viral

loading...
Showing posts with label Kisah India. Show all posts
Showing posts with label Kisah India. Show all posts

Tuesday, May 8, 2018

Nilai-Nilai Dalam Kisah Ramayana


Kisah Ramayana


Ladang Informasi - Kisah Ramayana adalah kisah tentang petualangan Sang Rama sebagai awatara yang disusun pada tahun 1200 SM. Secara umum biasanya kitab tersebut disebutkan ditulis oleh Rsi Walmiki (kisah antara Prabu Rama dan Dewi Sita) dan seluruh isinya dikelompokkan ke dalam Kanda dan berbentuk syair.

Jumlah syairnya sekitar 24.000 syair, Epos Ramayana merupakan salah satu bagian dari itihasa yang memiliki ajaran filsafat yang sangat tinggi.

Sapta Kanda

Kitab Ramayana adalah karya sastra yang ditulis oleh Maharsi Walmiki, terbagi menjadi 7 ( tujuh ) bagian dengan istilah ” Sapta Kanda ” bagian-bagiannya antara lain :
Bala kanda
Dalam cerita ini mengisahkan Sang Prabu Dasarata mempunyai 3 ( tiga ) orang istri / permaisuri beserta dengan anak-anaknya yaitu :
  • Dewi Kosalya dengan putra Sang Rama Dewa.
  • Dewi Kekayi dengan putra Sang Bharata.
  • Dewi Sumitra dengan putranya Sang Laksamana dan Sang Satrugna.
Juga diceritakan kemenangan Ramadewa mengikuti sasembara di Matila sehinha mendapatkan istri Dewi Sita anak dari Prabu Janaka.

Ayodya Kanda

Kisah Ramayana
Rama dan Sinta
Setelah Sang Ramadewa berhasil memperistri Dewi Sita, maka sepulang dari Mithila, Prabhu Dasarata ingin menyerahkan tampuk kekuasaan dari kerajaan Ayodya kepada Ramadewa, tetapi terhalang oleh Dewi Kekayi mengingat janjinya di tengah hutan terdahulu dan saat itu juga Dewi Kekayi menagih janjinya, yaitu meminta Prabhu Dasarata untuk mengangkat Bharata menjadi Raja dan mengasingkan Rama ke Hutan selama 12 Tahun. Karena bijaksananya Ramadewa keesokan harinya pergi ke hutan dengan istrinya (Dewi Sita), diikuti oleh adiknya ”Sang Laksamana“. Pada saat itu pula terdengar oleh Sang Bharata, akhirnya Bharata menolak permintaan ibunya, langsung ke hutan mencari Ramadewa, karena satya wacana (setia pada perkataannya) akhirnya Ramadewa menyerahkan terompah (alas kaki) sebagai simbul Sang Ramadewa selama perjalanan ke hutan pertapa.

Aranyaka Kanda

Setelah sampai di hutan Citra Kuta, sering dikunjungi para pertapa untuk meminta bantuan dari gangguan raksasa. Sempat pula diganggu oleh raksasa surpanaka karena melihat ketampanan Rama dan Laksamana, karena tidak sabar mendapatkan godaan, hidung Surpanaka dipotong oleh Laksamana. Karena kesalnya Surpanaka melapor kepada kakaknya yaitu Rahwana. Akhirnya rahwana mengutus Marica untuk mematai-matai Ramadewa dengan berubah wujud menjadi Kijang mas. Sempat Ramadewa terseret oleh tipuan Marica, karena permintaan Sita yang menginginkan kijang itu, sedangkan Sita dijaga oleh Laksamana . Karena tipuan Marica juga membua Sita panik dan menyuruh Laksamana membantu Ramadewa, ditinggalkah Sita sendiri tetapi dengan kekuatannya Laksamana sempat membuat sengker / garis dengan kekuatan pelindung, sipapun tidak akan bisa melewati termasuk dewa. Karena itu Rahwana berubah wujud menjadi Bhiku untuk menarik simpati Sita. Akhirnya Sita keluar dari pelindung yang dibuat Laksamana kemudian diculiklah Sita dan dibawa ke Alengka.

Kiskinda Kanda

Setelah Sita dilarikan oleh oleh Rahwana ke Alengka, Rama dan Laksamana begitu tidak melihat Sita di pasraman langsung mencasinya ke tengah hutan. Sampai di perjalanan bertemu dengan Burung Jatayu dalam keadaan luka parah pada saat bertempur untuk merebut dan menolong Sita dari tangan Rahwana. Akhirnya Jatayu memilih untuk mati, karena kebaikannya dia diberi pengentas ke sorga oleh Ramadewa dengan sebuah panahnya. Kemudian melanjutkan perjalanannya, bertemu Sugriwa untuk meminta banduan agar dapat mengalahkan Subali dalam memperebutkan Dewi Tara. Ramadewa kemudian membantu Sugriwa untuk mengalahkan Subali dan dapat dikalahkan. Sugriwa setelah aman kemudian membantu untuk membalas jasa, Rama dalam mencari Dewi Sita.

Sundara Kanda

Dalam pencarian Sita, Anoman diutus sebagai duta untuk menyelidiki Sita ke Alengka, dia berhasil menemui Sita dan memberi cerita bahwa segera dijemput ke Alengka. Selesai bercerita dengan Sita, Anoman sempat ditangkap tetapi dengan kesaktianya melepaskan diri dan sempat membakar Alengka sampai hangus.
Kemudian Anoman kembali melaporkan keadaan Sita kepada Rama. Sugriwa langsung menyusun siasat agar dapat menyebrangi lautan ke Alengka dengan membuat jembatan yang disebut dengan Titi Banda.

Yudha Kanda

Setelah jembatan Titi Banda berhasil dibuat / dibangun, Sugriwa mengerahkan pasukan keranya untuk menggempur Alengka. Pertempuran yang sengit antara kedua pasukan, dan pertempupan yang hebat terjadi antara Rama dan Rahwana , tetapi dimenangkan oleh Rama. Wibhisana juga membantu. Mengingat jasa Wibhisana sangat besar akhirnya diangkat menjadi raja Alengka. Kemudian Rama, Sita, dan Laksamana diiringi oleh tentara kera kembali ke Ayodya. Setibanya di Ayodyapura disambut oleh sang Bharata dan langsung dinobatkan sebagai raja Ayodya.

