dan menghancurkan Bisma yang dahulu pernah menyerang dan menghina Kerajaannya. Namun dalam matinya itu ia masih tetap menyayangi keponakannya, Duryodhana.

No comments:

Post a Comment