Uttara Kanda

Setibanya di kerajaan dan sudah lama memerintah ada seorang rakyat menyangsikan keberadaan Sita waktu disekap oleh Rahwana. Akhirnya Ramadewa menyuruh Laksamana untuk mengantarkan Sita ke hutan dan dipungut oleh Maharesi Walmiki dalam keadaan mengandung.

Akhirnya tidak begitu lama Dewi Sita melahirkan dua orang anak laki-laki kembar diberi nama Kusa dan Lawa. Setelah besar dididik oleh Maharesi Walmiki ilmu perang, ilmu pemerintahan, dan nyanyian Ramayana. Setelah Kusa dan Lawa dewasa terdeogar di Ayodya diselenggarakan upacara ”Aswameda” yaitu pelepasan kuda berhias diiringi oleh prajurit, setiap yang berani menghalangi perjalanan akan berhadapan dengan Ramadewa. Tanpa disadari kuda itu melewati tempat Kusa dan Lawa. Kemudian melihat kuda berhias dipeganglah kuda itu dan ditangkapnya. Terjadilah pertempuram sengit antara Ramadewa dan Kusa Lawa, dan tidak ada yang menang atau kalah. Hal ini terliiat lalu dihentikan oleh Walmiki. Barulah diceritakan bahwa mereka berdua adalah anak Rama. Diajaklah ke Ayodya dan dinobatkan sebagai raja Ayodya. Setelah beberapa lama Ramadewa kembali ke Wisnuloka dan Sita kembali ke Ibu Pertiwi.

Nilai-Nilai Yang Terkandung dalam Kisah Ramayana

Dalam kitab Ramayana terdapat suatu ajaran  Sang Rama terhadap adik musuhnya bernama  Wibhisana yang menggantikan kakaknya, Rahwana, setelah perang di Alengka. Ajaran itu dikenal dengan nama Asthabrata, (astha yang berarti delapan dan brata yang berarti ajaran atau laku). yang merupakan ajaran tentang bagaimana seharusnya seseorang memerintah sebuah negara atau kerajaan, yaitu :
  • Bumi : artinya sikap pemimpin bangsa harus meniru watak bumi atau momot-mengku bagi orang jawa, dimana bumi adalah wadah untuk apa saja, baik atau buruk, yang diolahnya sehingga berguna bagi kehidupan manusia. 
  • Air : artinya jujur, bersih dan berwibawa, obat haus air maupun haus ilmu pengetahuan dan haus kesejahteraan.
  • Api : artinya seorang pemimpin haruslah pemberi semangat terhadap rakyatnya, pemberi kekuatan serta penghukum yang adil dan tegas. 
  • Angin : artinya menghidupi dan menciptakan rasa sejuk bagi rakyatnya, selalu memperhatikan celah-celah di tempat serumit apapun, bisa sangat lembut serta bersahaja dan luwes, tapi juga bisa keras melebihi batas, selalu meladeni alam.
  • Surya : artinya pemberi panas, penerangan dan energie, sehingga tidak mungkin ada kehidupan tanpa surya/matahari, mengatur waktu secara disiplin.
  • Rembulan : artinya bulan adalah pemberi kedamaian dan kebahagiaan, penuh kasih sayang dan berwibawa, tapi juga mencekam dan seram, tidak mengancam tapi disegani.
  • Lintang : artinya pemberi harapan-harapan baik kepada rakyatnya setinggi bintang dilangit, tapi rendah hati dan tidak suka menonjolkan diri, disamping harus mengakui kelebihan-kelebihan orang lain.
  • Mendung : artinya pemberi perlindungan dan payung, berpandangan tidak sempit, banyak pengetahuannya tentang hidup dan kehidupan, tidak mudak menerima laporan asal membuat senang, suka memberi hadiah bagi yang berprestasi dan menghukum dengan adil bagi pelanggar hukum.

Nilai-Nilai Yadnya Dalam Kisah Ramayana

Dalam Ramayana dikisahkan Raja Dasaratha melaksanakan Homa yadnya untuk memohon keturunan. Beliau meminta Rsi Resyasrengga sebagai purohita untuk melakukan pemujaan kepada dewa Siwa dalam upacara agnihotra. (Homa yadnya atau sering disebut agnihotra).  Agnihotra berasal dari kata sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu agni dan hotra. Agni adalah api dan hotra adalah penyucian. Jadi Agnihotra dalam pengertian leksikal yang dimaksud persembahan suci kepada Sang Hyang Agni (api suci) teristimewa adalah persembahan susu, minyak susu dan susu asam. Ada dua macam Agnihotra yaitu yang dilakukan secara rutin (konstan) umumnya 2 kali sehari pagi dan sore (nitya atau nityakāla) dan Agnihotra yang dilakukan secara insidental (kāmya atau naimitikakāla). Secara umum semua yadnya dalam Veda mempunyai arti sama yaitu agnihotra. Sebab pengertian yadnya dalam Veda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci. Api suci yang dimaksud adalah api yang dihidupkan dan dikobarkan dalam kunda. Kunda adalah lambang pengorbanan).
  1. Dewa Yadnya, adalah yadnya yang dipersembahkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa beserta seluruh manifestasinya. Dalam cerita Ramayana banyak terurai hakikat dewa yadnya dalam perjalanan kisahnya. Seperti pelaksanaan Homa Yadnya (agnihotra) yang dilaksanakan oleh prabu Dasaratha. Upacara ini dimaknai sebagai upaya penyucian melalui perantara dewa agni. Jika istadewatanya bukan dewa agni, sesuai dengan tujuan yajamana, maka upacara ini dinamai homa yadnya. Istilah lainnya Hawana dan Huta mengingat para dewa diyakini sebagai penghuni svahloka, maka sudah selayaknya yadnya yang dilakukan umat manusia melibatkan sirkulasi langit dan bumi.
  2. Pitra Yadnya, upacara ini bertujuan untuk menghormati dan memuja leluhur. Kata pitra bersinonim dengan Pita yang artinya ayah atau dalam pengertian yang lebih luas yaitu orang tua. Sebagai umat manusia yang beradab, hendaknya selalu berbakti kepada orang tua, karena menurut agama hindu hal ini adalah salah satu bentuk yadnya yang utama. Betapa durhakanya seseorang apabila berani dan tidak bisa menunjukkan rasa baktinya kepada orang tua sebagai pitra. Seperti dalam Ramayana, dimana Sri Rama sebagai tokoh utama dengan segenap kebijaksanaan, kepintaran dan kegagahan tetap menunjukkan rasa bhakti yang tinggi terhadap orang tuanya. Dari kutipan lontar tersebut tampak jelas nilai pitra yadnya yang termuat dalam epos Ramayana demi memenuhi janji orang tuanya (Raja Dasaratha), sri rama Laksmana dan dewi Sita mau menerima perintah dari sang Raja Dsaratha untuk pergi hidup di hutan meninggalkan kekuasaannya sebagai raja di Ayodhya. Walaupun itu bukan merupakan keinginan Raja Dasaratha dan hanya sebagai bentuk janji seorang raja terhadap istrinya Dewi Kaikeyi, Sri Rama secara tulus dan ikhlas menjalankan perintah orang tuanya tersebut. Bersana istri dan adiknya Laksmana hidup mengembara di hutan selama bertahun-tahun. Betapa kuat , pintar dan gagahnya sorang anak hendaknya selalu mampu menunjukkan sujud baktinya kepada orang tua atas jasnya telah memelihara dan menghidupi anak tersebut.
  3. Manusa Yadnya, dalam rumusan kitab suci veda dan sastra Hindu lainnya, Manusa Yadnya atau Nara Yadnya itu adalah memberi makan pada masyarakat (maweh apangan ring Kraman) dan melayani tamu dalam upacara (athiti puja). Namun dalam penerapannya di Bali, upacara Manusa yadnya tergolong sarira samskara. Inti sarira samskara adalah peningkatan kualitas manusia. Manusa yadnya di Bali dilakukan sejak bayi masih berada dalam kandungan upacara pawiwahan atau upacara perkawinan. Pada cerita Ramayana juga tampak jelas bagaimana nilai Manusa Yadnya yang termuat di dalam uraian kisahnya. Hal ini dapat dilihat pada kisah yang menceritakan Sri Rama mempersunting Dewi Sita.
  4. Rsi Yadnya, adalah menghormati dan memuja Rsi atau pendeta. Dalam lontar Agastya Parwa disebutkan, Rsi Yadnya ngaranya kapujan ring pandeta sang wruh ring kalingganing dadi wang, artinya Rsi yadnya adalah berbakti pada pendeta dan pada orang yang tahu hakikat diri menjadi manusia. Dengan demikian melayani pendeta sehari-hari maupun saat-saat beliau memimpin upacara tergolong Rsi Yadnya. Pada kisah Ramayana, nilai-nilai Rsi Yadnya dapat dijumpai pada beberapa bagian dimana para tokoh dalam alur ceritanya sangat menghormati para Rsi sebagai pemimpin keagamaan, penasehat kerajaan, dan guru kerohanian.
  5. Bhuta Yadnya, upacara ini lebih diarahkan pada tujuan untuk nyomia butha kala atau berbagai kekuatan negative yang dipandang dapat mengganggu kehidupan manusia. Bhuta yadnya pada hakikatnya bertujuan untuk mewujudkan butha kala menjadi butha hita. Butha hita artinya menyejahterakan dan melestarikan alam lingkungan (sarwaprani) upacara butha yadnya yang lebih cenderung untuk nyomia atau mendamaikan atau menetralisir kekuatan-kekuatan negative agar tidak mengganggu kehidupan umat manusia dan bahkan diharapkan membantu umat manusia. Nilai-nilai bhuta yadnya juga Nampak jelas pada uraian kisah kisah Ramayana, hal ini dapat dilihat pada pelaksanaan Homa Yadnya sebagai yadnya yang utama juga diiringi dengan ritual Bhuta Yadnya untuk menetralisir kekuatan negative sehingga alam lingkungan menjadi sejahtera.
Demikianlah nilai-nilai yang terdapat dalam kisah Ramayana yang dapat kita gunakan sebagai referensi dalam kehidupan beragama di dunia ini.

Sunday, May 6, 2018

Nyāya Darśana


Memahami Konsep Nyāya Darśana

Pendiri dan Sumber Ajaran

Ladang Informasi - Pendiri ajaran ini adalah ṛṣi Gautaman juga dikenal dengan nama Akṣapāda dan Dīrghatapas, yang menulis Nyāyaśāstra atau Nyāya Darśana yang secara umum juga dikenal sebagai Tarka Vāda atau diskusi dan perdebatan tentang suatu Darśana atau pandangan filsafat kurang lebih pada abad ke-4 SM, karena Nyāya mengandung Tarka Vāda (ilmu perdebatan) dan Vāda-vidyā (ilmu diskusi). Sistem filsafat Nyāya membicarakan bagian umum darśana (filsafat) dan metoda (cara) untuk melakukan pengamatan yang kritis. Sistem ini timbul karena adanya pembicaraan yang dilakukan oleh para ṛṣi atau pemikir, dalam usaha mereka mencari arti yang benar dari ayat-ayat atau śloka-śloka Veda Śruti, guṇa  dipakai dalam penyelenggaraan upacara-upacara yadña. Terdiri dari dari 5 Adhyāya (bab) dan dibagi kedalam 5 'pada' (bagian). Pada tahun (400 Masehi kitab Nyāyaśāstra ini di komentari` oleh ṛṣi Vāstsyāna dengan karyanya yang berjudul Nyāya Bhāsya (ulasan tentang Nyāya).
Memahami Konsep Nyāya Darśana 
Obyek utmanya adalah untuk menetapkan dengan cara perdebatan, bahwa Parameśvara merupakan pencipta dari alam semesta ini. Nyāya menegakkan keberadaan Īśvara dengan cara penyimpulan, sehingga dikatakan bahwa Nyāya Darśana merupakan sebuah śāstra atau ilmu pengetahuan yang merupakan alat utama untuk meyakini suatu obyek dengan penyimpulan yang tidak dapat dihindari. Dalam hal ini kita harus mau menerima pembantahan macam apapun, tetapi asalkan berdasarkan pada otoritas yang dapat diterima akal. Pembantahan demi untuk adu argumentasi dan bukan bersifat lidah atau berdalih.

Sifat Ajaran

Pandangan filsafat Nyāya menyatakan bahwa dunia di luar manusia ini, terlepas dari pikiran. Kita dapat memiliki pengetahuan tentang dunia ini dengan melalui pikiran yang dibantu oleh indra. Oleh karena itu sistem filsafat Nyāya ini dapat disebut sebagai sistem yang realistis (nyata). Pengetahuan ini dapat disebut benar atau salah, tergantung dari pada alat-alat yang diperguṇa kan untuk mendapatkan pengetahuan tersebut, dimana secara sistematik semua pengetahuan menyatakan 4 keadaan, yaitu :
  1. Subyek atau si pengamat (pramātā)
  2. Obyek yang di amati (prameya)
  3. Keadaan hasil dari pengamatan (pramīti)
  4. Cara untuk mengamati atau pengamatan (pramāṇa)


Prameya atau obyek yang di amati, dengan nama pengetahuan yang benar dapat diperoleh, ada 12 banyaknya, yaitu : Roh (Ātman), Badan (śarīra), Indriya, Obyek indriya (artha), kecerdasan (buddhi), Pikiran (manas), Kegiatan (pravṛtti), Kesalahan (Doṣa), Perpindahan (Pretyabhāva), Buah atau Hasil (phala), Penderitaan (duhkha), dan Pembebasan (apavarga).


Kita membuat perbedaan pada suatu benda karena adanya beberapa cirri-ciri pada kedua benda tersebut, yang masing-masing memiliki beberapa atribut yang tak didapati pada bagian lainnya. Karena kekhususan atribut (Viśeṣa) merupakan dasar utama dari pengamatan, maka sistem lanjutan dari filsafat ini disebut sebagai Vaiśeṣika. Nyāya Darśana, yang utamanya bertindak pada garis ilmu pengetahuan atau ilmiah menghubungkan Vaiśeṣika pada tahapan, di mana materi-materi adhyatmikā (spiritual) terkandung di dalamnya, yang keduanya ini memperguṇa kan Tarka (logika) dan Tattva (filsafat) dimana filsafat dinyatakan melalui media logika.

Catur Pramāṇa

Nyāya Darśana dalam memecahkan ilmu pengetahuan memperguṇa kan 4 metoda pemecahan (Catur Pramāṇa) sebagai berikut :

Pratyakṣa Pramāṇa

Pada Pratyakṣa Pramāṇa atau pengamatan secara langsung memberikan pengetahuan kepada kita tentang obyek-obyek menurut keadaanya masing-masing yang disebabkan hubungan panca indra dengan obyek yang di amati dimana hubungan itu sangat nyata. Adakalanya terjadi pengamatan yang tidak perlu mengguṇa kan pañca indra dan pengamatan yang luar biasa ini disebut sebagai pengamatan transcendental, yang jarang terjadi pada pengamatan orang-orang biasa yang sering pula ditunjang oleh adanya kekuatan supra normal yang dimiliki seorang.

Dalam Pratyakṣa Pramāṇa ada dua tingkat pengamatan, yaitu :
  • Nirvikalpa yaitu pengamatan yang tidak menentukan. Pengamatan suatu obyek adalah sebagai obyek saja tanpa adanya suatu penilaian, tanpa hubungan (asosiasi) dengan suatu subyek. Sehingga apa yang dilihat hanyalah obyek itu saja yang dianggap benar dan nyata.
  • Savikalpa yaitu pengamatan yang menentukan. Pengamatan terhadap suatu obyek yang dibarengi dengan pengenalan terhadap cirri-ciri, sifat-sifat dan juga subyeknya sehingga pengamatan ini sifatnya menyeluruh.


Anumāna Pramāṇa

Anumāna Pramāṇa yaitu pengtahuan yang diperoleh dari suatu obyek dengan menarik pengertian dari tanda-tanda yang diperoleh (linga) yang merupakan suatu kesimpulan dari obyek yang ditetukan, disebut juga Ṣaḍya, hubungan kedua hal tersebut diatas disebut dengan nama Wyapi. Dalam menarik suatu kesimpulan.

Selanjutnya .Anumāna Pramāṇa, yang sangat penting dalam suatu proses pengamatan dalam Nyāya Darśana ini. Dalam pengamatan dengan .Anumāna Pramāṇa terdapat suatu perantara di antara subyek dan obyek, di mana pengamatan langsung dengan indra saja tidak dapat secaralangsung menyimpulkan hasil dari pengamatan, tetapi melalui beberapa tahapan (avayaya). Proses penyimpulan dalam Anumāna Pramāṇa melalui beberapa tahapan seperti di bawah ini :
  • Pratijña, yaitu proses pertama, memperkenalkan obyek permasalahan tentang kebenaran pengamatan misalnya gunung api itu berapi.
  • Hetu, yaitu proses kedua, alasan penyimpulan, dimana dalam hal ini adalah adanya terlihat asap yang keluar dari gunung tersebut.
  • Udāharaṇa, yaitu proses ketiga, menghubungkan dengan aturan umum tentang suatu masalah, yang dalam hal ini adalah bahwa segala yang berasap tentu ada apinya.
  • Upanaya, yaitu proses keempat, pemakaian aturan umum itu pada kenyataan yang dilihat, bahwa jelas gunung itu berapi.
  • Nigaman, yaitu proses kelima, berupa penyimpulan yang benar dan pasti dari seluruh proses sebelumnya, dengan pernyataan bahwa gunung tersebut berapi.

Upamāṇa Pramāṇa

Upamāṇa Pramāṇa merupakan cara pengamatan dengan membandingkan kesamaan-kesamaan yang mungkin terjadi atau terjadi di dalam obyek yang di amati dengan obyek yang sudah ada atau pernah diketahui. Misalnya seorang anak yang diberitahu ibunya bahwa binatang yang namanya komodo itu rupanya mirip dengan biawak tetapi lebih besar, bahkan bisa sebesar seekor buaya. Dalam hal ini si anak telah mengetahui rupa buaya dan biawak, maka ketika si anak pergi ke kebun binatang dan melihat seekor binatang sebesar buaya yang rupanya mirip dengan biawak, ia segera menyimpulkan bahwa binatang tersebut adalah komodo, inilah yang disebut dengan Upamāṇa Pramāṇa.

Śabda Pramāṇa 

Śabda Pramāṇa yaitu pengetahuan yang diperoleh dengan mendengarkan melalui penjelasan dari sumber yang patut dipercaya. Śabda Pramāṇa adalah pengetahuan yang diperoleh melalui kesaksian (śabda) dari seseorang yang dapat dipercaya kata-katanya ataupun dari naskah yang diakui kebenarannya, dalam hal ini terdapat 2 jenis kesaksian, yaitu :
  1. Laukika śabda, yaitu bentuk kesaksian yang berasal dari orang yang dapat dipercaya dan kesaksiannya dapat diterima menurut logika atau akal sehat.
  2. Vaidika śabda, yaitu bentuk kesaksian yang didasari pada naskah-naskah suci Veda Śruti, yang merupakan sabda Brahman yang tak mungkin salah.

Pokok-Pokok Ajaran Nyāya

Objek pengetahuan filsafat Nyāya adalah mengenai
1) Ātma
2) Tentang tubuh atau badan
3) Pañca indra dengan obyeknya
4) Buddhi (pengamatan)
5) Manas (pikiran)
6) Pravṛtti (aktivitas)
7) Doṣa (perbuatan yang tidak baik)
8) Pratyabhāva (tentang kelahiran kembali)
9) Phala (buah perbuatan)
10)Duḥka (penderitaan)
11)Apavarga (bebas dari penderitaan)
        
Disamping oleh ṛṣi Vāstsyāna yang mengomentari Nyāya Sūtra dengan karyanya yang berjudul Nyāya Bhāsya, Śrikaṇṭha menulis Nyāya-laṇkara, Jayanta menulis Nyāya-mañjari, Govardhana menulis Nyāya-Bhodhini dan Vācaspati Miśra menulis Nyāya-Varṭṭika-Tatparya-Tīkā. Selain itu Udayana juga menulis sebuah buku yang disebut Nyāya-Kusumāñjali. Seperti yang telah diketahui bahwa filsafat Nyāya merupakan dasar dari semua pengantaran ajaran filsafat Sanskṛta. Nyāya juga merupakan rangkaian pendahuluan bagi seorang pelajar filsafat, karena tanpa pengetahuan tentang filsafat Nyāya, kita tidak akan dapat memahami Brahma Sūtra dari Śri VyāṢaḍeva, karena filsafat Nyāya membantu untuk mengembangkan daya penalaran ataupun pembantahan, yang membuat kecerdasan bertambah tajam dan lembut, guṇa  pencarian filsafat Vedāntik.

Monday, December 1, 2014

Pentingnya Melukat

Melukat

Lukat atau ruwatan
Ladang Informasi - Kata Melukat adalah berasal dari bahasa jawa kuno yaitu lukat yang artinya bersih, melukat yang simpel bisa kita laksanakan pada mata air/aliran sungai di laut atau pertemuan laut dan sungai kalau di bali biasanya dekat pura segara atau di beji. Jika ada pemangku akan lebih gampang, bilang saja sama mangkunya ingin melukat karena ada beberapa pura yang melukatnya dilakukan oleh pemangku langsung. Kalau sendiri sangat mudah sekali sembahnyang dulu di dekat mata air atau aliran air itu mohon pensucian agar air tersebut diberi daya kekuatan untuk membersihkan sarira kita.

Setelah itu jika waktu sembahyang tadi mengahturkan air percikan air tersebut ke air yang mau kita gunakan untuk melukat/mandi. Setelah selesai lakukan muspa/sembahyang lagi.

Juga dijelaskan dalam adat dan budaya, melukat bertujuan untuk :
Pembersihan pikiran dan jiwa secara spiritual dalam diri manusia yang dilaksanakan pada hari baik (dewasa ayu) sebagai tradisi yang sudah dilakukan oleh umat Hindu di Bali secara turun temurun dan masih terus dilakukan sampai saat ini.

Adapun makna dari upacara Melukat ini, dalam setiap diri manusia mempunyai sifat buruk dan kotor, jadi sifat itu yang harus disucikan dan dibersihkan kembali.

Ada berbagai cerita kenapa upacara melukat ini dilakukan:
  1. Kisah Dewi Uma yang dikutuk dan menjelma menjadi mahluk menyeramkan, ditempatkan di setra gandamayu dan diberi nama Ra Nini, lalu muncul Batara Guru yang menyusup ke dalam diri Sadewa untuk menyucikan Ra Nini, dan mengembalikan Dewi Uma dalam wujudnya semula. Kemudian Dewi Uma mengajarkan cara membersihkan segala noda dan kejahatan.
  2. Kisah Bima saat diutus Drona/Dorna  untuk mendapatkan air suci, lalu taktik Duryodana untuk menjebak Bima namun Bima justru bertemu dengan Mahadewa dalam wujud anak kecil yang menuturkan kerahasiaan air suci atau kesucian sebuah tirtaitu.
  3. Kisah Meng Bekung yang menemukan telor raksasa saat dia pergi kehutan lalu di bawa pulang ke rumah, saat direbus untuk dijadikan lauk, telur tersebut menetas bukannya matang/masak dari telur yang menetas itu keluar seorang  manusia berbadan setengah ular, lengkap dengan sisiknya ternyata telor raksasa tersebut adalah perujudan rasa malu Sang Hyang Siwa dan Dewi Uma, yang melakukan hubungan asmara di langit, untuk menutupi rasa malu akibat perbuatan mereka keduanya menjelma menjadi ular bermahkota dan meninggalkan sebutir telur. Saat terjadi petaka/musibah dikerajaan tempat Meng Bekung berasal dan sudah tidak dapat diatasi dengan cara apapun lalu seorang Rsi mendapatkan wangsit untuk melakukan persembahan dan korban tersebut adalah  manusia setengah ular, atas perintah dari Rsi tubuh manusia ular tersebut dipotong-potong  untuk di jadikan ‘caru’ (korban), lalu potongan tubuh itu dibuang ke berbagai penjuru arah mata angin. Usai melakukan upacara itu tiba-tiba Sang Hyang Siwa muncul dan mengembalikan wujud manusia setengah ular itu menjadi utuh yang menjelma menjadi lelaki tampan dan kemudian memberi petunjuk mengenai prinsip pecaruan jagat. Dari kisah ini lalu muncul nama daun sudamala, daun pohon yang terkena noda darah dari manusia ular saat potongan tubuhnya dilempar ke berbagai arah mata angin, lalu kain sudamala yaitu kain Bali yang digunakan sebagai alas saat tubuh manusia setengah ular dipotong potong, kemudian pisau yang digunakan untuk memotong manusia ular itu dikenal dengan sebutan tiuk sudamala. Daun, Kain sampai tiuk (pisau) sudamala hingga kini menjadi perlengkapan wajib saat ruwatan jagat, pecaruan agung, dan upacara pelukatan.

Dalam upacara Melukat dipersembahkan beberapa sesajen, seperti : prascita dan bayuan. Sementara proses pelukatan bisa dilakukan di : griya, pantai, tempat pemujaan di rumah. Adapun Proses upacara ini :
  1. Upacara dipimpin oleh seorang Pemangku, kemudian sesajen yang telah disiapkan diberikan mantra-mantra.
  2. Orang yang akan yang akan di upacarai terlebih dahulu di mantrai oleh pemangku.
  3. Setelah Proses pemantraan selesai orang yang diupacarai tersebut percikan/disiram dilukat (dibersihkan) dengan air buah kelapa gading. (buah kelapa gading untuk upacara ini, diambil yang masih muda dan baru berisi air saja).
  4. Setelah mandi air kelapa gading, alangkah baiknya juga yang bersangkutan melakukan ritual mandi tempat yang mengandung mata air atau air alami seperti laut, danau, sungai atau tempat tempat pemandian yang diyakini bisa membawa berkah juga dapat membersihkan diri baik lahir maupun batin.

Dengan upacara Melukat ini, umat Hindu di Bali percaya dan mengharapkan seluruh hal hal yang bersifat kotor atau negatif terutama yang berada dalam diri dan pikiran, agar kembali bersih, suci dan  berisikan hal-hal yang positif untuk melanjutkan kehidupan di masa yang akan datang.

Melukat menyucikan diri, ketenangan jiwa, pikiran dan kedamaian hati adalah hal yang paling dicari oleh seluruh umat manusia di muka dunia ini. Namun bila semua itu tidak didasari dengan keyakinan  bahwa Tuhan yang Maha Esa yang memberikannya maka tidak berarti apa apa.

Upacara Melukat ini sering laksanakan secara beramai ramai, baik oleh sekolah, jawatan, pemerintahan atau pun masyarakat setempat dan diadakan ditempat tempat bersejarah, pura pura, tempat pemandian, laut atau pantai yang ada di Bali, dan merupakan kegiatan wisata adat yang banyak menarik minat wisatawan lokal maupun manca negara untuk menyaksikannya.

Dalam upacara mewinten, melukat juga dilakukan untuk pembersihan diri dari yang akan diwinten dengan sarana air kelapa muda (klungah) yang telah dijadikan Tirtha oleh pendeta / pinandita melalui doa, puja dan mantra weda. Selanjutnya dipercikkan ke ubun-ubun dan badan.
Sebagai informasi tambahan dalam hal terkait tirta yatra penglukatan ini dapat diberikan sebagai berikut :
  1. Beberapa Tempat Suci di Bali untuk mengadakan tirta yatra melukat.
  2. Tata Cara dan Faktor yang patut diperhatikan dalam upacara melukat
  3. Mantra tirtha melukat disebutkan dapat diucapkan sebagai berikut :
Om Salilam wirnalem toyem, toyem tirthasya bajanam Subhiksa ya samataya, dewanam lisana-sanam.

Makurah, nginum, meraup (sebanyak tiga kali), mantra;
Om Pawitram gangga tirthaya, mahabhuta mahodadi Bajra prani maha tirtham, papasanam kalinadem.

Sunday, November 23, 2014

Akhir Hidup Raja Anga Karna

Kematian Raja Anga Karna

Karna
Setelah Drona gugur pada hari kelima belas, Duryodana menunjuk Karna sebagai panglima yang baru. Karna maju perang dengan Salya raja Madra sebagai kusir keretanya, dengan harapan bisa mengimbangi Arjuna yang dikusiri Kresna. Salya sendiri sakit hati karena merasa direndahkan oleh Karna. Sambil mengemudikan kereta ia gencar memuji-muji kesaktian Arjuna untuk menakut-nakuti Karna.
Pada hari keenam belas, Karna berhasil mengalahkan Yudistira, Bima, Nakula, dan Sadewa, namun tidak sampai membunuh mereka sesuai janjinya di hadapan Kunti dulu. Karna kemudian bertanding melawan Arjuna. Keduanya saling berusaha membunuh satu sama lain. Ketika Karna mengincar leher Arjuna menggunakan panah Nagasatra, diam-diam Salya memberi isyarat pada Kresna. Kresna pun menggerakkan keretanya sehingga panah pusaka tersebut meleset hanya mengenai mahkota Arjuna. Pertempuran tersebut akhirnya tertunda oleh terbenamnya matahari.
Pada hari ketujuh belas, perang tanding antara Karna dan Arjuna dilanjutkan kembali. Setelah bertempur dalam waktu yang cukup lama, kutukan atas diri Karna pun menjadi kenyataan. Ketika Arjuna membidiknya menggunakan panah Pasupati, salah satu roda keretanya terperosok ke dalam lumpur sampai terbenam setengahnya. Karna tidak peduli, ia pun membaca mantra untuk mengerahkan kesaktiannya mengimbangi Pasupati. Namun, kutukan kedua juga menjadi kenyataan. Karna tiba-tiba lupa terhadap semua ilmu yang pernah ia pelajari dari Parasurama. Karna meminta Arjuna untuk menahan diri sementara ia turun untuk mendorong keretanya agar kembali berjalan normal. 
Pada saat itulah Kresna mendesak agar Arjuna segera membunuh Karna karena ini adalah kesempatan terbaik. Arjuna ragu-ragu karena saat itu Karna sedang lengah dan berada di bawah. Kresna mengingatkan Arjuna bahwa Karna sebelumnya juga berlaku curang karena ikut mengeroyok Abimanyu sampai mati pada hari ketiga belas. Teringat pada kematian putranya yang tragis tersebut, Arjuna pun melepaskan panah Pasupati yang melesat memenggal kepala Karna. Karna pun tewas seketika

Saturday, November 22, 2014

Sejarah Taj Mahal

Sejarah Cinta Jodha Akbar

Jodha Akbar
Mariam-uz-Zamani, juga dikenal sebagai Heer Kunwari, Jodha Bai, Hira Kunwari atau Harka Bai, (1 Oktober 1542 - 19 Mei 1623) adalah seorang Ratu dari Kekaisaran Mughal. Dia adalah seorang Rajput, istri ketiga dari Kaisar Akbar, dan ibu dari Kaisar Mughal berikutnya, Jahangir. Dia juga nenek dari Kaisar Syah Jahan. 

Mariam-Uz-Zamani disebut sebagai Ibu Ratu dari Hindustan, selama pemerintahan Mughal Agung, Kaisar Akbar. Dia paling lama menjabat sebagai Ratu yang beragama Hindu di Mughal. Masa jabatannya, dari 6 Februari 1562 sampai 27 Oktober 1605, lebih dari 43 tahun. 

Pernikahannya dengan Akbar menyebabkan terjadinya pergeseran secara bertahap dalam kebijakan keagamaan dan sosial di India. Pernikahan Akbar dengan Rajkumari Heer Kunwari adalah peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Mughal. Dia secara luas diakui dalam historiografi India modern sebagai contoh dari toleransi di Mughal yaitu tentang perbedaan agama dan kebijakan inklusif mereka dalam memperluas kerajaan multi-etnis dan multi-denominasi.

Heer Kunwari lahir dari seorang putri Rajput (Rajkumari) dan merupakan putri sulung dari Raja Bharmal, dari Amer (Jaipur Modern). Dia adalah cucu dari Raja Amer Singh I. Rajkumari Heer Kunwari juga adik dari Raja Bhagwan Das, yang kemudian menjadi salah satu dari Sembilan Jewels/Permata (navaratnas) di Pengadilan Akbar.

Perkawinan

Dalam pernikahan yang bermotifkan politik, Heer Kunwari menikah dengan Akbar pada 6 Februari 1562 di Sambhar dekat Jaipur, Rajasthan, India. Heer Kunwari menjadi istri ketiga Akbar setelah Ruqaiya Sultan Begum, istri Akbar pertama dan Salima Sultan Begum, janda Pamannya, Bairam Khan. Jodha, sebagai ibu dari pewaris, jelas lebih diutamakan daripada semua istri lainnya Raja Akbar. 

Meskipun dia seorang Hindu, Heer Kunwari dihormati dengan nama Mariam-uz-Zamani (Ibu Sepanjang Masa) setelah ia melahirkan Jahangir. Meskipun dia menjadi seorang istri yang non-Muslim, ia mendapat kehormatan yang besar dalam kerajaan Islam Mughal. 

Pada awal 1569, Akbar sangat bahagia mendapat berita jika istrinya Heer Kunwari hamil, sesuai dengan ramalan Sheikh Salim Chisti, orang suci terkenal yang tinggal di Sikri. Selama hamil Heer dikirim ke tempat tinggal Sheikh Sikri untuk keamanan dan kesehatannya. Pada 30 Agustus 1569, anak itu lahir dan diberi nama Salim.

Selain gelarnya, Jodha atau Mariam-uz-Zamani, juga memegang gelar Wali Nimat Begum yang secara harfiah berarti Karunia Allah. Dia memegang gelar ini sepanjang hidupnya.

Pernikahan Akbar dengan Heer Kunwari menghasilkan pengaruh penting pada pada kehidupan pribadinya dalam mengeluarkan kebijaksanaan publik. 

Kebiasaan penguasa Hindu menawarkan anak perempuan mereka untuk menikah dengan penguasa Muslim, meskipun tidak umum, sudah lazim di negara itu selama beberapa abad. Namun pernikahan Akbar dengan putri Amber / Amer secara merupakan indikasi awal kebijakannya berkembangnya eklektisisme agama. Pernikahan dengan putri Amer memperoleh dukungan kuat dari keluarganya selama masa pemerintahannya, dan memberikan bukti nyata pada seluruh dunia bahwa Akbar telah memutuskan untuk menjadi Pemersatu seluruh rakyatnya yaitu Hindu dan Muslim. 

Akbar juga menikahi putri Rajput lainnya. Yang membuat para raja memiliki banyak keuntungan dari keluarga kerajaan Mughal tersebut. 

Keponakan Jodha, Manbhawati Bai atau Manmati bai, putri kakaknya Bhagwan Das, menikah dengan Pangeran Salim pada 13 Februari 1585. Man bai kemudian menjadi ibu Pangeran Khusrau Mirza dan dianugerahi gelar Shah Begum oleh Jahangir. 

Jahangir memberi hormat kepada ibunya dengan menyentuh kakinya. Dia mencatat kasus ini dengan rasa bangga. Referensi untuk ibunya didahului oleh julukan 'Hazrat', yang biasanya diperuntukkan bagi Yang Mulia sendiri. Cara ini menunjukkan betapa hormat dan cintanya kepada ibunya, Mariam-uz-Zamani. Sejumlah pernikahan terjadi di rumah tangga Mariam-uz-Zamani seperti pernikahan Jahangir untuk putri Jagat Singh, dan pernikahan Shehzada Parviz untuk putri Sultan Murad Mirza. 

Agama 

Akbar membiarkan Hindu berkembang dan juga membiarkan istrinya untuk melakukan ritual Hindu di istana kerajaan. Walau bertentangan dengan praktek yang biasa dilakukan Sultan, Akbar tidak memaksa Jodha untuk pindah agama, dan mendirikan sebuah kuil Hindu di istana kerajaan. Dia sendiri juga berpartisipasi dalam acara puja yang biasa dilakukan istrinya. Jodha adalah seorang pemuja Dewa Krishna. Sehingga istananya dihiasi dengan banyak lukisan Dewa Krishna.

Hubungan Kekerabatan

Hubungan persahabatan Akbar dengan Rajput dimulai setelah pernikahannya dengan Heer Kunwari. Ini adalah langkah penting yang sangat mempengaruhi kebijakan masa depannya.
Akbar memanggil Raja Man ​​Singh I, keponakan dari Heer Kunwari dan anak Raja Bhagwan Das dari Amer, pewaris tahta Raja Bharmal, dia membawanya ke istana dan menjadi bagian dari kekaisaran, dengan memberinya kantor, Raja Bhagwan Das juga terdaftar diistananya. 

Raja-raja dari Amer diuntungkan dari hubungan dekat mereka dengan Mughal, dengan memperoleh kekayaan dan kekuatan besar. Dari dua puluh tujuh Rajput dalam daftar Abu'l-Fazl dari mansabdars, tiga belas adalah klan Amer, dan beberapa dari mereka naik ke posisi tinggi menjadi pangeran kerajaan. Raja Bhagwan Das, misalnya, menjadi komandan 5000, posisi tertinggi yang tersedia pada saat itu, dan menyandang gelar Amir-ul-Umara (Chief Noble). Putranya, Man Singh I, mendapat posisi lebih tinggi menjadi komandan 7000. Pernikahan ini dengan demikian, menguntungkan kedua Mughal dan Kachwaha Rajput dari Amer. 

Akbar juga mengizinkan salah seorang putranya, Pangeran Daniyal, untuk dibawa oleh istri Raja Bharmal di Amer, sebagai tanda kehormatan bagi keluarga raja itu. 
Politik dan kekuasaan 

Semasa berkuasa, Mariam uz-Zamani dilaporkan menjadi wanita bisnis yang sangat cerdas, yang aktif dalam menjalankan perdagangan internasional seperti rempah-rempah, sutra, dll. dengan demikian, dia mengumpulkan banyak kekayaan. Dia adalah salah satu pedagang wanita paling luar biasa di kerajaan Mughal.

Mariam Zamani memiliki kapal yang membawa peziarah ke dan dari kota suci Islam Mekkah. Pada 1613, kapal-nya, Rahimi ditangkap oleh bajak laut Portugis bersama dengan 600-700 penumpang beserta muatannya. Kapal Rahimi merupakan kapal layar yang terbesar India yang berlayar di Laut Merah dan dikenal orang Eropa sebagai "kapal ziarah besar". Ketika Portugis secara resmi menolak untuk mengembalikan kapal dan penumpang, protes di pengadilan Moghul cukup luar biasa parah. Kemarahan ini disebabkan oleh kenyataan bahwa pemilik dan pelindung kapal itu tidak lain adalah ibu yang sangat dihormati oleh kaisar saat itu. Anak Mariam-uz-Zamani, kaisar India Jahangir, memerintahkan penyitaan kota Portugis Daman. Episode ini dianggap menjadi contoh perjuangan untuk perebutan kekayaan yang nantinya akan terjadi dan penyebab terjadinya kolonoalisasi benua India.

Dia adalah salah satu dari empat anggota pengadilan (selain kaisar) dan satu-satunya perempuan yang memiliki 12.000 kavaleri, dan diperkenankan untuk menerima sebuah permata dari setiap bangsawan "menurut tanah miliknya" setiap tahun pada festival Tahun Baru. [Seperti beberapa perempuan lain di pengadilan Mughal, Mariam-uz-Zamani diberikan hak untuk mengeluarkan dokumen resmi (tunggal disebut farman), biasanya menjadi hak eksklusif kaisar. Penerbitan perintah tersebut terbatas pada wanita tertinggi harem seperti Hamida Banu Begum, Mariam-uz-Zamani, Nur Jehan, Mumtaz Mahal, Nadira Banu Begum dan Jahanara. Mariam Zamani, seperti Ratu Nur Jehan, Jodha menggunakan kekayaan dan pengaruhnya untuk membangun kebun, sumur, dan masjid di sekitar pedesaan.  

Kematian

Mariam uz-Zamani meninggal pada 1623. Bahkan dalam kematian, dia tetap dekat dengan suaminya. Hanya dia istri Akbar yang dimakamkan dekat dengan Akbar. Makamnya, dibangun pada tahun 1623-1627, di jalan Tantpur sekarang dikenal sebagai di Jyoti Nagar. Meskipun dia tetap seorang Hindu sepanjang hidupnya, ia dimakamkan menurut adat Islam, Makam Mariam hanya satu kilometer dari Makam Akbar yang Agung. 

Masjid Mariam Zamani Begum Sahiba dibangun oleh putranya Nuruddin Salim Jahangir untuk menghormatinya dan terletak di Walled City of Lahore, Pakistan . Ini adalah salah satu masjid paling awal di Lahore. Masjid ini juga menjadi salah satu masjid terbesar di Pakistan hari ini. 

Ironi dari Jodhabai

Ada persepsi umum bahwa istri Akbar, ibu Jahangir, juga dikenal sebagai "Jodha Bai". 
Namanya seperti dalam sejarah Mughal adalah Mariam-uz-Zamani. Tuzk-e-Jahangiri, otobiografi Jahangir, tidak menyebutkan Jodha Bai atau Harka Bai atau Heer Kunwari. Di dalamnya, dia disebut sebagai Mariam-uz-Zamani. Baik Akbarnama (biografi Akbar ditugaskan oleh Akbar sendiri), maupun teks sejarah dari periode merujuk padanya sebagai Jodha Bai. 

Menurut Profesor Shirin Moosvi, seorang sejarawan dari Universitas Aligarh Muslim, nama "Jodha Bai" pertama kali digunakan untuk merujuk kepada istri Akbar pada abad ke-18 dan ke-19 dalam tulisan-tulisan sejarah. Menurut sejarawan Imtiaz Ahmad, direktur Perpustakaan Umum Khuda Baksh Oriental di Patna, itu Letnan Kolonel James Tod yang pertama kali disebutkan dalam Annals Jodhabai bukunya dan Purbakala dari Rajasthan. 

"Di Akbarnama, ada yang menyebut Akbar menikah dengan putri Rajput dari Amer tapi namanya tidak Jodhaa," kata sejarawan dan direktur Baksh Perpustakaan Umum Oriental Khuda, Imtiaz Ahmad di Patna. Dia disebut sebagai Mariam Zamani (Maria Zaman). Ini adalah gelar, bukan nama. Lebih lanjut mengatakan bahwa Mariam Zamani adalah gelar mengacu pada wanita yang melahirkan Pangeran Salim, yang menjadi Kaisar Jehangir. Tapi nama Jodha tidak disebutkan di mana saja.

Profesor NR Farooqi, seorang sejarawan dari Allahabad Central University, menyatakan bahwa Jodha Bai bukan nama Ratu Akbar bukan itu nama istri Jahangir Taj Bibi Bilqis Makani Putri Jodhpur, yang nama aslinya adalah Jagat Gosain.